Bumi malam, bumi diam. Wanita jalang, wanita liar berkeliaran. Bersembunyi dari rembulan dalam baju tak karuan. Bertebaran umbar nafsu kesetanan. Aku tiang, aku diam. Mematung dalam bisu. Hamparan kenistaan mengabur dalam kegelapan, awan menukik hitam membawa gelap dalam rangkulan. Tetesan air langit berjatuhan, satu-satu jadi seribu. Wanita jalang, wanita liar berlarian lari hujan. Berumpetan setan-setan dalam bilik kebinalan. Aku patung, aku tiang, berdiri dalam diam.
Angin kelebat, angin cepat. Wanita datang, payung kembang. Sepi diri ramai tetesan hujan, membumi sederasnya. Wanita diam, payung bergoyang, menahan hujan bertetesan.
“Kau basah.”
“Kau siapa?”
“Pulanglah!”
“Aku siapa?”
“Mari…..”
Angin garit, hati menderit.
“Ibuku sakit.”
“Aku tahu. Sulit dan rumit.”
“Uang. Ibuku sakit. Dia butuh obat.”
“Kematian telah dekat.”
“Aku mau ibu hidup, masih sesaat.”
“Kau hidup, ibumu selalu hidup. Dengar hatimu. Begitulah nasehat.”
Aku memeluk, tangannya erat di bahuku. Aku menangis. Semua rasa meluap.