Lupakan saja,

Mimpi adalah bayangan yang selalu datang dengan cepat di malam-malam

sendirian.

Diriku saja,

Setiap rasa selalu menjadi biasa ketika kata jadi bisa.

Maumukah?

Lalu segala kesiaan  ini menguap bersama udara pengap yang terus

menghimpit sesak dadaku.

Akuilah,

Aku hilang tenggelam, karam dilautmu.

hilanglah,

dalam karam terbenam sampai dasar

hatiku.

Pagi ini kumulai perjalanan dengan menelepon seseorang, tentang rencana-rencana yang kami laksanakan bersama. Sementara itu matahari sudah mulai meninggi, naik seujung tombak. Aku berjalan sambil menelepon, sungguh korban teknologi. Saat berhenti – menelepon – sinar matahari semakin hangat. Pagi yang dingin menguap.

Hari yang cerah akan dimulai lagi. Matahari tak jumpa awan halangi sinarnya, maka terang benderanglah nanti siang, seperti kemarin. Yah, seperti kemarin. Ini Tubagus Ismail dan jalanan masih sepi. Angkot biru sekali lewat lalu mobil-mobil pribadi dan deru motor. Hari Minggu yang sepi.

Oh, yah, rasanya aku tak menemui nenek itu. Yang biasa berdiri di pinggir jalan dengan tatapan tajamnya. Penuh energi dan gairah hidup. Terakhir kali aku melihatnya sedang menyapu, beberapa hari yang lalu. Kali ini, aku malah melihat seorang tunawisma, tidur dengan sisi tubuh kirinya. Di sampingnya ada perapian sisa-sisa pembakaran sampah. Pagi ini sangat dingin jadi aku mengerti kenapa dia tidur di samping perapian itu, mungkin dari semalam, mungkin. Di samping tunawisma itu, berdiri lelaki berumur, berusaha membangunkannya. Aku tersenyum padanya, lalu ia bilang, tunawisma ini harus pindah, bisa terbakar ia. Aku hanya lewat dan memandang mereka sekilas, baju dekil dan kotor tunawisma itu, berapa lama dia tak mandi?

Akhirnya sampai pasar, Pasar Simpang. Tumpah ruah pedagang di mulai dari mulut jalan Tubagus Ismail. Dimulai dari pedagang sayuran dan buah, lalu bumbu dan berujang pada penjaja sarapan pagi: ketupat, martabak, gorengan dan tak lupa serabi.  Jangan lupa pedagang tahu dan tempe, yang kedelainya masih kita impor. Lalu angkot biru yang ngetem, berhenti sampai mobil penuh.

Hari ini hari Minggu, harinya koran pagi. Menikmati sajian sastra koran dan suasana liburan diberbagai belahan berita. Tak lupa komik strip yang cuma nongol tiap hari minggu. Loper koran langgananku tiap hari minggu tepat ada di persimpangan Tubagus Ismail dan Jalan Dago. Setalah membeli koran, aku berjalan di jalan raya. Terlalu lama bila harus berjalan di trotoar. Selain pedagang, harus bersesakan dengan para pembeli. Lama.

Pagi ini sungguh cerah. Di mana-mana kutemui wajah cerah, bahkan di tempat pembuangan sampah. Para pemulung mengais-ngais rezeki di tumpukan sampah, sedang petugas kebersihan berusaha memasukan semua sampah ke truk sampah, yang tentu saja berwarna kuning.

Dan inilah, selepas tempat pembuangan sampah, selalu ada permain menarik, permainan lampu merah. Ada perempatan. Pertama aku akan menyebrang jalan Dipati Ukur ke arah jalan Dago kemudian menyebrang jalan Dago. Aturannya sederhana, menyebrang saat lampu merah menyala di jalan yang akan disebrangi. Dan hari ini hari keberuntunganku. Aku menyebrang jalan Dipati Ukur ketika lampu merah ke arah Dipati Ukur masih menyala merah dan menyebrang jalan Dago tepat ketika lampunya berubah hijau. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan. Semuanya berjalan dengan begitu tepat, sesuai keinginan.

Selapas di seberang jalan Dago, lewati trotoar dan tiang-tiang pohon Damar. Seorang suami istri, yang sudah kakek nenek, bercakap dalam diam. Mereka berdua terduduk di trotoar. Saling memandang. Ah pasangan yang setia. Yang Kakek duduk sambil merokok sedang yang Nenek mencoba membetulkan kain yang tersebat dipunggungnya, mungkin berisi beberapa keping baju. Mereka tampaknya tunawisma. Tunawisma? Tidak, mereka punya rumah. Rumahnya lebih luas dari rumah kita. Terhampar begitu saja, tanpa atap dan tembok.

(bersambung dulu ah….)

Petang datang lalu cahaya terang. Kau rembulan yang purnama di hati. Terang sebagai bola besar di langit timur.

Aku di sini, di atas motor melaju kencang, memandangmu mesra. Sungguh indah cahayamu, kuning kemerahan temaram. Andai aku bawa tas, ingin kubilang, hentikan motor sebentar, kuambil kau dari langit, kumasukan ke tas, dan berbisik pelan: “Kau akan kujaga agar terus purnama.”

Berkelok-kelok jalan yang kulewati, lalu kulihat kau berpindah-pindah dari tenggara ke timur laut, tapi, tetap, selalu berada di depanku. Kupandang wajahmu dan damai hatiku. Biar itu bukan cahayamu kau tetap ayu, ah, sungguh syahdu.

Beberapa saat lalu teman sekontrakkanku bertanya, kenapa aku tak mengabari dia langsung ketika Bapakku meninggal. Saat itu kujawab, karena aku sibuk mengurusi segala prosesi pra dan pasca pemakaman.

Tapi, sesungguhnya, bukan karena itu saja. Memang benar aku sibuk. Tapi, ada alasan lain yang belum kukatakan. Pertama aku bingung, bagaimana harus aku sampaikan berita ini. Ah, aku tak pandai menyampaikan berita duka. Maka kukabari saja satu orang, yang darinya akan tersebar luaslah berita ini.

Yang kedua, ini berkaitan dengan prinsipku: I am share happiness but not share pain. Yah, aku hanya berbagi kebahagian, bukan rasa sakit. Aku tak ingin membuat orang lain sedih. Melihat wajah orang yang sedih selalu meninggalkan rasa trauma bagiku. Membuatku sakit. Karenanya, aku selalu tersenyum ketika berjumpa kawan. Tak peduli suasana hati, tak peduli ada badai di hati.

Jika sedih atau sakit hati ini, maka kubagi itu denganNya. Mengeluh atas kelemahan diri dan ketidakmampuan menahan sakit di hati. Jika harus menangis, aku ingin menangis dihadapanNya, dan tak (lagi) mau menangis dihadapan manusia.

Bukankah teman itu tempat berbagi? Bagiku, teman itu tempat berbagi kebahagian. Yang sedih, yang menyakitkan, hanya kusimpan untukku, untuk kuadukan ke Tuhanku. Hanya Allah yang memberiku rasa tenang, hanya Allah teman berbagi terbaikku. Jadi, maaf, teman. Bila aku hanya bisa berbagi kebahagian denganmu.

begitulah…

cahaya berjalan jauh tak berhenti sampai terserap jadi energi dan memancar kembali, walau redup tapi masih menerangi.

Suatu hari, ketika saya sedang membuka facebook tiba-tiba seorang teman menyapa saya. Saya menjawab sapanya. Sebelum bercerita lebih jauh, baiklah saya akan menceritakan sedikit tentang teman saya ini. Dia adalah teman SMA saya. Dulu tak sekedar teman. Saya suka dia dan saya nyatakan hal ini. Bahayanya, ternyata dia sudah lama memendam cintanya pada saya. Gayung bersambut. Tapi, kita tak boleh berpacaran saya bilang. Lalu saya katakan padanya tunggulah sampai kita siap dan semakin dewasa. Tapi karena berbagai masalah diantara kami, dia marah dan menghilang. Setelah setahun saya kuliah, barulah kami saling berkomunikasi kembali, tapi, hanya sebatas teman.

Baiklah, kembali ke saling sapa di facebook, dia masih sama, begitu posesif dan penyemburu. Kecuali setelah dia mengatakan bahwa dia sudah menikah bulan Mei yang lalu. Saya bilang alhamdulillah, semoga barokah. Sayangnya, lanjut dia, dia tak bahagia dengan pernikahannya. Dia tak mencintai suaminya. Dia menikah atas tuntutan keluarga memenuhi kewajiban bakti pada orang tua.

Saya bilang, rasa cinta kan bisa ditumbuhkan. Dia bilang tak bisa. Dia hendak meminta cerai lanjutnya, saya kaget. Dia hendak pergi jauh saja biar bisa melupakan semuanya. Saya bilang apakah hal ini sudah dia bicarakan dengan suaminya. Dia tidak menjawab. Komunikasi antara suami istri sangat penting saya lanjutkan kata-kata saya. Tapi dia tetap dengan keyakinannya untuk bercerai. Saya tegaskan lagi agar dia sebisa mungkin jangan bercerai. Lalu komunikasi kami terhenti disini.

Lalu, saya jadi membayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya berada pada posisi dia: menikah dengan orang yang tidak saya cintai? Apa saya tidak akan bahagia juga? Mungkin iya. Tapi, mungkin juga tidak. Setiap orang mempunyai parameter berbahagia yang berbeda. Bagi saya bahagia sederhana saja: berkecukupan secara lahir dan batin. Berkecukupan secara lahir lebih mudah dicari, tapi, berkecukupan secara batinlah yang kadang membuat banyak orang tak berbahagia.

Maka bila nanti istri saya mampu memberikan kecukupan batin ini, maka saya akan cukup bahagia. Soal cinta atau tidak cinta bisa saya kesampingkan terlebih dahulu. Cinta adalah urusan hati. Saat hati kita condong pada Allah, maka Allah pun akan menganugerahkan rasa cinta pada orang yang menyintaiNya.

Ketika ditanya seorang perempuan apakah aku mencintainya, segera saja timbul kebingungan dalam diriku. Apakah semua perasaan yang aku miliki pada perempuan itu adalah cinta? Lalu semuanya jadi rumit ketika ada perempuan lain yang bertanya hal yang sama. Lalu apa boleh aku mencintai mereka semua yang mencintai diriku? Walaupun pada akhirnya, aku hanya boleh memilih satu saja?

Sebuah jawaban mengejutkan tiba-tiba muncul, cintailah semua yang Allah cintai! Maka aku pun mencintai semua yang dapat dicintai, semuanya, secara setara. Mencintai jilbab-jilbab, mencintai pohon, matahari, angin, hujan, segala, setara. Maka mukaku akan berseri ketika melihat mereka, ah, aku cinta kalian, dan seperti setiap pecinta, selalu merasa bahagia ketika jumpa yang dicintanya.

Tapi, selalu saja ada yang lebih. Seperti aku lebih mencintai gerimis dibanding terik mentari, lebih mencintai pohon dibanding semak, lebih mencintai satu wanita dibanding lainnya. Dan hal ini sangat mengganggu. Jatuh cinta pada satu wanita membuat setengah akalku hilang. Hatiku bergolak, asmara, begitulah kata orang. Maka aku akan membunuhnya. Membuat semua cintaku kembali setara.

Tapi, aku tahu, Allah tak mencintai makhluk-Nya secara setara, tapi secara adil. Maka Allah memuliakan Rasulullah Muhammad dibanding Rasul-Rasul lainnya. Allah memuliakan orang mukmin atas orang-orang kafir. Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Maka aku pun mulai belajar mencintai makhluk-Nya secara berkeadilan.

Setelah merasakan semua cinta itu maka dapatlah aku melihat dengan lebih jelas. Dengan cinta seperti apa aku mencintai apa. Aku akan mencintai pohon seperti benih, bersembunyi di balik tanah lalu muncul malu-malu, menggeliat kemudian tumbuh tegak dengan sebuah senyuman. Aku akan mencintai matahari seperti api, hanya membakar apa yang bisa dibakar. Aku akan mencintai wanita seperti rahim, yang selalu terluka sampai benih tersemai didalamnya.

 Lalu tentang cinta manusia sendiri aku melihat ada beberapa jenis. Ada cinta garisah, cinta yang secara naluriah sudah ada sejak kita dilahirkan. Seperti cinta bayi pada ibu dan sebaliknya. Lalu cinta kedunian, cinta yang sangat dipengaruhi hawa nafsyu. Contohnya adalah ketika kita mencintai seseorang karena fisik (cantik, tampan, tinggi, putih, pirang, bermata biru, dll) dan tampilan luarnya (sifatnya baik, ramah, tegas, puitis, romantis, tegas, berwibawa, dll). Lalu ada cinta sanubari, cinta yang tak lagi dipengaruhi nafsyu, tapi, benar-benar lahir dari hati yang tulus, sanubari kita. Cinta keduniaan akan berubah menjadi cinta sanubari ketika kita mencintai seseorang bukan karena fisik dan tampilan luarnya, tapi, lebih karena misalnya tingkat keshalehan dan kemampuannya menentramkan jiwa kita (bukan malah membuat kita gelisah).

Lalu yang selanjutnya, cinta yang menurutku adalah cinta yang tertinggi, mahabbatullah. Cinta kepada Allah. Cinta yang terus-menerus harus dilatih sampai pada kepuasan tertinggi, fana. Semuanya tak ada, hanya Allah yang hadir dalam hati. Setelah ini tercapai, maka kita akan memandang dunia secara berbeda. Segalanya tak perlu kecuali yang Allah perintahkan. Semua nafsyu tak perlu, kecuali yang sekedar dibutuhkan. Lalu, menjelmalah cinta itu menjadi rahmatan lil alamin.

Adalah malam dan rembulan yang mengkristal yang buatku tak jemu menunggu bila beku hatiku kuharap kau tahu cintaku padamu tak terganti seperti hari-hari yang berlari mengejar mati lalu nanti saat jumpa lagi maukah janji satu kali yang lain tak pernah jua mengerti apa yang buatku pergi hanya begitulah siang mengejar mentari yang menari cahaya dalam birumu yang mendung sedih murung dan angin mengarak hijau melintas cepat melesat petir dari duka ke tua usia lalu tenggelamlah senja di ufuk timur kau terbit lalu berlarilah kejar mimpi yang tak pernah sampai kau gapai dan biar aku menunggu saja adalah malam dan rembulan yang mengkristal. (more…)

Kaulah permata yang sinar jernih matamu membuat silau mataku dan

aku jatuh hati pada merah bibir dan cahaya pancaran wajah jadi

rausyan menimpakan nur ke hatiku lalu damai dan tertambatlah aku melabuh

ke hatimu dan

inta hanya tersenyum indah maka

nyanyikanlah lagu damai di hati: inta aku cinta.

begitulah

Next Page »