Ketika Flu mengganggu aku hanya mencoba tersenyum dan mendengar nasehatmu: ucaplah Alhamdulillah. Kepala bisa menjadi berat, sementara hidung tak lagi menghirup udara dengan 20 % oksigennya dengan cara biasa, sungguh menderita. Tapi, aku akan selalu turuti nasehatmu, tersenyum dan berucap Alhamdulillah.

 Ketika flu, seluruh sendi diterjang rasa sakit. Gigi-gigi menjadi linu. Kening panas. Tubuh demam kadang meriang. Mata mengantuk dan panas. Kedinginan. Kehausan. Dan cepat lapar. Saat seperti ini aku banyak makan. Minum berlebih dan meninggikan bantalku saat tidur. Dan tentu saja banyak istirahat dan menuruti nasehatmu: tersenyum dan berucap Alhamdulillah.

 Ketika kau flu, aku selalu mengganggu. Dengan ledekan menggodaku, berbicara dengan menutup hidung. Ketika kau flu, aku senang sekali melihat hidungmu yang memerah dan matamu yang berair.  Kacamatamu tak bisa menyembunyikan betapa matamu berkata: aku sungguh menderita. Dan dari mulutmu hanya terucap: alhamdulillah.

 Ketika kau mengucapkan kata ini – waktu itu, waktu kau flu – aku biasanya langsung diam dan berkata dalam hati, aku tak pernah salah telah jatuh cinta padamu. Aku tersenyum padamu dengan senyum terindah dan kau membalasnya dengan senyum yang lebih indah. Lalu mengerenyitkan keningmu, “ kenapa tersenyum seperti itu?”

 Ingin kujawab, karena aku sungguh mencintaimu tapi yang terjadi aku hanya tersenyum manis. Dan akhirnya kau tertawa, Okky lucu. Dan akupun tertawa. Kita tertawa dan aku bahagia.

 Diantara kita selalu terjadi saat-saat menyenangkan seperti itu. Saat dimana kita begitu dekat, begitu lekat. Saat hati kita begitu saling mengerti dan tak perlu lagi kata untuk saling mengungkap rasa. Saat kita, aku, paling bahagia.

 Apalah lagi yang menghalangi kita untuk selalu bersama. Waktu dan jarak tak lagi mampu memisahkan kita. Tapi, tidak dengan ketetapanNya. Kita telah jauh dalam jarak, tapi itu tak jadi masalah. Waktu memisahkan kita dalam jangka yang sangat jauh, tapi tak pernah jadi masalah. Tapi, tiba-tiba kau berhenti dan aku tak mengerti, kenapa? TakdirNya katamu.

 Takdir yang mana? Takdir yang kapan? Takdir apa?

 Bukan hal mudah bagiku untuk melupakanmu, tetapi, bila kau menemukan seorang sejati yang lebih baik, katakanlah. Aku akan mengalah dan mencintaimu tanpamu. Aku bisa, sangat bisa. Aku diciptakan dengan perasaan seperti ini, selalu siap untuk kecewa. Jangan pernah pedulikan deritamu tapi uruslah kebahagianmu. Bila kau ingin lupakan aku, lupakanlah.

 Biarlah aku disini mengemis cinta dari Tuhan kita.

 Dan kau, uruslah bahagiamu sendiri.

 Kenapa kita begitu cepat berbeda?

 Karena kita tak pernah sama!

 

Ketika flu menyerangku, aku sungguh mengingatmu. Dalam perasaan yang sungguh haru. Ingin aku menangis, bukan untukmu, untukku. Karena dengan bodoh telah mencintaimu dan menderita karenanya.

Ketika sekarang aku flu aku sungguh mengingatmu. Dalam perasaan bahagia ketika kau sebarkan berita, sungguh dirimu menderita karena cinta. Cintamu padaku yang tak kau temukan pada lelaki sejati manapun.

Cintaku unik. Cintamu spesifik.