What is this?
December 2007
December 31, 2007
December 31, 2007
Bla…bla..bla…..
December 31, 2007
Happy new year!
December 26, 2007
In the department of — but it is better not to mention the department. There is nothing more irritable than departments, regiments, courts of justice, and, in a word, every branch of public service. Each individual attached to them nowadays thinks all society insulted in his person. Quite recently a complaint was received from a justice of the peace, in which he plainly demonstrated that all the imperial institutions were going to the dogs, and that the Czar’s sacred name was being taken in vain; and in proof he appended to the complaint a romance in which the justice of the peace is made to appear about once every ten lines, and sometimes in a drunken condition. Therefore, in order to avoid all unpleasantness, it will be better to describe the department in question only as a certain department.
So, in a certain department there was a certain official — not a very high one, it must be allowed — short of stature, somewhat pock-marked, red-haired, and short-sighted, with a bald forehead, wrinkled cheeks, and a complexion of the kind known as sanguine. The St. Petersburg climate was responsible for this. As for his official status, he was what is called a perpetual titular councillor, over which, as is well known, some writers make merry, and crack their jokes, obeying the praiseworthy custom of attacking those who cannot bite back.
December 25, 2007
Kerinduan ini untuk ibu. Rasa-rasa yang membuat hati bergetar hebat dan air mata ini membuncah, mengalir, basahlah pipiku. Tangis yang tak bisa berhenti, bila saja tak ku ingat harapmu padaku yang tak kau ucapkan saat aku mengerti ucapan. Semuanya untuk ibu, sehingga salah satu ruangan di hatiku ini khusus untukmu. Ibu aku rindu.
Dan rindu ini untuk Ibu. Untuk kasih sayangmu dipagi hari yang hangatnya lebih hangat dari mentari pagi. Untuk kasih sayang ia di waktu siang yang memberi kesejukan di panas terik tengah hari. Untuk kasih sayangnya di malam yang menyelimuti dari dingin malam. Untuk kasih sayang yang semuanya tercurah untukku dengan begitu deras dan tak terbalas.
Rindu ini untuk Ibu. Di malam dingin hangat dekapanmu. Di pangkuan kepalaku tertahan belaian lembut ke rambut kepalaku. Di pelukanmu reda tangisku oleh nyamannya wajahmu. Di rasa hambar ASImu kenyangkan laparku. Di setiap kata dan sentuhan sayangmu, tersimpan rindu betapa, untuk Ibu.
Dan kerinduan ini untuk Ibu, untuk air mata bahagia yang diteteskannya, untuk keringat payah yang lelahnya, untuk darah mengalir di nadiku yang darahnya, untuk surga yang dititip Tuhan di telapak kakinya, untuk surga kasih sayangnya. Dan kerinduan ini menjelma cinta: teriring doa untukmu tak henti, menjelma cipta: menyipta karya untukmu tak henti, menjelma aku: anakmu, mengalun kebaikan untukmu tak henti
Ketika senyummu ketika tangismu ketika air matamu ketika gelakmu ketika doamu semua menjelma rindu yang membuatku hanya menangis di tengah doaku, aku menjelma Ibu jadi kasih tak henti sepanjang nyawa tak terbatas ketika saat lalu dan nanti, abadi?
December 24, 2007
Ketika Flu mengganggu aku hanya mencoba tersenyum dan mendengar nasehatmu: ucaplah Alhamdulillah. Kepala bisa menjadi berat, sementara hidung tak lagi menghirup udara dengan 20 % oksigennya dengan cara biasa, sungguh menderita. Tapi, aku akan selalu turuti nasehatmu, tersenyum dan berucap Alhamdulillah.
Ketika flu, seluruh sendi diterjang rasa sakit. Gigi-gigi menjadi linu. Kening panas. Tubuh demam kadang meriang. Mata mengantuk dan panas. Kedinginan. Kehausan. Dan cepat lapar. Saat seperti ini aku banyak makan. Minum berlebih dan meninggikan bantalku saat tidur. Dan tentu saja banyak istirahat dan menuruti nasehatmu: tersenyum dan berucap Alhamdulillah.
Ketika kau flu, aku selalu mengganggu. Dengan ledekan menggodaku, berbicara dengan menutup hidung. Ketika kau flu, aku senang sekali melihat hidungmu yang memerah dan matamu yang berair. Kacamatamu tak bisa menyembunyikan betapa matamu berkata: aku sungguh menderita. Dan dari mulutmu hanya terucap: alhamdulillah.
Ketika kau mengucapkan kata ini – waktu itu, waktu kau flu – aku biasanya langsung diam dan berkata dalam hati, aku tak pernah salah telah jatuh cinta padamu. Aku tersenyum padamu dengan senyum terindah dan kau membalasnya dengan senyum yang lebih indah. Lalu mengerenyitkan keningmu, “ kenapa tersenyum seperti itu?”
Ingin kujawab, karena aku sungguh mencintaimu tapi yang terjadi aku hanya tersenyum manis. Dan akhirnya kau tertawa, Okky lucu. Dan akupun tertawa. Kita tertawa dan aku bahagia.
Diantara kita selalu terjadi saat-saat menyenangkan seperti itu. Saat dimana kita begitu dekat, begitu lekat. Saat hati kita begitu saling mengerti dan tak perlu lagi kata untuk saling mengungkap rasa. Saat kita, aku, paling bahagia.
Apalah lagi yang menghalangi kita untuk selalu bersama. Waktu dan jarak tak lagi mampu memisahkan kita. Tapi, tidak dengan ketetapanNya. Kita telah jauh dalam jarak, tapi itu tak jadi masalah. Waktu memisahkan kita dalam jangka yang sangat jauh, tapi tak pernah jadi masalah. Tapi, tiba-tiba kau berhenti dan aku tak mengerti, kenapa? TakdirNya katamu.
Takdir yang mana? Takdir yang kapan? Takdir apa?
Bukan hal mudah bagiku untuk melupakanmu, tetapi, bila kau menemukan seorang sejati yang lebih baik, katakanlah. Aku akan mengalah dan mencintaimu tanpamu. Aku bisa, sangat bisa. Aku diciptakan dengan perasaan seperti ini, selalu siap untuk kecewa. Jangan pernah pedulikan deritamu tapi uruslah kebahagianmu. Bila kau ingin lupakan aku, lupakanlah.
Biarlah aku disini mengemis cinta dari Tuhan kita.
Dan kau, uruslah bahagiamu sendiri.
Kenapa kita begitu cepat berbeda?
Karena kita tak pernah sama!
Ketika flu menyerangku, aku sungguh mengingatmu. Dalam perasaan yang sungguh haru. Ingin aku menangis, bukan untukmu, untukku. Karena dengan bodoh telah mencintaimu dan menderita karenanya.
Ketika sekarang aku flu aku sungguh mengingatmu. Dalam perasaan bahagia ketika kau sebarkan berita, sungguh dirimu menderita karena cinta. Cintamu padaku yang tak kau temukan pada lelaki sejati manapun.
Cintaku unik. Cintamu spesifik.
December 24, 2007
Ketika pergantian hari menjadi hal yang biasa, tak ada lagikah rasa diantara kita. Aku sungguh telah mencintaimu dengan sepenuh hati. Menunggumu di tempat biasa dan kau tak pernah datang. Menjagamu ketika kau sendiri dalam kegalauan hidup. Bukankah telah kuberikan seluruh hidupku untukmu? Lalu kenapa kau masih tak peduli?
Apa tak lagi ada rasa dihatimu untukku, untuk sekedar peduli. Kau menjauh dan tak lagi memberiku kehangatan. Bukankah dulu kita selalu bersama. Menatap pergantian hari dengan penuh kehangatan. Kau peluk aku dalam kasihmu dan kita saling bercumbu dalam kemesraan cinta. Kita adalah satu yang tak terpisahkan. Atau kau (sudah) lupa?
Apakah sekedar lupa telah membuat kita berjarak?
Dulu, kita telah begitu dekat. Tak ada lagi yang bisa bedakan aku dan kamu. Kita benar-benar melekat.
Sudahlah. Lebih baik kita berpisah.
Memang bisa?
December 18, 2007
Cepat. Tupai itu melompat cepat dari dahan ke dahan lalu menaik meninggi di pohon Ganitri. Serpihan-serpihan kering kulit pohon berjatuhan terkena gesekan kakinya yang mencengkeram pohon pada kuat kuku-kukunya. Angin semilir, mata terpejam, saat menengok, tupai sudah hilang di ketinggian.
Wuss….., semilir angin kembali berhembus, ranting-ranting kering kecil berpatahan dari dahan. Daun-daun Ganitri, coklat kemerahan, jatuh bersimpang-siuran mengikuti arah gerak angin. Bukan satu, tiga pohon Ganitri membuat teduh, nyaman dudukku. Cabang-cabangnya saling bersilang, daun-daunnya berhimpit menutup kanopi dari sinar panas mentari. Sedikit-sedikit, sinarnya mencuri-curi celah menembus kurungan dedaunan yang berhimpit rapat.
Tap…, strobilus! Jatuh ke tanah, berbaring miring. Berserakan dedaunan. Strobillus pinus berserakan di mana-mana. Pada lengkungan pipa besi besar yang jadi kursi aku duduk. Menatap berkeliling. Menghirup nafas dalam dan merasakan udara segar masuk ke kerongkongan. Mungkin oksigen dan karbon dioksida sedang berlarian sekarang, berburu hemoglobin di alveoli paru-paruku.
Memutar ke utara, pandanganku menyapa pohon arbei liar yang menggantung buah-buah kecil tak berasa di ujung dahan. Yang muda hijau muda, yang tua memerah, pernah kucicipi, asam dan hambar. Kutemukan pula laba-laba ikut bersarang di dahan. Kaki delapannya menempel ringan di jala tipisnya. Alunan tenun jala tipis bersegi-segi saling berhubungan membuat sarang. Setiap getaran pada jala diantarkan cepat ke kaki laba-laba. Laba-laba waspada. Kukirimi ia belalang. Belalang menempel lengket pada jala dan bergoyang-goyang. Laba-laba waspada mulai mendekat. Dalam satu langkah cepat menyergap. Kirimkan bisa ke tengkuk belalang. Belalang lemas bukan kepalang. Angin berhembus bertiupan, sang laba-laba menunggu sabar belalalang. Karena – mungkin – masih kenyang, si laba-laba menjulurkan jala dari spinneret di abdomennya, lalu dengan kaki-kakinya, dia mulai menggulung belalang. Belalang berputar-putar dalam gulungan. Beberapa detik berlalu, belalang terbungkus penuh dalam jala putih laba-laba.
Lebih ke utara, aku masuk ke taman kecil berumput hijau. Untuk masuk ke taman kecil aku harus melewati pagar perdu. Meloncat atau sekedar melangkah, toh tanaman perdu begitu rendah. Di sana, aku duduk di batu dari semen. Menatap kuda hijau dari dedaunan. Ranting-ranting coklat terlihat menonjol begitu saja dari pohon ‘kuda’ ini. Harum rumput menjemput. Kuhirup.
Matahari mulai meninggi, aku harus pergi. Nanti, akan kuceritakan lagi tentang taman ini. Di lain kali yang lebih ramai, izinkan aku.
December 17, 2007
Tak ada. Kemanakah adanya kita?
Pada setiap langkah tak pernah kembali satu jejak pun.
Tak ada rasa atau sedikit peduli.
Dan kita, akan pergi bersama ke satu jejak
Menyusuri jalan-jalan yang tak pernah dilalui.
Lorong-lorong jalan yang gelap,
Tetapi begitu menyegarkan bagi kita
Aroma lauthutangunungsawahpadipinuseucaliptusmentolsemanggipandanjeruk bercampur aduk beralaskan tikar lumut hijau raksaksa yang menghampar luas dalam cakrawala.
Semuanya lebih indah saat kita bersama,
Langit biruhitammerahjingga adalah sama putihnya awan,
Dan rembulan yang bersinar seindah bintang,
Lalu senyummu, tetap selalu lebih indah.
Lalu kita berjalan pada jalan lain menempuh jarak lebih jauh,
Pada lelahmu kau sebut namaku,
Pada lelahku kupeluk asamu,
Lelah kita pada satu tempuhan merenggut segala perih dihati,
Melenyap satu amarah yang terpercik cepat ketika tak saling mengerti,
Kita lalu berhenti mengambil nafas pelan lalu menghembus bersamaan,
Kita sampai!
Tak ada? Dimanakah adanya kita?
Pada setiap tempat aku memberi satu tanda tempat bagi kita untuk mengulang segala.
Dan kau akan tersenyum setiap melihat tanda,
Lalu aku begitu gembira dan berkata sungguh aku bahagia,
Sungguh kita bahagia.
Tak ada? Bukankah adanya kita?
Kita bersama dan ada pada setiap peduli derita dan cinta.
December 14, 2007
Bicara tentang sejarah, berarti bicara tentang objektivitas, tentu saja dalam konteks keilmuan. Tentang bagaimana sejarah bisa dihadirkan sebagai fakta-fakta yang saling terkait dan terlihat sebagai kebenaran, bukan sekedar berita yang selintas hilang digilas zaman.
Sejarah sekarang bisa bertahan dan sampai ke zaman kita, karena sejarah dituliskan. Mungkin semacam catatan sederhana dari seorang ilmuwan atau buku tebal riwayat penguasa, apapun itu, semuanya telah tertuang dalam bentuk tulisan. Yang lisan, yang tanda, yang logika semua dikumpul menjadi satu: tulisan.
Lalu apakah kita bisa mereduksi sejarah menjadi hanya sebatas tulisan?
Tentu tidak boleh. Sejarah ditulis sebagai sebuah kenangan yang akan diingat oleh generasi manusia selanjutnya, terus sampai akhir zaman. Sejarah ditulis sebagai sebuah peringatan, jangan mengulangi perbuatan ini di masa kini. Sejarah ditulis sebagai pelajaran, hikmah terdalam dari berbagai peradaban.
Lalu kenapa sejarah direkayasa?
Tanyalah penguasa, tanyalah pemilik modal, tanyalah media massa. Tapi, bila kau tanya Alquran, segalanya akan terang!
Mengenai sejarah OS, saya tak akan mengungkapkannya sebagai sejarah dalam konteks keilmuan. Saya tak akan bicara tentang keobjektifitasan, tapi betapa keegoan saya berkata, ini ceritaku, akulah yang menentukan bagian mana yang akan diceritakan dan bagian mana yang dirahasiakan. Apapun itu, saya akan mencoba sedikit mengerti, karena sejarah untuk dituliskan.
Saat kegalauan mengguncang hati, ingatlah Dia dihati. Tapi, dasar diri, dia berlari dan memuja hati. Padahal dia sedang galau, padahal dia sedang risau. Pemujaan hati terus berlanjut, membayangi mimpi dan meremas diri: melelahkannya dalam satu kelesuan yang sangat.
Lalu hembusan berita datang dari tempat yang menertawakan dirinya nirwana, dan semua dengan cepat terjadi. Mencari seseorang, gadis, yang begitu saja kunilai tangguh. Untuk membirikan tamparan pipi hati agar melihat lukanya sebagai semangat baru. Maka diutuslah tangan, menyampaikan pesan ini pada seorang gadis disana yang dinilai tangguh.
Dimulai dengan sedikit pujian, lalu ujian dan akhirnya: apakah benar aku mencintaimu, apapun itu tulislah surat tolak cinta untukku.Dengan keras. Sekejam-kejamnya surat penolakan cinta yang bisa kau buat.
Agar lucu dan menghentak, maka dicarilah sebuah nama, sebuah penyamaran yang pasti ketahuan. Kucari-cari nama itu, sampai hembusan angin menyampaikan: OIPIYAH SAFITRI. Perempuankah? Menghindari penolakan pertama: orangtua. Mana mungkin orangtua menolak surat dari seorang perempuan?
Lagipula OIPIYAH SAFITRI pun kusampaikan pula siapa dia. Lelaki tinggi kerempeng, hitam dan tak menarik. Pendiam dan penyendiri. Lalu adakah makna nama ini?
OIP: Okky Indra Putra
-iyah: merujuk pada sebuah dinasti yang akan kubangun.
Sa- : satu, dalam bahasa sunda.
Fitri: Suci, fitrah, asali.
Ah susunlah sendiri artinya. Tapi aku memaknainya sebagai kembalinya diriku pada keasalianku, kefitrahanku dalam satu babak mencekam, menegur iman.
Tanpa dinyana, OS telah menjelma menjadi impian. Sisi ideal yang berbicara tentang kesempurnaan seorang wanita, keparipurnaan manusia. Dan OS jadi mimpiku, melangit imaji dalam tataran arsyi. Dan OS berjarak dariku, seseorang yang kutunggu datang di suatu petang bawa pedang tusuk dan ambil hatiku, aku ada karena dirimu cinta. Lalu OS jadi bayangan, yang selalu menemaniku memandang dunia dengan rasa. Menemaniku berbincang disepi hati, menghibur diri dengan cerita-cerita indah tentang mati. Sampai suatu saat dia -OS, lelah menungguku dan aku lelah menunggu, sesuatu yang tak pernah terjadi tak bertemu tak akan terjadi dan semuanya kembali jadi mimpi.
Menjadi berjarak dan semakin jauh.
Jadilah mimpi.
Dan aku datang di setiap malammu, mengunjungimu dengan harum bunga-bungaan malam, dalam lelap, dalam gelap.
Begitulah.