“Seberapa jauh, kita harus berjalan?”

            “Kau lelaki?”

            “Aku lelaki, butuh kepastian.”

Dia masih tetap tenang. Tak terlihat lelah di wajahnya.

            “Jauh. Masih sangat jauh. Kenapa kau ikut?”

Mia bertanya dengan sinis. Matanya tajam menatap Jaka, yang malah tersenyum lalu berujar, “Aku seorang lelaki. Lelaki tak bisa membiarkan dua perempuan menempuh perjalanan jauh tanpanya. Lelaki perlu hadir menemani. Begitulah.”

Mia menjawab dengan seringai sinis. Aku hanya tersenyum melihat mereka yang belum juga akur.

Perjalanan masih jauh. Lewati beberapa bukit tinggi, menuruni lembah-lembah dan beberapa perkampungan, lalu kami akan sampai.

            “Jaka kemana?”

            “Lelaki selalu punya urusan sendiri. Kita para wanita, tak berhak menyampurinya.”

            “Ooo..oh!”

Mia tetap sok filosofis, terkesan berbelit-belit jadinya.

            “Indahkah bunga ini?”

Begitu dekat, Jaka menghampiriku dengan membawa serumpun bunga lili liar. Dan aku hanya mengangguk, tersenyum indah padanya.

            “Untukmu.”

            “Kenapa?”

            “Hadiah.”

            “Kenapa kau cabut bunga ini dari pohonnya?”

            “Pohonnya tak layak lagi memilikinya, karena telah datang seorang rupawan yang             lebih berhak memiliki. Bersinar bersama di bawah siraman mentari senja.”

Tangannya menjulur ke arah matahari dan dagunya dinaikkan seakan wajahnya mampu menyerap keindahan matahari senja.

“Kau tahu, bunga ini sungguh mendambakkan seekor lebah menghinggapinya. Menyergap serbuk sarinya, lalu membawa ke putik-putiknya. Beberapa saat kemudian, serbuk sari-putik menyatu dalam kepaduan yang lekat. Menjadi satu wujud, satu bentuk, satu jiwa. Lalu lahir jiwa baru. Biji-biji muda yang tersimpan rapi di dasar bunga. Lalu kau lihat bunga layu dan kelopaknya mulai berguguran meninggalkan dasar bunganya yang telanjang. Kadang kau lihat, bakal buah muncul dan siap berkembang. Berkembanglah terus sampai matang. Lalu buah-buah berjatuhan dan menyampaikan biji-bijinya ke tanah. Dan akan kau lihat, biji-biji itu betapa kuat. Melawan musim dan cuaca, berkecambah dengan bantuan sedikit air yang mendesak masuk ke kedalaman biji. Dengan sedikit energi, kecambah tegak, mengarahkan dirinya ke arah matahari dan……”

            “Apa Lili berbuah? Tak cukupkah dia berumbi? ”

            “Ehmm…tentu saja Lili berbuah. Tapi…”

          “Terlalu lama dan terlalu tua. Dan hanya dengan umbinya saja, dia bisa                                     beranak-pinak jadi banyak. Atau kubuang saja bunga ini?”

            “Buatku saja!”

Mia meningkah cepat lalu mengambil bunga dari genggaman Jaka.

            “Terimakasih.”

Aku bengong, Jaka bengong. Mia tertawa, aku tertawa, Jaka tersenyum getir.