Bicara tentang sejarah, berarti bicara tentang objektivitas, tentu saja dalam konteks keilmuan. Tentang bagaimana sejarah bisa dihadirkan sebagai fakta-fakta yang saling terkait dan terlihat sebagai kebenaran, bukan sekedar berita yang selintas hilang digilas zaman.
Sejarah sekarang bisa bertahan dan sampai ke zaman kita, karena sejarah dituliskan. Mungkin semacam catatan sederhana dari seorang ilmuwan atau buku tebal riwayat penguasa, apapun itu, semuanya telah tertuang dalam bentuk tulisan. Yang lisan, yang tanda, yang logika semua dikumpul menjadi satu: tulisan.
Lalu apakah kita bisa mereduksi sejarah menjadi hanya sebatas tulisan?
Tentu tidak boleh. Sejarah ditulis sebagai sebuah kenangan yang akan diingat oleh generasi manusia selanjutnya, terus sampai akhir zaman. Sejarah ditulis sebagai sebuah peringatan, jangan mengulangi perbuatan ini di masa kini. Sejarah ditulis sebagai pelajaran, hikmah terdalam dari berbagai peradaban.
Lalu kenapa sejarah direkayasa?
Tanyalah penguasa, tanyalah pemilik modal, tanyalah media massa. Tapi, bila kau tanya Alquran, segalanya akan terang!
Mengenai sejarah OS, saya tak akan mengungkapkannya sebagai sejarah dalam konteks keilmuan. Saya tak akan bicara tentang keobjektifitasan, tapi betapa keegoan saya berkata, ini ceritaku, akulah yang menentukan bagian mana yang akan diceritakan dan bagian mana yang dirahasiakan. Apapun itu, saya akan mencoba sedikit mengerti, karena sejarah untuk dituliskan.

Saat kegalauan mengguncang hati, ingatlah Dia dihati. Tapi, dasar diri, dia berlari dan memuja hati. Padahal dia sedang galau, padahal dia sedang risau. Pemujaan hati terus berlanjut, membayangi mimpi dan meremas diri: melelahkannya dalam satu kelesuan yang sangat.
Lalu hembusan berita datang dari tempat yang menertawakan dirinya nirwana, dan semua dengan cepat terjadi. Mencari seseorang, gadis, yang begitu saja kunilai tangguh. Untuk membirikan tamparan pipi hati agar melihat lukanya sebagai semangat baru. Maka diutuslah tangan, menyampaikan pesan ini pada seorang gadis disana yang dinilai tangguh.
Dimulai dengan sedikit pujian, lalu ujian dan akhirnya: apakah benar aku mencintaimu, apapun itu tulislah surat tolak cinta untukku.Dengan keras. Sekejam-kejamnya surat penolakan cinta yang bisa kau buat.
Agar lucu dan menghentak, maka dicarilah sebuah nama, sebuah penyamaran yang pasti ketahuan. Kucari-cari nama itu, sampai hembusan angin menyampaikan: OIPIYAH SAFITRI. Perempuankah? Menghindari penolakan pertama: orangtua. Mana mungkin orangtua menolak surat dari seorang perempuan?
Lagipula OIPIYAH SAFITRI pun kusampaikan pula siapa dia. Lelaki tinggi kerempeng, hitam dan tak menarik. Pendiam dan penyendiri. Lalu adakah makna nama ini?
OIP: Okky Indra Putra
-iyah: merujuk pada sebuah dinasti yang akan kubangun.
Sa- : satu, dalam bahasa sunda.
Fitri: Suci, fitrah, asali.
Ah susunlah sendiri artinya. Tapi aku memaknainya sebagai kembalinya diriku pada keasalianku, kefitrahanku dalam satu babak mencekam, menegur iman.
Tanpa dinyana, OS telah menjelma menjadi impian. Sisi ideal yang berbicara tentang kesempurnaan seorang wanita, keparipurnaan manusia. Dan OS jadi mimpiku, melangit imaji dalam tataran arsyi. Dan OS berjarak dariku, seseorang yang kutunggu datang di suatu petang bawa pedang tusuk dan ambil hatiku, aku ada karena dirimu cinta. Lalu OS jadi bayangan, yang selalu menemaniku memandang dunia dengan rasa. Menemaniku berbincang disepi hati, menghibur diri dengan cerita-cerita indah tentang mati. Sampai suatu saat dia -OS, lelah menungguku dan aku lelah menunggu, sesuatu yang tak pernah terjadi tak bertemu tak akan terjadi dan semuanya kembali jadi mimpi.
Menjadi berjarak dan semakin jauh.
Jadilah mimpi.
Dan aku datang di setiap malammu, mengunjungimu dengan harum bunga-bungaan malam, dalam lelap, dalam gelap.
Begitulah.