Ketika itu, mentari sempurna maherat, gelaplah sekeliling alam. Empatbelas orang bersiap. Periksa segala perlu. Tas isi makanan atau sekalian baju ganti. Senter penerang jalan, parapin, payung atau jas hujan dan sepatu di kaki.
Kami akan mendaki. Sepanjang malam menaik tinggi dan ketika puncak mentari terbit menyapa hari. Kami satukan tekad lalu berdoa dalam khusyu. Berjanji untuk saling jaga, saling urus.
Inilah gerbang awal. Gerbang menuju jalan pendakian. Kami berbaris rapi sesuai urutan sebahat. Berjalan ayal menyusur rua. Berarak tanpa riak.
Hari benar-benar gelap. Kami jalan merayap. Senter di tangan menunduk ke jalan. Sekedar terangi arah kaki melangkah.
Dari langit, awan hitam menambah pekat gelap. Tetes air turun, satu-satu jadi seribu. Gerimis datang menyerbu memaksa kami bersiap, buka tas pasang jas. Semua sekarang telah tertutup rapat, siap berjalan dalam pengap jas hujan.
Jalanan licin, beberapa kami merangkak agar tak jatuh, beberapa jatuh terpeleset dan menimpa lainnya. Jalanan begitu licin, tanah keras di bawah di atasnya lumpur erosi humus. Hujan berintik saja tapi airnya mengalir kecil di jalanan kami. Sinar senter semua menyorot ke bawah, waspada pada rawannya jalan membuat jatuh.
Di sebuah tanjakan, tali tambang di ulurkan. Seorang ke atas menahan beban. Yang bawah pegang erat tali naik ke atas. Belumlah sampai semua tali putus. Beberapa terjengkang menabrak orang belakang. Beberapa tertawa, beberapa meringis menahan benturan.
Setelah tanjakan itu, kantong plastik besar mulai dikeluarkan. Semua sisinya dikoyak lalu setiap ujung disambung dengan rapia: bivak!
Di bawah bivak parapin dibakar. Mendidihkan air untuk sekedar kopi dan menyeduh mie. Semua kami makan bersama, dalam lelah dan lapar bersama. Cerita-cerita mulai diperdengarkan, gigi-gigi mulai bergemeretakan, dan angin hutan mengaum dalam hembusan. Dingin hujan, dingin malam dan dingin kebasahan membuat kami terasa beku. STMJ panas menghangatkan tenggorokan, mencairkan bagian-bagian tubuh yang membeku.
Alunan suara pelan membelah alam, inilah ayat-ayat(tentang)mu yang kami baca. Yang telah dituliskanNya agar kita mengerti bahasamu. Seluruh hati menyentuh alam dan bilang aku pulang, kembali jadi bagianmu, tak terpisah.
Fajar akan segera tiba ketika kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Hembusan keras angin mulai hanya sayup terdengar. Telusuri jalan yang lebih luas, leluasa dilewati.
Jalanan mulai menanjak ketika fajar segera tiba. Sembahyang di atas jas hujan lalu menikmati semburat fajar di mendung awan. Matahari malu kelihatan, bersembunyi dalam kelambu awan langit ranjangnya.
Semakin naik ke puncak tertinggi, matahari semakin tak peduli dengan malunya, menyapa kami, hangat senyumnya.
Ah, empatbelas orang dan alam begitu luas. Meramu rasa untuk tak jemu memuji. Inilah ayatMu, kami sedang belajar membacanya.