Saturday, December 1st, 2007


It is in the hot lands that the sun burns, sure enough! there the people become quite a mahogany brown, ay, and in the hottest lands they are burnt to Negroes. But now it was only to the hot lands that a learned man had come from the cold; there he thought that he could run about just as when at home, but he soon found out his mistake.

He, and all sensible folks, were obliged to stay within doors–the window-shutters and doors were closed the whole day; it looked as if the whole house slept, or there was no one at home.

The narrow street with the high houses, was built so that the sunshine must fall there from morning till evening–it was really not to be borne.

The learned man from the cold lands–he was a young man, and seemed to be a clever man–sat in a glowing oven; it took effect on him, he became quite meagre–even his shadow shrunk in, for the sun had also an effect on it. It was first towards evening when the sun was down, that they began to freshen up again.

(more…)

One evening in winter as Alice, a dear little girl whom everybody loved, pushed aside the curtains of her bedroom window, she saw the moon half hidden by great banks of clouds, and only a few stars peeping out here and there. Below, the earth lay dark, and cold. The trees looked like great shadows.

There was at change in her sweet face as she let fall the curtain and turned from the window.

“Poor birds!” she said.

“They are all safe,” answered her mother, smiling. “God has provided for every bird a place of rest and shelter, and each one knows where it is and how to find it. Not many stay here in the winter time, but fly away to the sunny south, where the air is warm and the trees green and fruitful.”

“God is very good,” said the innocent child. Then she knelt with folded hands, and prayed that her heavenly further would bless everybody, and let his angels take care of her while she slept. Her mother’s kiss was still warm upon her lips as she passed into the world of pleasant dreams.

(more…)

Two peasant constables — one a stubby, black-bearded individual with such exceptionally short legs that if you looked at him from behind it seemed as though his legs began much lower down than in other people; the other, long, thin, and straight as a stick, with a scanty beard of dark reddish colour — were escorting to the district town a tramp who refused to remember his name. The first waddled along, looking from side to side, chewing now a straw, now his own sleeve, slapping himself on the haunches and humming, and altogether had a careless and frivolous air; the other, in spite of his lean face and narrow shoulders, looked solid, grave, and substantial; in the lines and expression of his whole figure he was like the priests among the Old Believers, or the warriors who are painted on old-fashioned ikons. “For his wisdom God had added to his forehead” — that is, he was bald — which increased the resemblance referred to. The first was called Andrey Ptaha, the second Nikandr Sapozhnikov.

(more…)

The Erlking

Who’s riding so late through th’ endless wild?
The father ‘t is with his infant child;
He thinks the boy ’s well off in his arm,
He grasps him tightly, he keeps him warm.

My son, say why are you hiding your face ?
Oh father, the Erlking ’s coming apace,
The Erlking ’s here with his train and crown!
My son, the fog moves up and down. -

Be good, my child, come, go with me!
I know nice games, will play them with thee,
And flowers thou ‘It find near by where
I live, pretty dress my mother will give.”

Dear father, oh father, and do you not hear
What th’ Erlking whispers so close to my ear?
Be quiet, do be quiet, my son,
Through leaves the wind is rustling anon.

Do come, my darling, oh come with me!
Good care my daughters will take of thee,
My daughters will dance about thee in a ring,
Will rock thee to sleep and will prettily sing.”

Dear father, oh father, and do you not see
The Erlking’s daughters so near to me?
My son, my son, no one ’s in our way,
The willows are looking unusually gray.

I love thee, thy beauty I covet and choose,
Be willing, my darling, or force I shall use!
“Dear father, oh father, he seizes my arm!
The Erlking, father, has done me harm.

The father shudders, he darts through the wild;
With agony fill him the groans of his child.
He reached his farm with fear and dread;
The infant son in his arms was dead.

Fifth Edition

I.

WAKE! For the Sun, who scatter’d into flight
The Stars before him from the Field of Night,
Drives Night along with them from Heav’n, and strikes
The Sultan’s Turret with a Shaft of Light.

II.

Before the phantom of False morning died,
Methought a Voice within the Tavern cried,
“When all the Temple is prepared within,
“Why nods the drowsy Worshiper outside?”

(more…)

Pestis eram vivus – moriens tua mors ero.

– Martin Luther

HORROR and fatality have been stalking abroad in all ages. Why then give a date to this story I have to tell? Let it suffice to say, that at the period of which I speak, there existed, in the interior of Hungary, a settled although hidden belief in the doctrines of the Metempsychosis. Of the doctrines themselves – that is, of their falsity, or of their probability – I say nothing. I assert, however, that much of our incredulity – as La Bruyere says of all our unhappiness – ” vient de ne pouvoir être seuls .”

But there are some points in the Hungarian superstition which were fast verging to absurdity. They – the Hungarians – differed very essentially from their Eastern authorities. For example, ” The soul ,” said the former – I give the words of an acute and intelligent Parisian – ” ne demeure qu’un seul fois dans un corps sensible: au reste – un cheval, un chien, un homme meme, n’est que la ressemblance peu tangible de ces animaux. “

(more…)

In the town of Vladimir lived a young merchant named Ivan Dmitrich Aksionov. He had two shops and a house of his own.

Aksionov was a handsome, fair-haired, curly-headed fellow, full of fun, and very fond of singing. When quite a young man he had been given to drink, and was riotous when he had had too much; but after he married he gave up drinking, except now and then.

One summer Aksionov was going to the Nizhny Fair, and as he bade good-bye to his family, his wife said to him, “Ivan Dmitrich, do not start to-day; I have had a bad dream about you.”

(more…)

Kepingan Mahmud:
Kitalah yang berbimbingan menyeberangi jembatan bambu menuju hutan kebun pala. Kau pura-pura jadi seorang dokter penyelamat dalam sebuah perang saudara dan aku tentara yang terluka. Aduh! Aku kesakitan, berjalan tertatih. Kau petik segenggam daun ketela, kau remas-remas dan airnya dioleskan pada luka tembak di kakiku. Di balik pagar kayu, kita merunduk. Kutembaki kumbang-kumbang putih kaki yang kita andaikan seperti pesawat tempur tentara pusat.

(Paska pemberontakan PRRI, perang-perangan menjadi jenis permainan yang sangat digemari anak sebaya kita –seusia anak SLTP sekarang. Ada sekitar 5 bulan, kita lebih banyak bermain ketimbang sekolah. Sebab, guru-guru kita banyak yang ditangkap dan tak pulang-pulang. Kau tentu masih ingat permainan itu. Anak laki-laki dibagi dua. Regu pertama jadi tentara pemberontak. Regu kedua jadi tentara pusat. Anak perempuan sebagian memilih jadi dokter, sebagian lagi jadi sukarelawati yang mengantar makanan secara diam-diam ke hutan persembunyian tentara pemberontak.)

Bosan dengan perang-perangan, biasanya kita menyisih dari teman-teman lain. Kita berjingkrakan ke belantara alang-alang, melempari rerumpunnya dengan kepalan tanah liat. Jika ada burung yang terkejut dan terbang, berarti di sana ada sarangnya. Maka kita rajut perangkap dengan serat kelopak pisang. Kita pasang di pintu sarang burung itu. Kita mengendap ke belukar, dekat sebatang cengkeh, menunggu burung itu kembali ke sarangnya.

Di belukar persembunyian itulah kita duduk sangat rapat sekali. Dalam debar-debar tak terpahami, tiba-tiba, aku dialiri rasa ingin melindungimu, ingin memanjakanmu. Aku patahkan setangkai pelepah pakis. Aku buat lengkungan seperti mahkota. Aku pasangkan di kepalamu. Kau tersenyum. Kuandaikan dirimu seperti Puti Reno yang kabur dari rumahnya menjumpai Si Babau dalam dongeng Sirompak itu. (Saluang Sirompak, alat musik tiup tradisional khas Minangkabau yang kekeramatannya terkenal dalam sebuah legenda yang menceritakan si Babau, seorang bujang buruk rupa yang jatuh hati pada gadis cantik. Gadis itu menolak cintanya. Karena kecewa, si Babau menyendiri ke hutan. Di sana, setiap malam ia tiup Salung Sirompak. Pada malam ketujuh, lantunan saluangnya membuat gadis idamannya separo gila, menggapai-gapai dinding, dan berjalan di tengah malam buta menuju ke tempat persembunyiannya.)

Duh, manisnya dirimu.
Kau tak mau kalah. Daun alang-alang pun kau gulung dan kau rajut dengan ijuk yang berguguran dari sebatang enau. Jadilah sebuah lingkaran mirip cincin. Kau pasangkan di jari manisku yang kanan.

Ahai, kita pun kawin-kawinan dengan mahkota pakis dan cincin ijuk itu. Mendadak, dari arah belantara alang-alang, terdengar kepakan sayap burung.

Perangkap kita mengena.
Ayo cepat ke sana.
Hati-hati.

Kita nyaris berebut mengambil burung yang sudah terjerat serat kelopak pisang itu. Aku coba menanggalkannya untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung bekas kemasan tepung terigu yang ada segi tiga birunya. Tapi, aku gagal melepaskan belitan serat pelepah pisang itu.

“Sini aku coba,” katamu menawarkan diri. Luar biasa. Kau bisa menanggalkannya dengan baik. Sejak itulah aku yakin bahwa Sang Pencipta Yang Maha Agung telah merancang khusus tanganmu untuk menyelesaikan kekusutan, belitan, cengkeraman, atau apa saja yang membuat keningku berkerut dan beragam umpatan melompat dari bibirku. Barangkali, ketenangan yang kutunggu-tunggu kelelakianku juga merahasia di jemarimu.

“Ssst! Lakinya belum dapat. Sebentar lagi ia pasti datang. Ia pasti tahu kalau bininya sudah kita jerat!”
Mukamu berkerut.
“Ada apa?”

“Yang mengerami telur pada siang hari pejantan, lakinya. Malam hari baru yang betina, bininya!” bantahmu.

“Bukan! Yang mengerami telur itu yang betina. Yang jantan kerjanya cari makan!”
“Salah! Kata nenek, burung itu, kalau sedang mengeram, bergantian. Siang pejantannya, malam betinanya!”

“Dasar keras kepala!”
“Ssst! Apa pun jenis kelaminnya, itu dia sudah datang. Lihat dia marah sekali. Ia tampaknya sudah tahu kalau pasangannya sudah kita tangkap. Pasang lagi jerat di sarangnya. Cepat!”

Kita pun bergegas menyulam serat kelopak pisang yang baru. Kita mengendap lagi ke belukar persembunyian. Tapi aku tidak lagi mematahkan setangkai pelepah pakis. Kau juga tidak lagi mencipta cincin dari daun alang-alang dan serabut ijuk. Kita berselonjor. Letih mulai menghinggapi jasad kanak kita.

Huuuuaa! Kau mengantuk. Aku juga.
Kau duduk memeluk lutut dan menjatuhkan dagu di atasnya. Tapi, aku gelisah melihat kau tidur dengan cara begitu. Aku bersandar di batang cengkeh, menarik bahumu.

“Tidur di sini saja,” ajakku. Kau pun merebah di dadaku. Mendadak, terdengar lagi gelepar sayap burung. Prrrrrr! Kita sontak bangun dan berlari ke arah suara itu. Pasangan burung itu kita dapatkan. Betapa riangnya. Kita tak peduli lagi pada luka gores di betis dan lengan kita ketika mencari pimping dan lidi kepala: bahan sebuah sangkar untuk sepasang burung itu. Dan, di perjalanan pulang kita tangkapi belalang dan lelaron untuk makanannya.

Seperti burung itu pula, kita diperangkap lingkaran waktu yang rumit dan tak terduga ujungnya. Bertahun, kita di arak nasib dengan sejumlah pilihan dan kekangannya. Kita menyeret takdir masing-masing. Masa kakak-kanak beringsut ke remaja. Kita tidak lagi menyangkarkan sepasang burung. Kita memelihara degup di dada.

Dengan dengup itu, kita bisa membayangkan pelepah pakis menjelma mahkota pengantin; serat ijuk dan daun alang-alang berubah jadi cincin kawin.

Ahai, cincin itu memuai dan membelah jadi sepasang. Cincin yang kita pakai secara bergantian dalam sebuah pertemuan keluarga. Kita bertunangan.

Tapi, perpisahan menjadikan banyak kesempatan dan sejumlah andai-andai itu tidak bisa kita koyak-koyak. Sekalipun nyawa kita masih riang, darah tetap mengalir ritmis, dan degup itu terus memukul-memukul. Kita tidak lagi bisa bersama, saling rebah, saling berebut, saling tertunduk. Aku pergi ke pengembaraanku memikul berbeban-beban ketidakberdayaan. Aku jadi pembunuh bagi degup sendiri. (Seperti yang sering kuceritakan padamu, aku sangat ingin jadi pilot pesawat tempur. Melayang-melayang dalam kecepatan tinggi, selamatkan negeri ini dari pemecah persatuan –meski tidak sebagai tentara pemberontak lagi. Maka, setelah lulus di sebuah Sekolah Penerbangan, aku langsung ikut tes untuk pendidikan lanjutan di Angkatan Udara. Aku diterima.)

Berpelepah pakis kemudian kupatahkan dan kupasang di atas anak rambut yang lain. Tapi rapuh dan menyerpih begitu saja. Begitu juga kau, barangkali juga telah mencabut alang-alang dan mencipta begitu banyak cincin untuk jemari yang lain. Perlahan, kita sudah saling lupa. Lupa degup itu. Lupa rencana-rencana itu.

Kepingan Zahara:

Di mataku, kau seperti paman-paman Giyugun (Sebutan untuk tentara di Pulau Sumatra yang dilatih pemerintahan Jepang. Para tentara inilah yng diasumsikan menggerakkan pemberontakan PRRI.) Tangguh. Lebih banyak bekerja daripada bicara. Tapi, setelah remaja, aku mulai risih dan bertanya-tanya, mengapa lelaki harus memanggul senjata dan mereka begitu menyukai perang? Mengapa selalu perempuan yang ditingalkan di rumah, mengurusi bekas-bekas kepergian mereka?

Perempuanlah yang panik menyelamatkan diri dan harta secukupnya; menyembunyikan anak-anak ke tempat yang aman dari lesatan peluru nyasar. Atau, mengantarkan mereka –para lelaki itu– makanan ke tempat persembunyian.

Meski tak dapat kupungkiri, kita punya masa kecil yang riang. Masa yang membuatku selalu merasa nyaman ada di dekatmu.

“Main perang-perangan, yuk,” ajakmu. Maka, aku pasti tidak punya alasan untuk menolaknya. Dengan begitu, aku juga bisa tunjukkan padamu bahwa perempuan juga bisa berbuat dalam kecamuk perang. Aku kadang-kadang memilih jadi dokter. Kadang-kadang jadi ibu-ibu yang menyamar, pura-pura pergi ke sawah, padahal dalam tas rotannya terselip bungkusan bekal untuk tentara pemberontak pada sebuah musim perang saudara yang mencekam.

“Menangkap burung, yuk!”
“Petak umpet, yuk!”
“Mandi hujan, yuk!”
“Melepas layang-layang, yuk!”
“Main kelereng di halaman surau, yuk!”

Aku pasti mau. Asal ada di dekatmu. Meski sering bertengkar dan tak jarang saling diam berhari-hari. Pada kesempatan berikutnya kita sudah rukun lagi.
Sampai di usia remaja, rasa “mau”-ku padamu tetap terjaga. Sampai kita bertunangan, rasa “mau”-ku makin meraja.

Kau pun terlihat sungguh-sunguh menjaga pertunangan kita itu. Tapi, seperti petir di terik siang, surat pembatalan pertunangan kita kuterima darimu tanpa ada alasan yang jelas. Setelah itu kau seperti sengaja menghilang dari hidupku. Tak ada kabar lagi. ( Sepucuk surat berisi pembatalan pertunangan kita kukirim padamu. Maafkan aku. Aku tidak mungkin kau tunggu. Begitu banyak “ketidakmungkinan” dalam hubungan kita dan itu tak bisa kuurai satu-satu.)

Waktu itu komunikasi tidak seperti sekarang. Di masa kanak-kana kita memang bebas bermain. Ke mana saja boleh dikatakan selalu berdua. Tapi, setelah bertunangan, kita tidak bisa lagi sering bersama, sekalipun ada kesempatan. Bertemu denganmu cukup di balik pagar rumahku. Dapat bertukar sapu tangan saja rasanya selangit. Apalagi ketika kau sering memberanikan diri memegang jemariku dan menciumnya dengan gerakan cepat.

Kau tahu tidak, petang itu, waktu kau mencium jemariku, aku dimarahi ibu.
“Tidak boleh menyerahkan diri begitu saja kepada laki-laki, sekalipun dia tungangan kita! Sebelum disantap, gulai memang harus dicicipi sekadar memastikan bumbunya sudah pas atau belum. Tapi, ketika mencicipi, jangan ketagihan. Bila sudah tiba waktu bersantap yang sebenarnya, gulai itu akan tidak terasa nikmat lagi lantaran terlalu sering dicicipi,” petuah ibuku. (Ibu berkata sinis begitu biasanya setelah mengenang-ngenang perangai bapak yang licik. Bapak yang dikabarkan hilang dalam pertempuran melawan tentara pusat, ternyata punya istri baru di kota tetangga. Laki-laki, laki-laki. Belajarlah hidup tanpa bergantung pada laki-laki. Ini kubuktikan. Setelah akhirnya menikah juga, aku tetap pada prinsip itu. Memang benar, di sisa usia, perempuan yang tidak bisa melahirkan anak, seperti aku ini, paling berpeluang untuk sendiri; dibuang; dan dilupakan.)

Sayang, gulai itu, bukan terhidang untuk kita sekalipun sempat mencicipinya, sekadar menghirup rasa harapan.

Surat pembatalan pertunangan itu telah meluluhkan rasa yang kujaga. Kau di mataku tidak lagi seperti Giyugun yang tangguh. Kau tak lebih seperti kerak ketan yang tampak tegar namun melendir ketika disiram air. Kekagumanku padamu melisut dan perlahan terpaksa kumusnahkan.

Aku menata hidup baruku dengan mengeyampingkan kebutuhan pada laki-laki. Laki-laki bagiku seperti lumpur hidup. Misterius dan angker. Ia pada awalnya bisa saja membuai-buai hingga pada saat yang tepat ia menelanku. Dengan sadar kukenali ia dari belakang.

Kepingan Mahmud:

Sampai pada suatu kali, ketika itu, senja lebih merah dari biasanya. Di usia pikun, di mana segalanya makin kabur, aku lihat dirimu tertatih di depanku. Begitu berat langkahmu. (Sebuah kecelakaan latihan melumpuhkan kaki kananku. Aku pincang dan terpaksa ditempatkan di bagian administrasi sampai masa pensiunku tiba. Kecelakaan itulah salah satu sebab mengapa aku memutuskan membatalkan pertunangan kita. Aku tidak akan bisa menunaikan kewajiban sebagai laki-laki normal. Kalaupun kau bisa ikhlas mendapat suami pincang seperti aku, tapi untuk urusan batin, perempuan mana yang bisa tahan? Aku tidak tega.

Lalu, setelah pensiun, aku gunakan seluruh tabunganku untuk mendirikan sebuah Panti Jompo untuk menampung mereka yang sepi dari kasih sayang di hari tuanya. Aku langsung tinggal di sana, bersama mereka. Bangunannya kurancang sendiri di atas tanah seluas 1 hektare. Ada dua asrama (untuk laki-laki dan perempuan) yang dibatasi taman dan sebuah paviliun mungil yang sengaja kutempati. Aku lakukan ini karena mengerti betapa sakitnya sendiri. Dengan menampung mereka, mungkin aku merasa dapat teman. Setidaknya, sebelum nyawa ini berangkat ke barzah, aku sedikit merasa telah berbuat baik antarsesama. Seperti biasa, setiap hari, pegawai-pegawai yang bekerja denganku selalu memberikan laporan orang masuk dan orang keluar. Tapi, sore itu, petugas keamanan panti datang ke ruang kerjaku dan melaporkan ada seorang nenek ingin masuk tetapi tidak membawa keluarga. Aku sungguh tiada menduga, ketika disilakan masuk, yang terbungkuk di depanku itu ternyata dirimu.)

Ahai, di dadaku, tumpukan kisah berpusing, menggigilkan capuk-capuk umur, menoreh isak pada kerut pipiku. Jika ini pertanda aku dapat lagi meraba degup itu, meraih bahumu, dan kau lelap di dadaku, aku mau mematahkan setangkai pelepah pakis lagi, merangkainya jadi mahkota, dan kita kawin di belukar yang juga telah tua itu. ***
Padang, Juli 2006
Cerpen Zelfeni Wimra

Tentang malam yang gelap, apakah sudah kuceritakan?
Tentang kesendirian yang mencekam dan malam yang tak pernah pulang ketika pagi datang. Bintang-bintang hanya saling berkedip lalu hilang dibalik gelap awan. Dan rembulan, terbelah sabit terangi malam dengan temaram.
Bila kesepian begitu mencekam, kenapa tak panggil saja aku. Aku angin melayang di batas ruang, melayap dalam wilayah tak berbatasan. Aku malam yang datang menyelimuti pejam matamu yang gelap. Aku embun yang hempaskan debu dari ruang malam dan mengendapkannya dalam paru-parumu yang keluar malam di ruangku. Aku oksigen yang berebut diburu nafas tidurmu. Aku guling yang kau peluk dalam mesra indah mimpimu. Aku selimut yang menutup rapat dirimu dari dingin udaraku. Aku atap yang di atasmu dan kau tak menatapku dengan sungguh-sungguh sebelum tidurmu. Aku lampu yang menyala karena takut gelapmu. Aku lampu yang padam karena mata tidurmu yang tak kuat cahaya. Aku nyamuk yang pergi dari dingin kamarmu. Aku gelap yang menyelinap ke matamu dan ambil seluruh cahayanya yang tersisa lalu menyimpannya ditempat yang telah Tuhan sediakan. Aku malaikat yang mengantar roh-rohmu bergentayangan ke luar tubuh ke tempat-tempat mimpimu lalu mengembalikannya jika perlu di tepat waktu. Bila sebelum tidur kau berdoa, ” Ya Allah, aku ingin bertemu di waktuMu, perkenankan kiranya.” Maka kubawalah ruhmu pada waktu yang Allah tentukan untuk bertemu.
Aku adalah cahaya yang menyelinap dalam bantalmu dan keluar dilelapmu untuk ucapkan mimpi yang indah yah!
Aku adalah cahaya yang menghias matamu hingga kau bisa melihat Allah dalam gelap kamarmu, dalam gelap malamku, dalam tak gelap cahayaNya.
Itulah aku yang sering menemani burung hantu bernyanyi pelan dengan syahdu dengan mata terbelalak mencari mangsa.
Itulah aku yang sering menemani kelalawar terbang dari bunga kapuk ke bunga kapuk lainnya bergelantungan bergerombol bersliweran cepat.
Akulah yang menemani mekarnya bunga teratai dari sebuah-sebuah kuncupnya.
Akulah yang menemani dingin agar tak mencekiki tubuh-tubuh hingga membeku.
Akulah yang menjaga bintang-bintang agar tetap berkedip walau awan mendung menenggelamkannya.
Akulah…..
Akulah………
Akulah……………
Akulah…………………..