Apakah arti pertemuan?

Saling melihat wajah bertukar sapa bertukar rasa.

Lalu saling menyelipkan bahagia di hati masing-masing.

Apakah arti perpisahan?

Saling menatap wajah bertukar sapa bertukar rasa untuk lama tak bertemu.

Lalu saling menyelipkan rindu di hati masing-masing.

Dalam luapan waktu, aku berjumpa denganmu,

memandangmu jemu, sementara wajahmu lesu.

tentu saja kau lelah dan hendak menyerah,

tapi menyerah berarti mati bagimu.

Kamu,

hanya ingin hidup sehari lagi,

besok mati tak apalah walau dalam hatimu bertanya kenapa?

tapi toh, hidupmu hanya untuk hari ini, karena tak pernah mau menduga besok apa ada mentari terbit untukmu.

Perutmu,

yang berbunyian terus itu, tentu tak lagi tahan tak terisi sejak kemarin malam,

tapi, tak apalah kau pikir, toh adikmu kemarin bisa makan nasi.

Simfonimu,

tak apalah tak didengar,

tapi, aku.

Ah, aku tahu lagu yang kau bawa, itu lagu gembira, tapi, dirimu tidak.

murung wajahmu, menghayati sepanjang lagu.

aku ingin gembira, karena begitulah lagunya bicara, tapi tidak, karena wajahmu tidak.

aku turun dan mengajakmu bicara,

kau tentu mau makan, marilah kita.

Setiap suap nasi satu cerita,

sekolahmu, sepatumu, kelasmu, semua tiada,

hanya adik-adik dengan mulut menganga menanti diisi,

orang tua, ah, mereka hanya beban katamu,

karena tak ada kerja untuk umur mereka.

Dunia memang kejam katamu,

seperti merajam setiap hari pada setiap sayatan luka: lapar, dahaga, hina……

Dunia tak kejam kataku,

tapi, inilah hidup.

kita tak lagi bisa menentukan arti kebenaran,

karena semuanya telah direnggut kekuasaan.

Kau tak mengerti kau bilang,

begitulah,

hidup tak selalu untuk dimengerti,

jalani hari demi hari,

sampai habis berhenti,

Tapi,

tak seharusnya selalu begitu,

bukan?

dirimu lahap makan sampai habis lauk terakhir,

kau bilang terimakasih,

aku memuji Tuhan dan dirimu ikut.

Dirimu menyanyi dan aku menari,

menari pada hidup yang kujalani,

menyanyi untuk hidup sunyimu.

Hidupku, hidupmu, hidup kita, untuk apakah?

Ketika lajuku terhenti, menunggu dan berharap.

Atau ketika aku bergerak tak henti, memburu dan membara.

Apakah semua itu untuk hidupku?

Atau sekedar menunjukkan, aku hidup, benar-benar hidup. Menjalani semua, karena toh untuk itulah kehidupan ada. Apakah hidup seperti itu selalu berarti bagiku?

Entahlah. Aku hanya tak suka hidup. Lebih suka kehidupan. Yang bisa kujaga dan menjaga. Hidup, walau anugerah, tak selalu dapat membahagiakan. Itu semua, hanya bergantung, kemana aku mengarahkan – hidupku.

Aku ingin hidup yang singkat saja, tapi, berarti. Aku tak ingin, misalnya, menjadi tua dan kaya. Bila masih ada waktu, aku hanya ingin memberi. Sehingga, saat aku mati, tak lagi ada yang bisa kuberikan, selain jiwaku. Aku tak ingin memiliki. Karena perasaan memiliki bisa mengotori hati. Karenanya, semua yang Tuhan beri, ingin kutitipkan padaNya. Bila aku membutuhkannya, akan kupinta, jika Dia “membutuhkannya” tak akan kuambil. Jika terlanjur memiliki, ada baiknya, kucari Tuhan, untuk kutitipi, semuanya.

Aku ingin hidup sebentar saja. Terlalu lama di ladang, bisa membuatku lupa pulang. Rumahku, bukan di dunia ini, tapi, di sana, di tempat yang jauh dari pandangan, tapi, dekat di hati. Karenanya, aku selalu rindu, untuk pulang. Tentu saja, agar sampai di rumah yang diinginkan, hasil ladangku harus cukup untuk ongkosnya. Bukan itu saja, perlu juga aku kendaraan yang tepat, agar tak sesat. Dan untuk semua itu, aku hanya perlu satu Tuhan. Tuhan yang punya ladang yang kugarap, yang walau sekering apapun tanahnya, tetap bisa menumbuhkan. Lalu, aku ingin, walau ladangku hanya disiram embun pagi, menghasilkan buah yang lebat dan berarti, agar kalian semua, bisa kubagi.

Ah, kurasa, untuk segala inilah aku hidup.

Hidupmu, untuk apakah?

Aku kadang bertanya, waktu milik siapa?

Jika milikku, kenapa ia tak bisa kugunakan sekehendakku?

Misalnya saja, ketika bosan dengan hidup, aku pakai sebanyak-banyaknya, agar ia cepat berlalu. Dan ketika bahagia datang, kuulur sedikit-sedikit agar tiap detik kunikmati.

Nyatanya, dia datang dan nyelonong pergi sekehendaknya, dan tiba-tiba saja, aku ada di saat ini dan meninggalkan saat-saat itu.

Ah, mungkin waktu tuh milik matahari, yang membuat siang dan malam. Lalu kenapa dia sering datang telat? Mana mungkin pemilik waktu tidak disiplin, hari ini terbit pukul enam bulan depan enam lewat lima, mana mungkin?

Atau waktu tuh bukan milik siapa-siapa? Dia makhluk yang diciptakan tanpa pemilik – tentu saja Pencipta adalah pemilik segala, tapi bukan yang seperti ini yang kumaksudkan?

Waktu, setiap kali berjalan berkeliling berputar. Membagi-bagi rata masa. Dia juga yang menentukan, setelah lewat ukurannya tertentu, beberapa hal berubah. Dari siang ke malam dan sebaliknya. Dari biji ke kecambah, dari kecambah ke pohon kecil yang kemudian batangnya membesar dan tumbuhlah tinggi disiram mentari, semua diberi kadar masa olehnya.

Kadang dia mempercepat, kadang memperlambat. Dia hanya memberikan ukuran, kalau ukurannya sudah lewat, maka terjadilah kejadian. Kejadian yang sudah lewat, karena ukurannya sudah pas, tak lagi bisa diubah. Lalu, kita menyebutnya sejarah, sesuatu yang berlalu.

Waktu juga yang memberikan ukuran agar kehidupan berjalan teratur. Tidur di malam hari dan bekerja di siang hari. Beristirahat di hari Sabtu dan Minggu, bekerja dihari-hari lain. Turun salju di musim dingin dan siraman mentari di musim panas. Penghujan yang basah dan kemarau yang kering. Semua sudah diaturnya, datang secara bergantian, begitu teratur.

Jika waktu itu bukan milik siapa-siapa, tak perlu lah kita saling berebut waktu, karena toh, dia akan selalu membaginya secara adil. Semua, ada waktunya.

“Jadi, siapa pembantunya?”

“Tentu saja yang lebih gemuk!”

“Ah, mana mungkin? Tentu saja yang lebih kurus!“

“Eka? Tidak, tidak, Ulfah! Ulfahlah pembantunya“

“Eka, dia kurus. Itu tanda dia banyak kerja.”

”Ulfah, dia gemuk. Karena banyak kerja, banyak makannya.”

Keduanya diam sejenak. Yang satu memegang hidung dan memoles-molesnya. Satu lagi menggoyang-goyang kacamatanya.

”Baiklah, begini! Ketika aku bertamu ke rumah itu, aku disambut Eka, sang pembantu…..”

”Tidak, tidak, ketika aku datang, Eka juga menyambutku, tapi, dia majikannya, karena tak lama setelah aku duduk, dia panggil Ulfah, pembantunya.”

”Hmm, baiklah, kalau begitu, kenapa tak kalian ceritakan saja, masing-masing. Kita lihat siapa yang lebih benar ceritanya.”

Orang ketiga menengahi. Melerai dan menyolusi.

”Baiklah, aku dulu. Begini ceritanya: (more…)

Ibu,

Hatimu adalah bumi,

Yang menumbuhkanku dari benih usang, jadi tunas bermekaran.

Ibu,

Matamu adalah awan,

Yang menyimpan air dan menumpahkannya ketika kering hatiku.

Ibu,

Kabarmu adalah sunyi,

Yang derainya deritamu menungguku, untuk pergi!

Ibu,

Waktumu adalah fajar,

Yang terbit sebentar untuk membangunkanku dari malam.

waktu sepenuhnya milikmu karena detak berhenti ketika senyum merekah di

bibir,

beriku segala yang perlu untuk lupa.

mentari menjelma tubuhmu ketika pelukan hangat tenggelam di tubuhku.

gemintang menjadi matamu ketika malam hanya gelap.

rembulan menjelma wajahmu ketika raguku tenggelam dalam hangat rindu.

langit hanya seluas hatimu yang tabah dalam derita menungguku

tumbuh dan dewasa.

Hari ini bukanlah hari yang baik,

Ada mendung di langit yang turun ke hati.

Tetapi, begitulah aku.

 

Hari kemarin bukanlah hari yang baik,

Ada mentari tenggelam di timur langit yang membuat hatiku gelap.

Tetapi, itulah aku.

 

Hari-hari yang lalu bukanlah hari yang baik,

Ada ribuan cahaya tertelan malam.

Tetapi, akulah aku.

 

Hari esok belum tentu hari yang baik,

Ada kegelapan menunggu di sana.

Tetapi, hadapilah aku.

 

Hari-hari nanti mungkin bukan hari yang baik,

Ada berlapis kegelapan di sana.

Tetapi, akulah cahaya,

yang terus berpendar sampai tak lagi bersinar.

Pagi itu Clarissa akan membeli bunga, melewati toko-toko dan keramaian jalanan London. Bertemu dengan beberapa kenalan dan mengenang segala peristiwa yang lalu. Pagi itu di bulan Juni, ketika angin berhembus hangat dan cenderung panas, indah, menggelombang, seperti kekuatan yang datang dari surga. Clarissa berjumpa Hugh di jalan, seorang bangsawan, teman suaminya, Mr. Dalloway. Pertemuan dengan Hugh, mengingatkannya pada Peter, kekasihnya waktu muda. Dan kenangan tentang Peter pun menjelma nyata, ketika mereka muda dan saling jatuh cinta. (more…)

Next Page »