
Aku suka ketinggian. Karena dari ketinggian aku bisa melihat lebih banyak hal, hamparan yang lebih luas dan lebih jauh. Sebuah kepuasan.
Waktu kecil aku adalah pemanjat pohon ulung. Dari jambu sampai kelapa. Ujung dahan jamblang jadi saksi ketika aku bergelayutan mencapai tepi ranting yang penuh dengan gerembolan buah jamblang. Tetangga yang lewat jalan depan rumah, jadi saksi ketika aku bersandar nyaman di dahan pohon kecapi, mengulum buahnya sambil membaca buku sejarahku.
Ketika pohon-pohon itu tumbang – manusia semakin banyak, aku mulai naik pesawat (yang ini tak bisa dianggap serius). Mencapai ketinggian ribuan kilo, berjumpa awan-awan putih bergumpal-gumpal. Daratan serupa ladang hijau di depan halaman. Sementara lautan, sebiru langit.
Ketika tak lagi ada pesawat yang mau membawaku pergi, aku mulai mendaki daratan tertinggi: gunung. Mendaki berkilo-kilo hanya sekedar untuk menikmati sensasi ketinggian. Rasa capek selama mendaki terobati dengan kepuasan menatap langit lebih dekat.
Ah…, aku benar-benar suka ketinggian. Serasa lebih dekat dengan Tuhan. Kuharap ada kesempatan aku menikmati “buraq” menembus langit sampai lapis ke tujuh!
Matahari meninggi. Bisikan awan pada hujan tadi malam tak terdengar lagi. Langit membiru biru. Lintasan sedikit basah tertimpa hujan semalam. Pasir coklat berkerikil lembut memenuhi seluruh lintasan.
Aku berlari, pelan dan santai. Beberapa orang berjalan dan mengobrol. Yang lain bernyanyi lagu di walkman-nya sambil berlari. Anak kecil berlari dituntun ibunya. Lintasan melingkar membuat aku berputar. Berkeliling berkali sampai hitungan sampai.
Bukan mengulur waktu, aku hanya menunggu: seseorang lewat di depanku lalu menyapa: mau ikut? Lalu aku tersenyum dan dia pergi.
Tapi semuanya selalu begitu. Ketika aku duduk di sana, sendiri saja dan beberapa. Tembok-tembok memandangiku dingin. Lalu, suara-suara yang hilang mulai kembali. Tak gaduh juga.
Kenapa aku tidak membawa buku – yang aku bisa masuk ke dalamnya. Melahap sup bersama si sakit. Atau sekedar menjenguk si gila. Atau berlari-lari di gurun Gobi. Aku juga bisa menyelam bersama duyung atau berburu penguin di kutub selatan. Tapi, tak satupun, tak satupun yang aku bawa. Jadi aku diam saja.
Detik-detik menghantam membuatku jemu. Aku terus duduk, memangu. Menatap segala arah yang hanya tembok.
Aku hanya menunggu, tidak mengulur waktu. Karena dia pasti datang. Ucapkan kata sayang lalu bawa aku pergi bersamanya.
Ini adalah kisah biasa seorang lelaki tak beristri. Tak patutlah kita dengar cerita ini dari lain orang. Maka, kuceritakan langsung kepadamu tentang seorang lelaki biasa yang belum beroleh istri ini.
Ini bukan sebuah kisah gembira. Semuanya bermula ketika dia kehilangan. Di tinggal seorang yang telah begitu setia menemani ke mana ia pergi. Telahlah ia kehilangan dengan begitu sangat pedih di hati. Bagaimana tidak, kalau hati telah jatuh pada seorang lalu ditinggalkannyalah kita, betapalah sakit di hati. Begitupun dia. Dia memang tak meratap karena seorang lelaki katanya harus berusaha menabahkan diri di hadapan Tuhan. Telah dia beroleh kecewa, tapi, untuk apalah dia berputus asa, dia selalu bisa bangkit setelah jatuh tersungkur. Tapi, apakah dia akan bangun lagi kali ini setelah kejatuhan yang begitu mengguncang hati?
(more…)