Cinta berkabung. Karena aku tak lagi memilihnya sebagai bagian dalam rasaku. Hilang saja semuanya dan aku hanya perlu satu pengembalian dan semua diriku kembali utuh. Tapi, bagaimana caranya?

Seorang Okky mungkin tak bisa. Tapi, bagaimana dengan sang Tuhan? Allah bukan Tuhan! Jadi pada siapa aku menghamba selain Rabb Al Alamin. Pada semesta yang tak berkata dalam bahasa manusia, aku mengembara dan mengumbar kata. Dia hanya diam dan aku terus berucap. Berteriak dan memekakan telinga hatiku sendiri dengan kata-kata pedas tentang lemah hati lemah diri.

Kekuasaan adalah kehendak. Menentukan arah dan merubahnya. Meruntuhkan bangunan tanpa bentuk yang bernama cinta itu lalu membuatnya berkabung dalam sebuah pemakaman sederhana. Aku tak akan pernah memilihnya lagi sebagai bagian dari rasaku karena telah menjelma dalam diriku cinta yang menguasai seluruh rasa. Meluruh. Luruh semua dan terurai menjadi atom-atom kecil yang berkejaran, menumpuk dan menubruk hancur betabrakan. Lalu semua berfusi dalam satu rasa: cinta.

Cinta adalah kehendak. Menentukan pada apa dan siapa bertemu dan menyentuh jiwanya. Menyapa dengan hati dan memandang dalam kemesraan rasa.

Rindu ini adalah cinta. Pada segala yang tak terdefinisi dalam rangkaian kata atau definisi sederhana akal. Dan kembalikan Dia ke dalam setiap hati yang terluka karena cinta pada nestapa pada duka fana kehidupan. Kembalikan Dia pada keabadian rasa dan kita menumpuk setiap rasa lalu membuangnya ke kefanaan rasa, mencoba kembali merasa Dia ada untuk kita dan kita ada untukNya.

Wahai cinta disegenap hati berkumpulah bersama dengarkan aku suara nuranimu, murnilah kau. Sejatilah dirimu dalam setiap keinginan dalam setiap keputusan dalam setiap pilihan.

Berlarilah Jibril di langit cinta berkejaran asmara dengan setiap suci hati pada Rabbnya dan berlarian malaikat-malaikat penjaga Arsy menyambut cintaNya yang berhamburan dari Arsy ke bumi, menuju.

Lapangkanlah hatimu. Besarkan hatimu. Buang sampah-sampah dunia kefanaan dari hatimu. Dan bersiaplah penuhi dengan cintaNya.