Kerinduan ini untuk ibu. Rasa-rasa yang membuat hati bergetar hebat dan air mata ini membuncah, mengalir, basahlah pipiku. Tangis yang tak bisa berhenti, bila saja tak ku ingat harapmu padaku yang tak kau ucapkan saat aku mengerti ucapan. Semuanya untuk ibu, sehingga salah satu ruangan di hatiku ini khusus untukmu. Ibu aku rindu.
Dan rindu ini untuk Ibu. Untuk kasih sayangmu dipagi hari yang hangatnya lebih hangat dari mentari pagi. Untuk kasih sayang ia di waktu siang yang memberi kesejukan di panas terik tengah hari. Untuk kasih sayangnya di malam yang menyelimuti dari dingin malam. Untuk kasih sayang yang semuanya tercurah untukku dengan begitu deras dan tak terbalas.
Rindu ini untuk Ibu. Di malam dingin hangat dekapanmu. Di pangkuan kepalaku tertahan belaian lembut ke rambut kepalaku. Di pelukanmu reda tangisku oleh nyamannya wajahmu. Di rasa hambar ASImu kenyangkan laparku. Di setiap kata dan sentuhan sayangmu, tersimpan rindu betapa, untuk Ibu.
Dan kerinduan ini untuk Ibu, untuk air mata bahagia yang diteteskannya, untuk keringat payah yang lelahnya, untuk darah mengalir di nadiku yang darahnya, untuk surga yang dititip Tuhan di telapak kakinya, untuk surga kasih sayangnya. Dan kerinduan ini menjelma cinta: teriring doa untukmu tak henti, menjelma cipta: menyipta karya untukmu tak henti, menjelma aku: anakmu, mengalun kebaikan untukmu tak henti
Ketika senyummu ketika tangismu ketika air matamu ketika gelakmu ketika doamu semua menjelma rindu yang membuatku hanya menangis di tengah doaku, aku menjelma Ibu jadi kasih tak henti sepanjang nyawa tak terbatas ketika saat lalu dan nanti, abadi?
December 25, 2007