Debu-debu berlarian dikejar angin semiliran. Rambutku tersibak angin berkibaran menutup wajah. Mata memicing karena kelopak mencegat debu.Semua diam dalam gemerisik suara angin mengikis tanah dan debu semakin terbang, semakin lekang.
Bola telah tergeletak begitu saja di titik 12 meter menuju gawang. Seorang muda memegang peluit lalu menghidupkannya dalam lengkingan suaranya. Bola menunggu dengan tegang untuk ditendang. Menduga-duga arah pergi dalam lintasan parabola atau lurus dipercepat beraturan.
Aku menendangnya, sekuatnya. Sang Kiper terpaku dalam diam. Tak banyak gerak dan memandang bola yang melesat parabola di atas gawang. Penalti telah gagal dengan sesal, betapa terburu-buru aku.
Pertandingan berlanjut dengan lebih menegangkan. Tak ada gol, tak ada kemenangan. Siapa kalah, dia tersingkir. Maka berlombalah mencetak gol dan kami sama kuat sama liat. Tak memberi kesempatan untuk mencipta satu gol pun. Hingga suatu waktu, pemain beklakang kami mentackle lawan di depan gawang: Tendangan Bebas, tendangan yang bebas diarahkan ke arah mana saja.
Roy, si tinggi besar dan bertendangan kidal menghadapi bola dengan sangar. Meletakan bola dalam jarak tendang lalu mengambil ancang-ancang. Beberapa teman berbaris membuat tembok, berjajaran, kokoh tak tertembus.
“Priiit!”
Bola ditendang sekerasnya. melayang parabola melewati tembok lalu tembus ke gawang lewati kiper yang hanya melompat agar dikira telah berusaha menangkap bola.
Setelah itu, kami menyerang dengan garang. Tak satupun, tak satupun gol dihasilkan. Dan kami menyerah dalam kesenangan kalah, telah memberi tenaga terkuat yang bisa berlari dalam terik sengat yang sangat.
Angin semilir membawa debu terbang berhinggapan. Mata-mata memicing karena kelopaknya mencegat debu. Kami kembali ke sekolah dengan kotor baju dan sedikit malu. Ganti baju, berdoa sedikit lalu bis menunggu, mengantarku pulang ke rumah dalam lelah diri, lemah hati.
Aku hanya tersenyum, mungkin lain kali (kami kalah lagi).
September 2007
Monthly Archive
September 22, 2007