Kerinduan ini untuk ibu. Rasa-rasa yang membuat hati bergetar hebat dan air mata membuncah, mengalir, basahi pipi. Tangis yang tak terhenti, bila saja tak ingat harapmu padaku yang tak terkata saat aku mengerti ucapan. Semuanya untuk ibu, sehingga salah satu ruangan di hati ini khusus untukmu. Ibu aku rindu.

Hari masih begitu pagi. Burung kecil bernyanyi sambut pagi. Aku tak mengerti kenapa harus bangun pagi. Tapi Ibu selalu bangun lebih pagi. Aku sering kehilangan pelukan mesranya dalam mimpi indahku. Setelah itu, suara tangisnya sayup terdengar. Ia selalu menangis. Untuk apa saja. Untuk bapak yang tak pernah pulang, untuk aku yang selalu nakal, untuk syukur pada-Nya atas nikmat diberi, untuk….banyak sekali. Aku tahu dia selalu menangis, karena selalu terbangun ketika dia – dengan baju putih menyeluruh tubuh – sujud di sajadah terhampar di kamar. Kadang kuhampiri dan dia memelukku erat sekali. Kadang tersenyum untuknya dan ia semakin erat memelukku, dan ia, semakin melimpah air matanya. Saat itu, tak ada yang bisa dilakukan. Tak banyak yang bisa dikatakan. Kuharap, suatu saat ada yang bisa kuucapkan, agar ia tak menangis lagi. Suatu saat ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya sekedar tersenyum. Ibu jangan menangis lagi!

Hari yang pagi. Mentari mulai menghapus fajar di ufuk timur. Ibu telat. Bahkan sangat telat. Dengan kain yang disanggul membawa nasi uduk yang berat. Di belakangnya aku menenteng sekantong besar kerupuk, berat – sebenarnya Ibu tak tega bila aku tak memaksa: aku bantu Ibu! Pokoknya aku ikut! Kau ini masih terlalu kecil untuk bantu Ibu, Nak. Dengan rengekan akhirnya Ibu menyerah. Dua kilo kami berjalan. Capek. Ibu lebih capek karena akhirnya harus menggendongku dengan kerupuk tentu. Ini yang pertama untukku, Kakakku pergi lomba ke seberang pulau.

Saat sampai, pasar tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang masih hilir mudik dan semuanya sudah makan ketupat lontong sayur nasi kare nasi kuning atau sarapan lain yang ada disini atau mungkin mereka begitu terburu hingga tak sempat sarapan.

Wajah Ibu terlihat lelah. Ia menjahit baju baru untuk lomba kakak semalaman dengan tanpa jeda dan lalu harus terbangun di sepertiga malamnya untuk menangis. Kakak begitu marah saat tahu bajunya baru dijahit semalam, untuk apa Ibu melakukannya, baju lamaku masih bagus dan Ibu harus terlambat ke pasar karena ini, dia sedih bukan marah, itu yang kurasa. Tapi, wajahnya selalu bisa tersenyum dihadapan anaknya, ini untukmu, tak apa Ibu telat, Ibu senang bila kau menang dengan memakai baju ini. Ku masih bisa melihatnya, sisa-sisa ketulusan diwajahnya malam tadi, pagi tadi, siang nanti dan sepanjang hari dan aku akan selalu ingin membuatnya tersenyum dengan gerak tubuh lucuku dengan gaya lucu bicaraku dengan tanya lucu anehku dengan segala hal yang bisa membuatnya tersenyum, untuk ibu yang tak pernah terlihat tertawa.

Dan rindu ini untuk Ibu. Untuk kasih sayang dipagi hari yang hangatnya lebih hangat dari mentari pagi. Untuk kasih sayang di waktu siang yang memberi kesejukan di panas terik tengah hari. Untuk kasih sayangnya di malam yang menyelimuti dari dingin kelam. Untuk kasih sayang yang semuanya tercurah untukku dengan begitu deras dan tak terbalas.

Anak itu hilang. Katanya, sepulang sekolah dia mau kerumah temannya, mengerjakan PR bareng. Tapi, setelah bertanya, ternyata dia bahkan tak masuk sekolah. Wali kelas satunya sama sekali tak melihat ia hadir di kelas. Kakaknya menangis dirangkulan suami. Kenapa satu adik saja tak bisa dijaga, keluhnya pada suami. Suami hanya diam kemudian berusaha menenangkan: mungkin dia main kerumah temannya yang anak jalanan, mungkin dia main Plays Station di kampung sebelah, mungkin dia ke rumah bibinya, mungkin….., mungkinkah dia mencari bapaknya? sela sang Kakak. Sebab tadi pagi dia bertanya tentang Bapak: Kak bapakku siapa? Sekarang dia dimana? Kenapa dia pergi? Aku hanya menggeleng tak tahu jawaban apa yang mesti dijadikan alasan, aku tak mau bohong padanya.

Aku sendiri sering bertanya pada Ibu tentang Bapak: kenapa Bapak pergi meninggalkan kita? Apa dia marah sama Adek? Ibu selalu menjawab kalau Bapak sedang pergi jauh mencari uang untuk sekolahku. Tapi, aku tahu Ibu bohong saat Bapak tak kembali sampai aku sekolah. Mana Bapak? Kok belum datang juga, aku kan sudah sekolah. Katanya dia mau cari uang untuk sekolahku, lalu kapan Bapak datang dengan uang sekolahku? Bila sudah seperti ini Ibu hanya diam, wajahnya menunduk, dan mulai mengucur air matanya, setetes-setetes dan setetes makin deras. Aku memeluknya erat sampai tenggelam dalam dekapan hangat dan berjanji di hati: Bu, ku tak mau bertanya Bapak lagi, Ibu cukup untukku, seorang saja – yang dengan tegarnya membesarkanku tanpa suami. Sejak itu Ibu tak pernah mendengar lagi pertanyaan Bapak dari mulutku.

Dan apakah dia akan mencari Bapak yang tak bisa dicarikan jawabannya dariku? Mungkin, jawab Suami, datar dan tenang. Kukira dia akan pulang sebelum sore ini. Bukankah sore ini dia harus datang – untuk berkunjung kerumah Ibu. Kakak, entah kenapa bisa memercayai ucapan Suami dan menunggu Anak pulang ke rumah – agar bisa berkunjung ke rumah Ibu bersama, karena Anak masih terlalu kecil untuk mengingat jalan panjang ke Rumah Ibu.

Sorenya, Anak tak juga pulang. Suami yang baru pulang – lagi – dari kantornya mengajak Kakak langsung ke rumah Ibu. Anak sudah disana, kata penjaga rumah Ibu.

Anak di rumah Ibu menangis dan memberi bunga tanda pamit. Kakak dan Suami datang bawa bunga saat datang hanya menemukan bunga yang tergeletak di rumah Ibu, tanpa Anak. Kakak menangis tak tertahan di rumah Ibu: kemana kau pergi Dik? Suami menahan nafas berusaha menahan sedih: Adik pulanglah!

Kakak-Suami bertangis berduan. Anak jalan dengan seorang hapus air mata di mata dengan pungung tangan, entah kemana – aku tak tahu. Dan Ibu, tak berkata terkunci di rumahnya alam lain.

Rindu ini untuk Ibu. Di malam dingin hangat dekapanmu. Di pangkuan, kepalaku tertahan belaian lembut ke rambut kepala. Di pelukanmu reda tangisku oleh nyaman wajahmu. Di rasa hambar ASImu kenyangkan laparku. Di setiap kata dan sentuhan sayangmu, tersimpan rindu betapa, untuk Ibu.

Ibu masih terlalu muda untuk di bilang tua. Kerutan di wajah hanya menunjukkan kelelahannya bukan ketuaannya. Ibu lebih banyak diam. Terakhir kali dia tersenyum bahagia adalah saat Kakak menang – foto medali di kerah baju buatan Ibu adalah kenangan indah Kakak. Setelah itu Ibu sering sakit. Dia tak lagi kerja. Saat ia sakit, Suami Kakak membelikan obat untuk Ibu – Kakak menikah di semester awal kuliahnya. Suami Kakak yang membiayai ongkos Rumah Sakit Ibu saat ia hanya bisa terbaring, sakit. Aku tak mengerti Ibu sakit apa, tapi dia jarang sekali bangun. Aku takut Ibu pergi.

Ibu cerita lagi! Dan dia cerita dengan banyak kata. Dengan lembut membelai rambutku saat cerita. Di akhir cerita dia selalu menyentuh hidungku dengan telunjuk atau mengecup keningku dengan bibir atau membelai lembut pipiku dengan kedua telapak tangannya. Aku selalu menemukan ketenangan baru dihatiku setiap mendengar ceritanya. Semacam rasa yang membuat pikiranku nyaman. Semacam rasa yang menghangat dadaku dengan luapan semangat. Kadang aku memikirkan banyak hal diakhir ceritanya lalu memberikan pertanyaan sulit untuk Ibu. Dan Ibu selalu menjawabnya dengan mudah. Dan aku biasa tertawa saat mengetahui jawaban atas pertanyaan sulitku ternyata begitu mudah. Dan Ibu pun ikut tersenyum geli. Dan tiba-tiba aku hentikan tawaku, diam dan kening Ibuku mengerut heran dan aku tertawa lebih keras lagi dan Ibu tersenyum makin geli.

Ibu cerita lagi! Dan dari bibirnya hanya senyum tipis, Ibu sakit, maaf, katanya sangat pelan dan perlahan. Ibu harus istirahat banyak dan tak banyak diganggu agar cepat sembuh, Kakak mengingatkan ku lagi. “Ibu cepat sembuh. Ibu aku cinta padamu. Ibu, aku tak menangis lagi”, Ibu menatap cemas, “aku tersenyum, lihatlah Ibu aku tak menangis lagi”, Ibu menatap harap. “Ibu harus cepat sembuh. Lihat senyumku, Ibu pasti akan sembuh cepat.” Dan aku bukan tersenyum tapi menangis. Senyumlah untuk Ibuku, diriku! Dan air mata semakin membasahi pipi. Ibu tersenyum, aku memeluk tangannya, Kakak mengecup keningnya dengan senyum berkata: Bu, istirahat dulu yah. Aku keluar diantar Suami Kakak, pulang. Kakak menunggu kamar Ibu, nginap.

Dan kerinduan ini untuk Ibu, untuk air mata bahagia yang diteteskannya, untuk keringat payah yang lelahnya, untuk darah mengalir di nadiku yang darahnya, untuk surga yang dititip Tuhan di telapak kakinya, untuk surga kasih sayangnya. Dan kerinduan ini menjelma cinta: teriring doa untukmu tak henti , menjelma cipta: menyipta karya untukmu tak henti, menjelma aku: anakmu, mengalun kebaikan untukmu tak henti.

Anak itu datang. Dia sudah di rumah sebelum Kakak dan Suaminya datang.

Darimana?

Aku cari bapak.

Ketemu?

Yah, jawab Anak singkat atas tanya Kakak.

Di mana?

Dia datang.

Ke mana?

Ke makam Ibu.

Sekarang dia di mana?

Di kamar mandi.

Di rumah ini?!

Di mana lagi?

Kakak diam menahan kaget. Bapak yang selama ini menghilang tiba saja datang, tanpa kabar dan tanpa permisi masuk saja ke rumahku. Bapak macam apa dia?! Yang tega…..

Lelaki berumur berdiri di hadapanku. Badannya tegap. Rambutnya banyak memerak memutih disela-sela kehitamannya. Di pipinya ada goresan luka memanjang seperti luka sayatan pisau di badan ikan gorengku. Matanya memandang tajam ke arahku dan suamiku. Tampak kesedihan yang dalam dan memancar begitu saja dari mata tajamnya. Kulihat tubuhnya mulai bergetar sementara matanya menahan air jatuh dari tepinya. Gigi atasnya bertautan erat dengan gigi bawahnya seakan ikut menahan luapan emosinya: gembira atau sedih atau keduanya sekaligus? Dia Bapak?

Anakku, matanya mulai berlinangan dan air itu berkumpulan di tepi mata, mengantre hendak turun dari mata. Kau masih diam dan tak tahu apa mesti dilaku. Suamiku masih diam menjaga tindakan. Adikku, dia tersenyum aneh.

Bagaimana aku tahu kau Bapakku? Bisa saja kau orang lain yang mengaku Bapak pada Anak yang sebatang kara ini. Bagaimana aku yakin?

Aku yakin, Adikku menjawab tenang. Dia benar-benar ayah kita. Lihatlah matanya.

Yang kulihat hanya air mata yang tertahan yang bisa saja itu hanya tipuan semata.

Dia benar anakku. Air mata ini tak membuktikan apa-apa, selain penderitaan bertahun-tahun yang lalu, saat aku harus berpisah dari istri dan anak yang kucintai dengan seluruh jiwa hanya karena tindakan muliaku yang penuh kebodohan. Tapi, mungkin ini bisa memberimu sedikit petunjuk.

Dia mengangkat tangannya dan menunjukan cincin yang mengikat jari manisnya dengan janji: setia seumur janji. Sangat jelas itu cincin Ibu. Bukan, itu lain, karena aku menyimpannya – cincin Ibu – dalam kotak yang sangat rahasia – yang tak mungkin dia tahu. Dalam cincin itu terukir nama Ibu dan Bapak bersandingan dengan lambang cinta. Dan alasan yang mana dapat membantah kenyataan ini: dia bapakku. Apa harus kulaku? Apa aku memeluknya atau pergi dan berlalu saja darinya. Suamiku datangi dan mendekapnya erat, seolah dia ayahnya. Adikku tertawa geli, bangga atas kemenangannya lalu kembali diam saat aku menatapnya. Saat suamiku selesai memeluknya ia – Bapakku – membuka kedua tangannya dengan lebar dan menunggu pelukanku. Aku diam terhenti. Bingung.

Lama sekali, dia tak datang: saat aku menanti datangnya di hari kelahiran yang tak dirayakan, saat aku merindukannya di tengah ejekan teman yang berayahkan, saat aku menangis untuk nasibku yang tak berayahkan, saat aku sangat ingin Bapak tak tertahankan, di mana dia?

Tapi, tetap saja ada kerinduan terpendam dalam di dasar samudera hati. Kerinduan pelukan hangatnya kerinduan tatapan senyumnya kerinduan gerak candanya kerinduan pasang samudera hati pada purnamanya kerinduan pagi pada terbitnya kerinduan malam pada tenggelamnya kerinduan yang terus berada di hati dalam sembunyi yang sunyi. Dan rasa rindu terpendam ini memuncak menguasai diri dan hilangkan pikiran tentang Bapak yang kubenci dan aku berlari mencari pelukannya untukku sendiri. Aku menangis untuk haru senang sedih bahagia marah rindu dan segala rasa lain yang tak tahu apa itu. Aku tenggelam dalam air mata yang kutumpahkan untuk semua rasa itu. Dan mata lelaki tegar itu pun akhirnya tak kuat lagi menahan airnya jatuh bertumpahan.

Dan bila Ibu di sini tersenyumkah dia? Adik diam memeluk kedua lutut kepala tertunduk. Mungkin dia tersenyum dirumahnya, di alam sana? Surgakah? Belum?

Semuanya terdiam mengenang Ibu.

Ketika senyummu ketika tangismu ketika air matamu ketika gelakmu ketika doamu semua menjelma rindu yang membuatku hanya menangis di tengah doaku, aku menjelma Ibu jadi kasih tak henti sepanjang nyawa tak terbatas ketika saat lalu dan nanti, abadi?

Dan indahnya terbit matahari tak mampu mengalahkan indah senyuman Ibu. Bunga-bunga yang bermekaran pun iri melihat senyum tulusnya, tak harum tapi mengagumkan. Dan yang paling senang tentu aku. Senyum Ibu adalah sinar awal mentari di musim semi, meluluhkan lapisan salju terakhir menumbuhkan benih menghijaukan daun memekarkan bunga. Dan apakah ada yang lebih indah dari sinar matahari musim semi setelah salju melanda secaturwulan penuh dingin penuh beku penuh tidur penuh mati?!

Ibu sudah pulang. Sudah dua hari dan ini pagi ketiga. Kata Dokter Ibu boleh pulang kata Kakak Ibu harus banyak istirahat kata Ibu dia bosan selalu berbaring di kasur kata Suami Kakak Ibu tak boleh kerja kecil sekalipun kataku Ibu cerita!

Dia berjanji untuk tidak nakal lagi dan menuruti segala nasehat Ibunya…… diakhir cerita Ibu tersenyum lalu batuk, batuk….batuk….dan terus tak terhenti sampai bibirnya merah darah oleh darah. Aku diam, menatap wajahnya, Ibu kenapa? Dia tersenyum, tidak apa-apa Nak. Tidak, Ibu sakit. Dan aku terus menatap wajahnya pucat dan darah itu dilap nya dengan tissue dan air mataku mulai menetes: Ibu sakit………

Bu Dokter memeriksa Ibu perlahan dan teliti.

Ibu harus dirawat di Rumah Sakit, penyakitnya kambuh. Dan dengan cepat sirine mobil Ambulans membuatnya cepat berbaring di ruang ICU. Setelah diperiksa muntah darah Ibu semakin banyak lalu pingsan, Kakak panik Suami Kakak memanggil Ambulans aku diam sedih menangis pelan tanpa suara mengalun berirama nafas turun naik.

Baru saja aku melihat senyum indahnya lembut belaiannya lembut ucapnya merdu suaranya dan semuanya hilang karena aku memintanya bercerita, Kak ini semua salahku. Aku menangis keras tak tertahan. Dan Kakak terdiam sejenak memandangku perlahan, Adik, Ibu sakit, Adik tahu itu kan? Aku mengangguk. Sakitnya bukan karena Adik memintanya bercerita, tapi, karena sakit Ibu…….Kakak berhenti. Pipi putihnya memerah dan butiran air bermunculan di sudut matanya. Ia lalu memelukku erat. Terlalu erat hingga nafasku tertahan dia melepas lalu memelukku lagi. Lalu tersenyum dengan pipi yang masih merah. Senyum Kakak seindah senyum Ibu. Kali ini aku yang memeluknya, Kakak Ibu sembuh kan? Bisikku lembut didepan telinganya. Kita berdoa.

Matahari yang tenggelam di luar sana perlahan memudarkan jingga sinarnya. Lalu langit-langit di ufuk Barat itu mulai ikut menghitam gelap. Dan lampu-lampu dinyalakan. Semua sinar hanya lampu kadang rembulan sekali-kali mampirkan sinarnya, dia – rembulan, harus timbul tenggelam dalam arakan awan. Malam ini purnama. Dan Ibu pernah cerita tentang purnama. Tentang seorang Ibu yang pergi kelaut saat purnama dan tenggelam oleh pasang. Tentang seorang Anak yang mencari Ibu lewati pasang laut dan tenggelam. Mereka terdampar dipantai dan ditemukan sang Bapak. Ibu ingin menarik perahu Bapak – yang sakit keras – agar tak terhempas pasang. Anak mengejar hendak membantu Ibu. Ombak pasang terlalu besar Ibu dan Anak tenggelam. Mereka selamat karena Ibu yang tak bisa berenang ditolong Anak yang bisa berenang. Mereka terlalu lelah dan terdampar di pantai. Bulan purnama menerangi dan mengawasi mereka berdua sampai matahari terbit dan Bapak datang. Cerita ini membuatku tak takut untuk belajar berenang bersama Kakak.

Aku ingin menolong Ibu agar tak tenggelam. Lalu mati. Aku bergumam keras, Kakak mendengar. Tak ada air di sini mana mungkin Ibu tenggelam? Tenggelam dalam darahnya, ucapku spontan. Kakak diam, melongo. Aku tersenyum, aku akan menolong Ibu, aku bisa berenang.

Cahaya telah turun lewat kasihnya menyelimuti dan mengalir bergelombang tiada henti. Cahaya merekah dari senyumnya terang dan tenang menyentuh hati tak bertepi. Cahaya rinduku untuk Ibu cahayanya untukku. Teranglah jalanmu menuju surgamu, Ibu.

Apakah surga bisa dibeli, tanya Anak pada Bapak. Bapak diam sejenak, dahinya berkernyit, mengerut dan memulur. Bisa, tapi………

Anak pergi kegirangan entah kenapa. Anak tak kembali sampai sore.

Apakah ini cukup? Tanya Anak pada Bapak menyodorkan segenggam uang recehan uang kertas penuh remasan dan beberapa permen bertumpukan. Untuk apa? Heran Bapak. Membeli surga! Jawab Anak penuh semangat. Anakku, surga itu………

Anak berubah air muka. Sedih. Bibirnya terkatup rapat. Matanya berkaca kosong lalu kakinya melarikan badannya yang berbalik ke arah kamar. Pintu ditutup cepat dan rapat. Bapak mengikuti dari belakang mengetuk pintu perlahan. Anakku surga itu….tangan Bapak sedikit mendorong pintu. Anak tertidur lelah. Tangan Bapak membelai rambut Anak lembut. Besok harus dikatakannya: Surga itu tak bisa di beli dengan uang.

Esoknya Anak pergi pagi tanpa sempat pamit. Sering pulang malam dan langsung tidur. Jarang sekali dia bercakap kecuali menjawab pertanyaan sekenanya. Setiap pulang bajunya basah penuh keringat kadang kotor penuh debu dan lututnya merah luka jatuh. Kebiasaan anehnya berakhir saat ia minta sepatu baru. Lihat, sudah banyak bolongnya. Aku terlalu sering memakainya untuk latihan lari. Besok aku akan ikut lomba lari. Dan aku butuh sepatu baru untuk menang. Boleh yah Kak. Aku tahu, sebulan lalu sepatu ini masih baru, tapi, sekarang sudah rusak, aku……

Ini. Kakak menyodorkan sebuah sepatu. Mengkilap hitam dan terlihat sangat kuat dan pasti nyaman di kaki. Setiap hari, kau berlatih keras sampai dasar sepatumu semakin tipis saja dan disana-sini mulai timbul robekan-robekan kecil. Kakak kira kamu akan membutuhkan sepatu baru yang kuat dan tahan lama. Yang seperti ini.

Adik diam. Matanya berkaca lalu tubuhnya menghambur kearah Kakak, menangis. Terimakasih Kak, ucapnya tulus.

Dan berlarilah Anak dengan seluruh mampunya dan terlalu cepat untuk dikejar peserta lain. Dia juara! Medali dikalungkan ke lehernya dan piala digenggam tangannya. Akan diapakan uang hadiahnya, tanya pemberi medali. Semua anak lain akan bilang: uangnya akan ditabung atau untuk beli sepeda gunung atau mainan terbaru atau benda-benda lain yang ingin dan belum dimilikinya. Tapi, Anak kita bilang: dengan uang ini dan – mungkin – uang pinjaman dari Bapak dan Kakak aku akan membeli surga untuk Ibuku. Dan bila masih belum cukup aku akan meminjam uang dari bank juga karena mereka punya banyak uang. Dan………………………………………………………..

ternyata surga tak bisa dibeli dengan uang. Berdoalah setiap mengingat Tuhan agar Ia sudi memberi Ibumu surga. Dan Anak tak pernah lupa dalam setiap doanya untuk selalu mendoakan Ibu. Dan tak tegalah Tuhan untuk menolak doa Anak. Konon kemudian Tuhan menjanjikan surga untuk Ibu, Anak, Kakak, Suami dan Bapak. Ah mana bisa aku memutuskan hal rumit secepat ini. Kekononan tentang Tuhan hanya dugaan belaka. Tapi, Tuhan kurasa akan melakukannya, untuk kita pembaca.

Dan cerita belum berakhir disini, sebuah bagian cerita tentang Ibu ini tak boleh terlewatkan. Tapi, bila ingin berhenti membaca di sini tak mengapa. Kumaklumi.

Lihatlah Ibuku, dia cantik dengan senyum merekah tulus di bibirnya. Hari ini dia tak perlu lagi berbaring disini. Kasur yang tertutup serpai putih selimut putih dan putih pucat wajah Ibu kini tak perlu dijaga lagi oleh Kakak. Ibu pulang.

Tubuhnya mengurus karena sakitnya tapi senyumnya seindah senyum tubuh dulunya dan mungkin lebih indah. Ibu tak lagi berjalan, hanya duduk di kursi roda. Bukan tak bisa, karena bahaya. Jalan sewaktu-waktu bisa membuatnya jatuh, dan Ibu bisa lebih sakit. Rodanya berputar saat Kakak mendorong kadang akupun ikut mendorong dan Ibu menoleh dengan senyum. Kadang aku ikut naik. Terhempas lembut dalam dekapannya. Kadang jadi tertidur pulas.

Ibu tak lagi batuk. Obat dari dokter sembuhkan batuknya. Obat-obat lain diminum Ibu teratur. Aku selalu berada di samping Ibu saat ia menelan obatnya. Memastikan obat itu tertelan dengan sempurna, aku selalu mendongakkan kepalaku agar bisa melihat obat itu benar-benar masuk tertelan, kadang hampir jatuh dan Ibu tersenyum lucu, hati-hati! Kadang sebelum minum obat aku menyuapinya makan, ceritanya berganti peran, aku jadi Ibu, Ibu jadi anakku, lucu. Selesai mengunyah Ibu selalu bilang, enak sekali, lalu aku menyuapinya lebih semangat, ayo makan yang banyak ya, biar cepat sembuh, kataku seperti yang Ibu selalu katakan saat menyuapiku, kala sakit. Mau tambah? Ibu menggeleng. Aku cemberut lalu tersenyum, yah sudah sekarang minum obatnya. Baiklah, pak Perawat, bukan-bukan sekarang aku jadi dokternya, ooh, siap pak dokter! Ibu tersenyum sangat manis dan aku menangis. Loh, kok dokternya nangis? Ibu cepat sembuh. Dia merangkul lalu memelukku erat, dokter tak boleh menangis. Rupanya, senyum manis Ibu membuatku sangat terharu. Senyum termanis Ibu sejak pulang, bahkan dibanding senyum-senyum Ibu lainnya untukku lalu. Ibu, tersenyumlah selalu untukku.

Ibu, aku boleh tidur di sini. Ibu tersenyum dan mengangguk. Ibu mau cerita untukku? Ibu tersenyum dan mengangguk. Dia membuka selimutnya dan memasukkan aku kedalamnya, hangat. Ibu, ayo cerita. Ibu tersenyum dan mengangguk. Ia mengelus kepalaku lembut dan mencium keningku dengan payah. Aku memandangnya heran. Ibu memandangku tenang, penuh kesejukan. Ibu sakit? Ibu tersenyum dan mengangguk. Memelukku erat lalu menekan lembut kedua pipiku dan tersenyum indah. Aku ikut tersenyum lembut. Kalau Ibu sakit, Ibu tak perlu cerita untukku. Aku diam, Ibu diam. Hening sejenak. Ibu menarik nafas panjang aku memegang erat tangannya. Bagaimana kalau aku yang cerita? Ibu tersenyum dan mengangguk. Melepas nafas panjangnya, pelan.

Surga itu indah. Aku memulai ceritaku. Di sana ada banyak telapak kaki para ibu. Kakinya putih, bersih. Kaki-kaki itu terjulur di tepi sungai. Sungai yang mengalir arus lembut membelai lembut kaki-kaki itu. Dan anak-anak mereka loncat menceburkan dirinya, berenang di arus sungai. Membasuh kedua telapak kaki Ibunya sambil berenang. Mereka lalu bersandar ke tepi sungai, bersandar pada kaki-kaki Ibu mereka. Dan ibu-ibu itu membelai lembut kepala dan rambut mereka. Mereka semua tertawa bahagia hingga telihat gusi-gusinya yang lembut dan bersih. Dan tahukah Ibu, aku melihat dirimu ikut tertawa di sana. Tawa Ibu yang paling indah. Ibu tersenyum lebar dan memelukku erat. Setelah itu Ibu diam. Aku mengoyangnya pelan, dia masih diam. Ku guncang dengan keras, sekuat tenaga dan………

Adik, kenapa bantal gulingnya diguncang keras-keras? Nanti rusak loh. Kakak masuk tiba-tiba. Dan Ibuku yang bantal guling masih terdiam. Gak apa-apa kok Kak. Kamu ingat Ibu yah? Mataku berlinang, kak Ibu masuk surga kan? Adik janji mau jadi Anak baik? Aku tersenyum dan memeluknya.

Surga itu indah. Ibu memulai ceritanya. Disana ada banyak telapak kaki para ibu. Kakinya putih, bersih. Kaki-kaki itu terjulur di tepi sungai. Sungai yang mengalir arus lembut membelai lembut kaki-kaki itu. Dan anak-anak mereka loncat menceburkan dirinya, berenang diarus sungai. Membasuh kedua telapak kaki Ibunya sambil berenang. Mereka lalu bersandar ke tepi sungai, bersandar pada kaki-kaki Ibu mereka. Dan ibu-ibu itu membelai lembut kepala dan rambut mereka. Mereka semua tertawa bahagia hingga telihat gusi-gusinya yang lembut dan bersih. Dan tahukah Adi, Ibu melihat Adi ikut tertawa di sana. Tawa Adi yang paling indah. Ibu tersenyum lebar dan memelukku erat. Mengambil nafas panjang dan dalam. Mengucap suatu kalimat pelan dan perlahan. Setelah itu Ibu diam. Aku mengoyangnya pelan, dia masih diam. Ku guncang dengan keras, sekuat tenaga dan………

Ienexug Rudesqe,

Aksara, 9 Juli 2006-13 JA 1427

Revisi: 7 September 2006 – 14 Sya’ban 1427