November 2007


Perpustakaan?

Sebuah ruang penuh rak-rak berisi buku, lalu meja-meja dan kursi yang dipenuhi orang yang kepalanya tertunduk dan jiwanya telah berpindah ke dunia lain, dunia yang diciptakannya saat membaca buku.

Perpustakaan Ajaib?

Perpustakaan macam apakah ini? Ah, sepertinya aku harus membaca bukunya terlebih dahulu. Ajaib? Sesuatu yang diluar kebiasaan, diluar kenyataan umum yang bisa diterima secara umum oleh orang kebanyakan. Jadi, perpustakaan ajaib ini pasti sangat berbeda sekali dengan perpustakaan biasa yang sering kita kunjungi, menarik.

Bibbi Bokken?

Siapa orang ini? Namanya saja sudah cukup aneh. Baiklah, akan kuberitakan nanti setelah selesai membaca bukunya.

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Nils Bøyum Torgersen dan Berit Bøyum, mereka adalah dua sudara sepupu yang penuh imajinasi.

Aku hampir tak percaya, bila mereka mampu berfantasi sedemikian hebatnya, sampai membayangkan sesuatu yang sangat berbahaya. Sebuah komplotan misterius!

Semuanya bermula ketika mereka menginap di pondok Flatbre dan kehilangan puisi yang mereka tulis di buku tamu. Nils yang tinggal di Oslo, bertemu dengan tersangka kuat pencuri puisi mereka dan dialah yang telah membiayai pembelian sebuah buku yang akan menjadi buku-surat mereka – sebuah buku yang berfungsi sebagai surat, ditulis secara bergantian lalu di kirim-balik antar mereka. Berit, yang tinggal Fjǽrland, menemukan sebuah surat, yang memberikan identitas si tersangka, Bibbi Bokken, yang menurut surat itu seorang bibliografer.

Petualangan dimulai, satu persatu misteri datang secara bergantian. Semakin lama, kabutnya semakin pekat dan semakin menegangkan. Tokoh-tokoh misterius bermunculan. Teori-teori ditebarkan mereka berdua untuk memecahkan misteri ini. Mereka saling bertukar teori dan fakta melalui buku-surat mereka.

Fantasi dan fakta berkecamuk dalam kepala mereka dan akhirnya membawa mereka pada kesimpulan-kesimpulan menakutkan, sebuah sindikat, yang entah apa dan apa tujuan mereka. Sebuah persepongkolan yang melibatkan banyak orang, dari mulai si tokoh utama Bibbi Bokken lalu Wartel Mondale mantan Wakil Presiden Amerika, Mario Bresani, paranormal dari Roma, Mr. Smile, yang masih misterius, Mauritzen si wakil rakyat sampai Ratu Sonja dari kerjaan Norwegia.

Semuanya itu berkutat pada sebuah sumber misteri, sebuah buku yang berjudul Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang terbit tahun depan, namun telah beredar saat ini secara misterius. Misteri pasti akan berakhir, bila mereka, Nils dan Berit, mampu menemukan perpustakaan ajaib Bibbi Bokken yang tersembunyi di suatu tempat.

Selagi mereka asyik melakukan penyelidikan, Smiley, dengan segala upaya berusaha merebut buku-surat mereka. Perjuangan menyelidiki dan memecahkan misteri diwarnai dengan usaha pencurian buku surat. Sampai suati ketika, Nils yang berkunjung ke Fjǽrland meninggalkan begitu saja buku-surat mereka di sebuah kursi di pelabuhan, karena ia sangat ketakutan, melihat Smiley terus memburunya.

Smiley mendapatkan buku-surat itu. Melalui sebuah perjuangan hebat yang menegangkan, Nils berhasil mengambil kembali buku-surat ini dari kamar Mr. Smiley, dengan menyelinap saat Smiley menikmati makanannya di ruang makan. Smiley, yang menyadari buku-surat tak ada lagi di kamar menelopon Bibbi Bokken dan mengeluarkan ancaman-ancaman kepadanya dengan penuh kekesalan. Nils, yang mendengarkan percakapan ini menjadi sangat marah dan mengajak Berit untuk segera mengungkap semua misteri ini: mengunjungi rumah Bibbi Bokken.

Dan semua misteri terungkap di rumah Bibbi Bokken.

Haruskah Veronika Mati?

 

Veronika memutuskan mati, terus kenapa?

Siapa dia?

Dia hanya seorang gadis di sebuah kota di negara mungil, Ljubljana di Slovenia. Siapa yang peduli pada dia, sedang orang-orang disekitarku masih banyak yang kelaparan, mengemis-ngemis, mengais belas kasih.

Mungkin, aku harus menyelesaikan membaca bukunya Paulo Coelho dulu untuk bisa memutuskan, apa aku bisa peduli tentang urusan keputusan Veronika untuk mati. Dan akhirnya, apa yang bisa dilakukan, toh Veronika memang akhirnya mati (walaupun aku belum selesai membaca kisah hidupnya itu).

Dia tak mengerti kehendak Tuhan! Ah, siapa yang mengerti kehendak Tuhan?

Dia memutuskan bunuh diri dengan menelan pil tidur satu-satu, dia gila!

Tak heranlah dia masuk Villete!

Lalu apa aku harus peduli, menaruh belas kasihan pada seorang yang tak percaya kehendak Tuhan?

Veronika percaya pada kehendak Tuhan!

Dia meyakini, saat dia bunuh diri Tuhan pun tahu dan memaklumi.

Kenapa Veronika memutuskan mati?

Sedikit simak kata-katanya tentang alasannya bunuh diri:

“Alasan pertama: Segala sesuatu dalam hidupnya sama saja. Begitu masa mudanya berlalu, semuanya akan layu, usia tua mulai meninggalkan tanda-tanda yang tak bisa diperbaiki, dijangkiti penyakit, dan teman-temannya pada meninggal. Ia tidak akan memperoleh apa-apa dengan tetap hidup; mungkin justru penderitaan yang akan bertambah.

Alasan kedua lebih filosofis: Veronika membaca surat kabar, menonton TV, dan menyimak apa yang tengah terjadi di dunia ini. Semuanya serba kacau, dan ia tak punya jalan untuk memperbaikinya-ini yang sama sekali membuatnya tak berdaya.

Apa dia tak punya lagi alasan untuk hidup?”

Ah…apa dia tak terlalu mengada-ada?

Tentang alasan pertama, lihat, kenapa dia begitu mudah terjebak dalam jeratan rutinitas. Membosankan, bila kita selalu menghadapi hal yang sama, dengan cara yang sama dan jiwa yang sama. Siapa yang mampu tahan? Lalu kenapa dia tak keluar dari rutinitasnya saja? Ah…aku lupa dia orang Slovenia!

Selalu saja setiap negara punya karakter bangsa yang berbeda. Dan apa ini tak terlalu mengada-ada?

Bila diperhatikan, Jepang, misalnya. Lihat bagaimana budaya mereka membunuh anak-anak bangsanya! Lalu, bagaimana tak bisa terjadi pada negara lain semacam Slovenia? Ah…entahlah, aku tak pernah ke sana! Merasakan udara dan bernafas dengannya.

Tapi, tetap saja aku tak bisa menerima dia bunuh diri dengan alasan semacam ini!

Harus dia tanya aku dulu, konsultasi tentang semuanya sebelum dia memutuskan untuk mati, kuberilah dia alamat emailku, dan….

Ah aku terlalu berkhayal, mana mungkin dia percaya padaku yang bukan dan belum siapa-siapa! Manalah kita percaya pada orang tak kenal!

Walaubagaimanapun aku tak akan pernah setuju dengan keputusan Veronika untuk mati, tapi apa daya dia telah menelan pil-pil itu, satu persatu!

Dan lihat apa hasilnya, dia masuk Villete!

Di rawat di ruang ICU berhari-hari dan hampir mati.

Saat dia sadar, hidupnya tinggal lima hari!

Apa yang bisa kulaku, sedang dia akhirnya mati jua!

Sudahlah, anggap saja dia gila dan orang gila selalu punya kebebasan untuk bertindak lewat kegilaannya, termasuk mengakhiri hidupnya.

Dunia memang gila…..

Apa aku harus gila juga?

Selalu begitu……

 

Tentang Veronika- si gila- yang Tak jadi Mati Saat Itu

   

Aku sungguh tertipu. Bagaimana seorang dokter hanya demi penelitiannya telah berani menipuku dengan mengatakan Veronika akan mati dalam lima hari. Penuh kebohongan. Igor, tak akan kuampuni kau.

Sungguh gila. Aku sudah gila-gilaan membela keabsahan keputusan Veronika untuk mati dan dia malah mendapatkan arti hidup lewat kegilaan dan orang-orang gila. Mari si pengacara yang bebas gila dan menjadi relawan di Bosnia, dia, dia telah memberi inspirasi bagi Veronika untuk berfikir gila. Zedka telah memberitahu arti gila pada Veronika, hal yang membuat Veronika dipenuhi fikiran gila, fikiran untuk terus hidup di lima hari hidupnya dan tak lagi memikirkan sekuel bunuh dirinya. Gila adalah berani malakukan hal yang berbeda. Berani menentang pendapat umum yang menurut nurani kita tak seharusnya seperti itu. Itulah Zedka.

Dan yang membuatku cemburu, Eduard. Dia telah merebut seluruh perhatian Veronika. Dia hanya seorang skizopren yang berkhayal tentang visi firdaus. Dia memang tampan, menarik dan muda, semuda Veronika. Tapi dia hanya seorang skizopren! Walau akhirnya ia sembuh dan mulai bicara seperti orang normal, tapi, apa arti dia dibanding aku?

Ljubljana terkutuk! Dia telah menyihir Veronikaku sehingga dia terus hidup dan bahagia bersama Eduard. Lalu, apa aku harus mencari Veronika lain untuk kuceritakan? Veronika Igor? Anak si Igor keparat itu yang telah menipuku? Ah, kenapa aku berlaku kasar padanya. Lebih baik kuterima saja ketertipuanku ini sambil menduga mungkin lain kesempatan Veronika mencoba bunuh diri dan masuk Villete lagi.

Ah…lalu apakah Paulo Coelho yang pernah gila itu mau menulis ceritanya lagi? Atau aku perlu mengiriminya surat bila ada kabar Veronika kembali memutuskan untuk mati?

Entahlah?

 

 

large_pic.jpgMatahari bersinar pagi ini menyampaikan selamat pagi dan pergi mandi.
Cahayanya menelusuk ke sela daun pohon lalu mengintip tiap jengkal tanah.
Terasa hangat, ketika aku merebahkan diriku di rerumputan dan menghela nafas dikilauan cahayanya.
Bau rerumputan dan bau sengatan matahari pagi menyambut pagi.
Semuanya terjadi secara periodik. Sebuah siklus yang tak pernah berhenti sampai saatnya nanti.
Bersyukur rasanya jadi tak cukup bagiku…
AKu ingin jadi bagian siklus ini…
Aku ingin jadi matahari.
Terangi bumi dengan fusi!
Aku ingin jadi rumput.
Tempat merebah hati yang jadi tenang.
AKu ingin jadi pagi.
Yang bawa rezeki.
Aku ingin jadi cahaya!
Berkilat kesana kemari dengan cepat!
Menelusuk menjangkau segala arah!
Menembus misykat dan zujaajah lalu terus ke mishbah, beradu bercampur lalu bergolak.
Aku adalah cahaya yang ribuan panas bergolak!
Menjadi cahaya menelan semesta!

Pada suatu ketika hiduplah dua orang kakak beradik. Yang muda bernama Alyosha. Dia dijuluki Alyosha Gorshok – “Alyosha si Botol” – karena suatu hari ibunya menyuruhnya mengantar botol susu kepada istri pendeta di gereja dan dia tersandung sehingga botolnya pecah. Gara-gara itu ibunya memukulinya. Sejak saat itu teman-temannya mengejeknya dengan julukan Alyosha si Botol.

Alyosha berbadan kurus, telinganya tinggi sebelah, dan hidungnya besar. Dia sering digoda teman-temannya, “Telinga Alyosha mirip anjing yang nongkrong di aras bukit.” Di desanya ada sebuah sekolah, tetapi Alyosha tak pandai menulis, di samping itu dia tak punya banyak waktu untuk belajar. Kakaknya bekerja di kota, di rumah seorang saudagar. Karena itu Alyosha harus membantu bapaknya sejak dia mulai bisa berjalan. Dia harus menggembala kambing dan sapi di padang rumput dengan adik perempuannya yang masih kecil. Setelah umurnya sedikit bertambah, dia harus memelihara kuda, siang dan malam. Ketika umurnya mulai 12 tahun, dia mulai meluku dan menjadi sais kereta bapaknya. Wajahnya selalu ceria. Kalau teman-temannya menertawakannya, dia diam saja atau ikut tertawa. Kalau ayahnya membentak, dia diam saja dan mendengarkannya. Begitu ayahnya selesai membentaknya, dia tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

(more…)

Setumpuk nasi goreng dan beberapa paragraf dari buku, cukupkah sarapanku hari ini?

Setiap hari selalu berbeda. Bila hari ini terbit matahari tepat pukul 6 pagi, besok, mungkin matahari terbit lebih cepat, siapa tahu. Bukan itu saja, bisa saja rumput yang menyebarkan wangi tubuhnya tak sama lagi dengan rumput kemarin, pun dengan baunya. Lalu, bunga-bunga kaca piring yang mekar kemarin, sekarang telah layu dan digugurkan dari tangkainya. Buah-buah Ganitri yang bulat membiru telah terlempar jauh dari pohonnya, mungkin sekarang telah jadi mainan kelereng anak-anak yang bermain di taman.

Setiap hari selalu saja berbeda. Awan-awan bergerumul membentuk pola yang sama sekali berbeda dengan hari kemarin. Lalu, birunya langit pagi ini pun tak lagi akan sebiru langit kemarin pagi.

Bila setiap harinya selalu ada yang berubah, apakah dapat kurasakan semuanya itu. Ataukah, karena ritual yang setiap saat selalu sama, semua perubahan itu sama sekali menjadi tak terasa. Entahlah.

Diri ini masih diri yang sama. Mata yang menatap mata yang sama, masih memandang dengan cara yang sama. Membaca huruf demi huruf dengan perasaan yang sama. Lalu, telinga yang kugunakan untuk mendengar masihlah telinga yang sama. Kemampuan membedakan suaranya sama sekali tak berkurang. Lalu hidung yang kugunakan untuk mencium wangi bunga kaca piring, yang kini telah koyak dalam kelayuannya, masih hidung yang sama. Tangan yang kugunakan untuk menulis ini pun masih tangan yang sama dengan tangan yang memunguti biji Ganitri bulat membiru di taman kemarin.

Lalu, apa yang berbeda hari ini. Bukankah setiap harinya selalu berjalan dengan cara yang berbeda dan apakah pengaruhnya pada diriku. Sentuhan hati. begitulah aku menyebutnya. Sinaran hangat matahari pagi yang mengguyur pagi ini memberikan sentuhan hati yang berbeda dengan hari kemarin. Perubahan bau rumput merangsang perasaanku untuk melakukan ekspresi yang berbeda. Dan akupun akan mengalami suasana hati yang berbeda.

Hari-hari dengan suasana hati yang beragam, sungguh mengasyikan. Sebuah simfoni indah yang memenuhi hati dengan berbagai warna penuh cerita.

Menyenangkankah?

Biar hati yang menjawab.

Yang pasti, setumpuk nasi goreng telah memberiku energi untuk berbuat lebih banyak. Lalu beberapa baris paragraf, telah merangsangku untuk menulis lebih banyak. Keduanya, memberiku kesempatan untuk menjadi diriku, seutuhnya.

Cinta berkabung. Karena aku tak lagi memilihnya sebagai bagian dalam rasaku. Hilang saja semuanya dan aku hanya perlu satu pengembalian dan semua diriku kembali utuh. Tapi, bagaimana caranya?

Seorang Okky mungkin tak bisa. Tapi, bagaimana dengan sang Tuhan? Allah bukan Tuhan! Jadi pada siapa aku menghamba selain Rabb Al Alamin. Pada semesta yang tak berkata dalam bahasa manusia, aku mengembara dan mengumbar kata. Dia hanya diam dan aku terus berucap. Berteriak dan memekakan telinga hatiku sendiri dengan kata-kata pedas tentang lemah hati lemah diri.

Kekuasaan adalah kehendak. Menentukan arah dan merubahnya. Meruntuhkan bangunan tanpa bentuk yang bernama cinta itu lalu membuatnya berkabung dalam sebuah pemakaman sederhana. Aku tak akan pernah memilihnya lagi sebagai bagian dari rasaku karena telah menjelma dalam diriku cinta yang menguasai seluruh rasa. Meluruh. Luruh semua dan terurai menjadi atom-atom kecil yang berkejaran, menumpuk dan menubruk hancur betabrakan. Lalu semua berfusi dalam satu rasa: cinta.

Cinta adalah kehendak. Menentukan pada apa dan siapa bertemu dan menyentuh jiwanya. Menyapa dengan hati dan memandang dalam kemesraan rasa.

Rindu ini adalah cinta. Pada segala yang tak terdefinisi dalam rangkaian kata atau definisi sederhana akal. Dan kembalikan Dia ke dalam setiap hati yang terluka karena cinta pada nestapa pada duka fana kehidupan. Kembalikan Dia pada keabadian rasa dan kita menumpuk setiap rasa lalu membuangnya ke kefanaan rasa, mencoba kembali merasa Dia ada untuk kita dan kita ada untukNya.

Wahai cinta disegenap hati berkumpulah bersama dengarkan aku suara nuranimu, murnilah kau. Sejatilah dirimu dalam setiap keinginan dalam setiap keputusan dalam setiap pilihan.

Berlarilah Jibril di langit cinta berkejaran asmara dengan setiap suci hati pada Rabbnya dan berlarian malaikat-malaikat penjaga Arsy menyambut cintaNya yang berhamburan dari Arsy ke bumi, menuju.

Lapangkanlah hatimu. Besarkan hatimu. Buang sampah-sampah dunia kefanaan dari hatimu. Dan bersiaplah penuhi dengan cintaNya.

Aku sudah melihat matahari pagi untuk yang ke delapan ribu lima puluh delapan kali. Mungkin hitungan ini salah, karena selalu ada saat matahari bersembunyi di cumolinimbus pagi atau mataku seharian di dalam ruangan tanpa beradu-tatap dengannya – si matahari pagi. Hangat yang sama, pagi ini tetap kurasa. Sinar lembut yang tetap sama dari matahari yang sama.

Sangat mungkin sekali ledakan tak terhitung terjadi padanya, tapi dia tetap terus berputar timur-barat, dalam suasana gelap ke terang-terang ke gelap. Sangat mungkin ribuan sel dalam tubuhku saat pertama melihat matahari pagi telah punah dari tubuhku. Tapi, kami tahu – aku tahu, kami selalu mempunyai tujuan yang sama. Aku yang menikmati sinarnya dan dia yang menatapku dengan semangat paginya, kami bersama menyambut pagi dengan senyuman di hati, menyambut dunia pagi ini dengan cara nyaris sama.

Aku yang membuka mata dan ufuk yang membuka matanya, kami sama-sama terjaga sebelum fajar datang. Lalu memulai hari dengan pujian-pujian sederhana untuk rasa syukur yang bergumpalan di hati.

Begitulah, setiap pagi kami bertemu bertegur sapa lalu berlari bersama. Melangkah ke arah cahaya yang sama, semoga.

Ketika dunia pertama melihatku, aku selipkan teriakan yang memekakannya!

Ketika sekarang dunia memintaku berteriak, aku berteriak sekerasnya.