Thursday, December 13th, 2007


Ada seorang, di sebuah taman duduk melihat bintang. Tentu saja waktu itu malam. Ditengah kepungan pohon. Diselimuti gelap temaram, seorang menikmati hidangan dingin campuran madu dan hijaunya teh dalam sebotol plastik. Menarik nafas dalam menghirup udara malam. Menikmati beberapa tegukan, melirik ke teratai mekar, air kolam hitam gelap, lalu berdiri dan beranjak pergi.

Setelah penuh lewati kolam, melirik kecil ke arah kolam. Ada seorang lain duduk dengan sebuah kantong plastik putih disamping, duduk menunggu pancing disapa ikan-ikan kolam yang belum mau pergi ke mimpi – bila ikan pernah ingin bermimpi.

Hati seorang sesaat trenyuh. Akankah seorang lain belum makan hari ini dan dia menunggu ikan untuk disantap malam ini dalam satu ayunan pancing? Seorang bisa merasakan betapa, ah sudahlah.

Seorang terus berjalan meninggalkan dalam kesendirian seorang lain yang masih menunggu seekor ikan berjalan dan menyantap umpan. Semoga beruntung.

Ketika sendiri ingatlah Allah di hati
tak peduli betapa kesunyian mencekam.
Ketika bersama ingatlah Allah betapa
tak peduli tawa yang keraskan hati.
Ketika tak ada
adalah Dia yang begitu dekat.
Ketika ada
adalah Dia yang tak pernah lupa.
Betapa….
Betapa…..
Betapa……
Niscaya!