Aku suka ketinggian. Karena dari ketinggian aku bisa melihat lebih banyak hal, hamparan yang lebih luas dan lebih jauh. Sebuah kepuasan.

Waktu kecil aku adalah pemanjat pohon ulung. Dari jambu sampai kelapa. Ujung dahan jamblang jadi saksi ketika aku bergelayutan mencapai tepi ranting yang penuh dengan gerembolan buah jamblang. Tetangga yang lewat jalan depan rumah, jadi saksi ketika aku bersandar nyaman di dahan pohon kecapi, mengulum buahnya sambil membaca buku sejarahku.

Ketika pohon-pohon itu tumbang – manusia semakin banyak, aku mulai naik pesawat (yang ini tak bisa dianggap serius). Mencapai ketinggian ribuan kilo, berjumpa awan-awan putih bergumpal-gumpal. Daratan serupa ladang hijau di depan halaman. Sementara lautan, sebiru langit.

Ketika tak lagi ada pesawat yang mau membawaku pergi, aku mulai mendaki daratan tertinggi: gunung. Mendaki berkilo-kilo hanya sekedar untuk menikmati sensasi ketinggian. Rasa capek selama mendaki terobati dengan kepuasan menatap langit lebih dekat.

Ah…, aku benar-benar suka ketinggian. Serasa lebih dekat dengan Tuhan. Kuharap ada kesempatan aku menikmati “buraq” menembus langit sampai lapis ke tujuh!