Cepat. Tupai itu melompat cepat dari dahan ke dahan lalu menaik meninggi di pohon Ganitri. Serpihan-serpihan kering kulit pohon berjatuhan terkena gesekan kakinya yang mencengkeram pohon pada kuat kuku-kukunya. Angin semilir, mata terpejam, saat menengok, tupai sudah hilang di ketinggian.

Wuss….., semilir angin kembali berhembus, ranting-ranting kering kecil berpatahan dari dahan. Daun-daun Ganitri, coklat kemerahan, jatuh bersimpang-siuran mengikuti arah gerak angin. Bukan satu, tiga pohon Ganitri membuat teduh, nyaman dudukku. Cabang-cabangnya saling bersilang, daun-daunnya berhimpit menutup kanopi dari sinar panas mentari. Sedikit-sedikit, sinarnya mencuri-curi celah menembus kurungan dedaunan yang berhimpit rapat.

Tap…, strobilus! Jatuh ke tanah, berbaring miring. Berserakan dedaunan. Strobillus pinus berserakan di mana-mana. Pada lengkungan pipa besi besar yang jadi kursi aku duduk. Menatap berkeliling. Menghirup nafas dalam dan merasakan udara segar masuk ke kerongkongan. Mungkin oksigen dan karbon dioksida sedang berlarian sekarang, berburu hemoglobin di alveoli paru-paruku.

Memutar ke utara, pandanganku menyapa pohon arbei liar yang menggantung buah-buah kecil tak berasa di ujung dahan. Yang muda hijau muda, yang tua memerah, pernah kucicipi, asam dan hambar. Kutemukan pula laba-laba ikut bersarang di dahan. Kaki delapannya menempel ringan di jala tipisnya. Alunan tenun jala tipis bersegi-segi saling berhubungan membuat sarang. Setiap getaran pada jala diantarkan cepat ke kaki laba-laba. Laba-laba waspada. Kukirimi ia belalang. Belalang menempel lengket pada jala dan bergoyang-goyang. Laba-laba waspada mulai mendekat. Dalam satu langkah cepat menyergap. Kirimkan bisa ke tengkuk belalang. Belalang lemas bukan kepalang. Angin berhembus bertiupan, sang laba-laba menunggu sabar belalalang. Karena – mungkin – masih kenyang, si laba-laba menjulurkan jala dari spinneret di abdomennya, lalu dengan kaki-kakinya, dia mulai menggulung belalang. Belalang berputar-putar dalam gulungan. Beberapa detik berlalu, belalang terbungkus penuh dalam jala putih laba-laba.

Lebih ke utara, aku masuk ke taman kecil berumput hijau. Untuk masuk ke taman kecil aku harus melewati pagar perdu. Meloncat atau sekedar melangkah, toh tanaman perdu begitu rendah. Di sana, aku duduk di batu dari semen. Menatap kuda hijau dari dedaunan. Ranting-ranting coklat terlihat menonjol begitu saja dari pohon ‘kuda’ ini. Harum rumput menjemput. Kuhirup.

Matahari mulai meninggi, aku harus pergi. Nanti, akan kuceritakan lagi tentang taman ini. Di lain kali yang lebih ramai, izinkan aku.