Aku bertanya pada langit dan dia diam dalam kebiruannya. Aku ingin bidadari, bertemu dan mengajaknya pergi temui ibu.
“Kenapa membisu?”
“Siapa melawan takdirku?”
“Kau hanya langit. Bisu dalam birumu!”
“Bagaimana cara kau mengerti?”
Kukira semua sudah akan selesai. Tak lagi ada guna aku disini, memandang langit yang pelik. Kenapa dia tak menjawab. Aku hanya ingin seorang saja, seorang bidadari yang bisa kuajak pergi, temui ibu.
Dan hari mulai berubah. Dia mulai tak biru, tampakkan awan putih bergumpal, lalu angin menyatukan awan-awan putih, menghitam lalu menghujan, tetesnya lembut berjatuhan, serupa es dari awan lalu mencair bergerimisan di bumi yang lalu menderas tetesan-tetesannya memburu tanah. Kesetian, begitulah kusebut, air yang berkelana semusim di bumantara kembali ke bumi temui kawan mereka di mata air mengalir sungai mengalir danau mengalir lautan jadi samudera.
“Apa kau masih akan diam?”
“Hati-hati, bisa kena petir!”
“Beriku petunjuk, setidaknya, bila tak ada yang mau kau katakan tentang bidadari.”
“Awan-awan ini bisa menghasilkan petir, begitulah. Petir meloncat dan menyambar dekat, turun cepat dan nyala api!”
“Kurasa, aku harus pergi. Membawa kesedihanku dengan mengabari ibuku, ‘Bu, langit tidak tahu tentang bidadari, maaf.’ Dia mungkin menangis, terharu, karena aku telah datang menemuimu tuk bawakan bidadari tuk ibu. Tapi, aku pergi saja. Tak ada guna aku disini.”
“Tunggu, kau akan segera melihatnya.”
Dia mengatakannya dengan tenang lalu berbisik,
“Bila petir tak menyambarmu sebelumnya.”
“Bidadari?”
Dia tersenyum tampakan mentari dari singkapan awan hitam yang mulai memutih, silau.
“Pelangi….”
“Pelangi?”
“Lihat itu!”
“Bidadari?”
Berupa warna melengkung dalam tumpukan teratur berurutan merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu. Dan katakan saja itu sungguh indah, apalagi dari tempatku berada, langit. Ingin kusentuh, semakin kudekatkan tanganku, untuk menyentuhnya, semakin pelangi menjauh.
“Tak kah bisa kusentuh?”
“Seperti pelangi, itulah bidadari. Mungkin kau bisa temukan, tapi, itu sebuah keberuntungan. Ketika kau beruntung menemukannya, dia tetap berjarak darimu, tak tersentuh.”
Dia menghela nafas pelan, angin sepoi berhembusan.
“ Bidadari hanya tinggal disurga, tapi, beberapa, turun ke bumi. Beberapa datang menghibur pejihad yang sakaratul maut, beberapa menjaga bayi yang dibuang ibu sampai Izrail atau manusia, menjemputnya, beberapa ke hutan menjaga bibit berkecambah dan bunga mekar sempurna, yang lain menjaga lelaki yang menjaga diri. Itu beberapa yang kutahu, yang lainnya biar kusimpan untukku sendiri.”
“Dimana? Bidadariku.”
April 29, 2008 at 12:31 pm
disini hahahahaha
May 2, 2008 at 2:35 am
Hmmm…., mana bisa?
May 28, 2008 at 12:05 pm
beuh, berat blognya kk oip nih ya. nyastra pisan euy..
July 17, 2008 at 4:07 am
oh ga bisa ya?? hahahaha bagus banget tuh blognya. di bukukan saja.. aq tunggu ya
December 4, 2008 at 2:19 am
bidadari ada berapa sih?
soalnya sy jg pengen pny bidadari sendiri