Itu ibuku, yang berkerudung merah. Dia cantik bukan? Bibirnya merah tanpa gincu, pipinya merah merona, dan matanya tajam. Bila kau pandang dekat, kau akan melihat kejernihan matanya, menenggelamkanmu ke kesegaran telaga kebahagian. Dan kalau kau pandang lekat, sungguh roman wajahnya memberikan kesejukan, embun pagi menetes dari daun membasahi hatimu. Hampirilah dia dekat, kau akan melihat senyumnya merekah, menghangatkan jiwamu, matahari terbit hangatkan jiwa. Aku bangga, dia ibuku.
“Ibu, bila semua anak tak lagi percaya surga ada di bawah telapak kaki ibunya, aku tetap anakmu dan aku percaya, kau ibuku, yang hadirkan surga di hatiku.”
Ibu hanya tersenyum, membelai kepalaku lembut lalu membawanya ke dekapan dadanya. Hangat.
“Anakku, Tuhan menciptakan ibumu ini untuk membimbingmu ke surga. Celakalah ibu, bila melalaikan tugas ini.”
Ibu memandangku lekap. Matanya berbinar memembus mataku, lewati otakku, memenuhi memoriku dengan tatapan harapnya. Lalu dia kembali mendekapku, lebih rekat.
“Ibu, aku anakmu. Baktiku untukmu tak cukup untuk balas kasihmu. Apa hendak kuperi?”
Aku mengeluh. Entah karena apa, aku merasa tak lagi cukup dengan segala lakuku untuk bakti pada ibu.
“Anakku, aku ibumu. Baktimu padaku tak cukup ibu tuturkan dengan kata, betapa ibu bahagia. Senyummu, bilapun ketus, memberi kehangatan pada perasaan ibu. Berimu, bilapun sedikit, sungguh begitu menyentuh hati ibu.”
Aku termangu dalam haru jiwaku. Air mata berbulatan di tepi mata siap terjun melepas rasa. Dia menyekanya, sebelum sempat turun. Lalu mendekapku dalam dekapan hangat.
Dia ibuku. Cintaku seumur hidup!