Ini adalah kisah biasa seorang lelaki tak beristri. Tak patutlah kita dengar cerita ini dari lain orang. Maka, kuceritakan langsung kepadamu tentang seorang lelaki biasa yang belum beroleh istri ini.

Ini bukan sebuah kisah gembira. Semuanya bermula ketika dia kehilangan. Di tinggal seorang yang telah begitu setia menemani ke mana ia pergi. Telahlah ia kehilangan dengan begitu sangat pedih di hati. Bagaimana tidak, kalau hati telah jatuh pada seorang lalu ditinggalkannyalah kita, betapalah sakit di hati. Begitupun dia. Dia memang tak meratap karena seorang lelaki katanya harus berusaha menabahkan diri di hadapan Tuhan. Telah dia beroleh kecewa, tapi, untuk apalah dia berputus asa, dia selalu bisa bangkit setelah jatuh tersungkur. Tapi, apakah dia akan bangun lagi kali ini setelah kejatuhan yang begitu mengguncang hati?

Bila kita sedikit mengurut waktu, tahulah kita dimana dia bertemu dengan seorang yang begitu istimewa itu. Di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai orang ingin bersenang dan bersenda. Lihat ia segala orang yang lewat. Orang dengan baju rapi dan seorang kekasih. Orang dengan celana pendek dan sandal. Orang berkacamata hitam berbaju hitam. Atau petugas yang membawa benda sepanjang golok yang mengeluarkan cahaya merah. Dan tentu, gadis-gadis cantik menarik hati.

Tapi, dia tak terlalu tertarik dengan gadis-gadis itu. Hanya pada seorang di sebuah toko yang telah menunggu dengan sabar datangnya, dia tertarik. Bila kau bisa melihat hatinya, kau akan tahu dia hanya tertarik pada seorang itu. Maka masuklah ia dan mulai mencari dimana beradanya seorang yang menunggu itu. Bertemulah mereka, di sebuah tempat yang tak pantas bagi seorang kekasih menemukan cinta pertamanya, di sebuah tempat penjualan alas kaki. Macam-macamlah disana dijual berbagai alas kaki. Dan seorang itu telah berada disana lama, menunggunya.

Dia menghampiri seorang itu, dan mengajak pergi bersamanya. Dan setelahnya, kau akan melihat kemana dia pergi seorang itu selalu bersamanya. Bila kau tanya kenapa dia memilih seorang itu, kau hanya akan mendapat jawaban yang kabur. Sekali dia bilang, seorang itu seorang yang easy going. Mudah diajak kemana saja dan selalu menampakkan keceriaannya di segala suasana. Sekali lain dia bilang, ini sudah jalan yang harus dipilihnya, menyukai lalu memiliki seorang itu. Dan sekali lain dia pun bilang, mungkin seorang itu bukan yang terbaik buatnya, tapi, dia yang terbaik buatnya.

Bermacam-macam pula pendapat orang tentang hubungan mereka. Ada bilang, dia telah menyalahi aturan agama, tak boleh berkasih-kasihan sebelum pinangan jadi nikahan. Yang lain bilang, bolehlah dia bermesra-mesraan, tapi janganlah dilakukan ditempat umum macam taman ini. Berlakulah berbagai macam perkatan orang ini pada opini khalayak. Taklah sampai ia dikucilkan, tapi telah dipandang orang ia sebagai orang murahan, karena telah bergaul dengan seorang yang murahan.

Tak apalah orang bilang seorang itu sebagai orang murahan, tapi, apa mau dikata, seorang itu miliknya, punyanya. Terserahlah apa kata orang, tapi, dia telah bangga karena memiliki seorang itu sebagai orang yang selalu menemani ke mana ia pergi. Orang-orang itu pada cemburu pada pikirnya suatu kali, karena dia telah mendapati seorang yang telah begitu setia. Apatah di zaman sekarang ini. Zaman yang perpisahan suami istri terjadi dimana saja. Di zaman orang senang berganti pasangan seperti ganti pakaian saja. Tentulah cemburu semua orang demi melihat kami begitu rukun, ke mana selalu bersama dengan saling menjaga.

Tentang seorang itu, baiklah akan kuceritakan sedikit tentangnya. Bagi kebanyakan orang seorang itu tak sama sekali cantik. Murahan dan gampang digoda. Tapi, sungguh pun begitu dia begitu setia pada seorang yang memilihnya. Kecantikannya bukan terletak pada wajahnya, tapi pada perilakunya yang begitu menyenangkan. Selalu ceria setiap saat. Bermurah senyum pada semua. Dan kalau dipandang lebih dekat, kau pun akan mengerti kenapa dia jatuh cinta pada seorang ini. Dia mempesona. Kulitnya lembut dan empuk. Memberi kenyaman pada setiap pelukan.

Segala keindahan hidup telah direguknya bersama seorang itu disampingnya. Ke mana dan di mana, selalu bersama. Mendaki bukit tinggi lalu saling berjanji untuk saling menepati cita-cita, disaksi tenggelamnya surya di jelaga senja.

Semuanya berjalan baik, sampai di suatu malam muram. Begitu muram, sampai tangan di muka tak kelihatan. Gemuruh bersusulan di langit berawan hitam. Ketika itu, aku pergi sebentar, tinggalkan ia pada kumpulan beberapa jenisnya. Cuma sebentar, menengok orang-orang yang sedang merapat. Hanya sebentar dan begitu aku kembali dia telah lenyap. Tanpa jejak!

Dia yang begitu kusangka setia telah pergi. Aku ditinggalnya sendiri, tanpa ucap pisah apa salam rindu. Aku kecewa sungguh, hati memendam amarah, mendendam deru. Kubuang saja semua rasa untuknya! Muak aku menggunung, memuncak dalam kegetiran. Kulupakan saja dia! Toh dia hanya seorang sandal jepit! Sanpit!