Sunday, July 8th, 2007


Lelaki Akar dan Batu Biasa?

Istriku

Dan tak lagi ada manusia yang kini lebih kucinta selain istriku.

Entah apa yang akan diucapnya bila tahu aku datang lewat tangan hampa ini. Aku takut akan kecewanya. Cintanya padaku tak kuragukan, tapi aku ragu, bila ia harus kecewa untuk kesekian kali dan kesekian hari. Entahlah, Dukun Beranak kampung bilang ia hamil. Dan betapa bahagia hatinya bila inginnya dipenuhi. Suami macam apa aku?!

Pintu itu tampak betapa kokoh. Bukan karena asal kayu jatinya, tapi karena dirinya di balik pintu. Apa dia – akhirnya – harus marah atau dia menatapku dengan senyuman dimuka – seperti biasa. Terasa sangat berat untuk sekedar membuat pintu ini terbuka. Saat kusentuh punggungnya – si pintu – dan tinggal menekannya langkahku terhenti: ragu. Bagaimana hati ini akan menghadapi muka sedihnya. Bagaimana diri ini akan tetap menjadi orang yang dicinta saat mukanya berubah masam karena kecewa. (more…)

Khathir*

Kakek tua buta berjalan pelan dituntun seorang anak kecil yang membuka telapak tangannya menengadah ke atas. Kakek tua berjalan kemana anak kecil mengarah. Gemirincing receh kadang berbunyian jatuh dari tangan anak kecil.

“Apa itu, Cu ? ”

“ Uangku jatuh Kek!”

“ Oh…..”

Mereka terus berjalan sampai lelah datang. Mereka berhenti jika lelah, dimanapun itu.

Di bawah pohon tinggi dengan daun melindungi. Kadang dengan kicauan burung dan nyanyian angin semilir menghapus keringat. Kadang dengan seteguk air segarkan tenggorokan.

Di bawah bangunan kosong dengan kursi reot yang mengeluarkan bunyi-bunyi aneh khas. Dengan bunyi tikus yang ber-cit-cit. Dengan kicau burung gereja jantan berebut pasangan.

(more…)

Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.

Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.

Kau diri Putri dari negeri seribu peri.

Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.

Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.

Tentang lelucon lucu apakah tak misteri?

Apa? Yang mana?

Yang kertas putih secarik.

Aku akan menyimpannya. Mungkin nanti bisa membiarkan senyum ini mengembang setiap membacanya.

Tak kau ingin tahu siapa?

Ada saatnya nanti dia akan menampakkkan diri, kukira. (more…)

Kau putih awan tergerak angin tutupi mentari sejukan hati.

Kau lembut embun segar pagi pada hangat mentari.

Kau diri Putri dari negeri seribu peri.

Kau jatuh hati padamu aku, biar pergi diri mencari beritamu di segala penjuru.

Kertas putih penggoda itu nyaris membuatnya tertawa. Lelaki mana ini yang dengan sengaja mengirim kata yang membuat hati gembira, lelucon lucu.

Tentang lelucon lucu apakah tak misteri?

Apa? Yang mana?

Yang kertas putih secarik.

Aku akan menyimpannya. Mungkin nanti bisa membiarkan senyum ini mengembang setiap membacanya.

Tak kau ingin tahu siapa?

Ada saatnya nanti dia akan menampakkkan diri, kukira. (more…)

Waktu gelap mulai merayap, aku terkesiap, rembulan terang telah tersingkap di bumi senyap. Menatapnya sebagai rembulan adalah sebuah kepuasan. Dan dia adalah purnama hati. Menelan semua perasaan dalam satu caplokan lalu mengeluarkannya dalam satu debaran jantung yang menghentak mantap.

Dia sebenarnya gadis biasa saja. Tertawa dan menangis seperti gadis lainnya. Tapi, dia begitu berbeda ketika jumpa denganku – aku melihatnya berbeda! Seperti ada kekuatan dalam dirinya yang menyeret diriku dalam samudera kegadisannya.

Saat itu, aku ingin ketemu sejak lama dan ketika tinggal berdua aku tak lagi sanggup berkata-kata. Ada apa?

Kau?

Dia bertanya padaku. Oh…..sungguh indah. Sepatah kata yang terucap penuh merdu. Aku telah menunggu-nunggu saat ini. Aku telah menunggu-nunggu saat-saat seperti ini, sangat!

Hei, apa kau bicara?

Aku menatapnya. Dia begitu tenang. Dia menatapku. Aku sungguh gelisah. Aku takut tak bisa memberi kesan yang cukup untuk memberitahu betapa aku telah jatuh hati padanya. (more…)

Kerinduan ini untuk ibu. Rasa-rasa yang membuat hati bergetar hebat dan air mata membuncah, mengalir, basahi pipi. Tangis yang tak terhenti, bila saja tak ingat harapmu padaku yang tak terkata saat aku mengerti ucapan. Semuanya untuk ibu, sehingga salah satu ruangan di hati ini khusus untukmu. Ibu aku rindu.

Hari masih begitu pagi. Burung kecil bernyanyi sambut pagi. Aku tak mengerti kenapa harus bangun pagi. Tapi Ibu selalu bangun lebih pagi. Aku sering kehilangan pelukan mesranya dalam mimpi indahku. Setelah itu, suara tangisnya sayup terdengar. Ia selalu menangis. Untuk apa saja. Untuk bapak yang tak pernah pulang, untuk aku yang selalu nakal, untuk syukur pada-Nya atas nikmat diberi, untuk….banyak sekali. Aku tahu dia selalu menangis, karena selalu terbangun ketika dia – dengan baju putih menyeluruh tubuh – sujud di sajadah terhampar di kamar. Kadang kuhampiri dan dia memelukku erat sekali. Kadang tersenyum untuknya dan ia semakin erat memelukku, dan ia, semakin melimpah air matanya. Saat itu, tak ada yang bisa dilakukan. Tak banyak yang bisa dikatakan. Kuharap, suatu saat ada yang bisa kuucapkan, agar ia tak menangis lagi. Suatu saat ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya sekedar tersenyum. Ibu jangan menangis lagi! (more…)