Bukan mengulur waktu, aku hanya menunggu: seseorang lewat di depanku lalu menyapa: mau ikut? Lalu aku tersenyum dan dia pergi.
Tapi semuanya selalu begitu. Ketika aku duduk di sana, sendiri saja dan beberapa. Tembok-tembok memandangiku dingin. Lalu, suara-suara yang hilang mulai kembali. Tak gaduh juga.
Kenapa aku tidak membawa buku – yang aku bisa masuk ke dalamnya. Melahap sup bersama si sakit. Atau sekedar menjenguk si gila. Atau berlari-lari di gurun Gobi. Aku juga bisa menyelam bersama duyung atau berburu penguin di kutub selatan. Tapi, tak satupun, tak satupun yang aku bawa. Jadi aku diam saja.
Detik-detik menghantam membuatku jemu. Aku terus duduk, memangu. Menatap segala arah yang hanya tembok.
Aku hanya menunggu, tidak mengulur waktu. Karena dia pasti datang. Ucapkan kata sayang lalu bawa aku pergi bersamanya.
July 17, 2008 at 4:22 am
gile… menunggu aja jd begitu indah ya klw d blog mu
July 17, 2008 at 1:18 pm
menunggu…jika jemu, mengapa terus menunggu??? kamu memang tidak mengulur waktu…tembok dan langitpun tau itu. karena tak ada yang dapat mengulur waktu, yang ada hanya hilang. lalu. dan tak berulang juga kembali.
July 17, 2008 at 4:23 pm
Kadang menunggu menjadi keharusan dan kita hanya bisa pasrah terdiam.