Ah….
Semoga kamu tak cuma numpang lewat!
August 31, 2008
Ah….
Semoga kamu tak cuma numpang lewat!
August 28, 2008
Aku diam,
mencariMu dalam sunyi.
August 25, 2008
Kilatan-kilatan cahaya berlompatan. Neuron-neuron mengisi muatan, bertukaran muatan lalu kilatan kembali berlompatan. Kilatan-kilatan selalu begitu saja terjadi: ketika cahaya menyerbu mata dan benda-benda jadi kepingan transmiten, berlompatan ke dendrit lalu begitu saja pergi ke akson dan berjalan-jalan di sel schwann. Ketika suara menumbuk gendang telinga lalu berhamburan jadi transmiten atau ketika otot-otot bergerak dan mengirim simpul-simpul gelombang ke syaraf dan terjadilah begitu.
Kilatan-kilatan itu selalu berakhir di suatu tempat, yang maha rumit dan berlipat-lipat. Suatu tempat keabu-abuan yang penuh dengan kilatan cahaya tak terkira. Di sinilah muatan-muatan transmiten di dendrit paling ujung di simpan. Dan ketika sengatan memori datang, transmiten-transmiten yang tersimpan berhamburan jadi listrik. Memamerkan kilatan cahaya yang berlompatan, memenuhi diensefalon dengan silau.
August 22, 2008
Bukanlah pada kata aku bermadah
tapi, pada cinta aku berdusta
Pikiranku telah sempurna memikirkanmu dalam setiap alir rasa
dan wajahmu serupa mimpi
tenggelam dalam kenyenyakan tidur
lalu bermunculan dalam setiap syaraf ingatan
Pergilah! pergi!
jangan hiraukan aku!
Janganlah! jangan!
tak perlu kau peduli aku!
Dan biarkan aku melupakanmu
dalam sekali lewat
Menghapus semua ingatan tentang dirimu yang begitu memesona
Biarkan ingatanku untukmu hanya sebuah fatamorgana yang dilupa saat oase ketemu
August 19, 2008
Maaf saja
Aku bukan lagi tak cinta
Tapi apa mau dikata
Aku tak lagi mampu menanggung derita
Begitu sajakah?
Bukan begitu!
Aku takut kau kecewa
Yah sudah kita akhiri saja
Toh tak ada yang rugi
Biarkan saja pergi
Toh tak akan kembali
Lalu kita bisa bersama bukan?
Sudahlah.
Kita bisa bersama
Sudah yah.
Maaf.
untuk maaf seseorang yang belum jua kuterima, padahal aku sudah.
August 18, 2008
Ketika rindu ini datang
Aku telah mencintaimu disetiap getaran rinduku
Mencoba untuk mencintai
Tak peduli disana mimpimu tak bersamaku
August 18, 2008
Air mata….
Tangisku…..
Segala……..
Lama tak bertemu.
August 17, 2008
Pada bebas jiwaku
itu hutangku padamu
Aku bayar dengan darah kau tak mau
Hendak apa kau perbuat untuk sadarkanku
Kau kini lemah dikuburmu sepi merana
Apa hendak kau perbuat
Bila aku mati sebelum hutangku terbayar
Kau lemah di kuburmu sepi merana
Apa dayamu melarangku merusak
Ini bukan lagi waktumu
Ini hidupku
dan kau lemah dalam kubur sepi betapa
Tak kah kau sadar
Aku rindu jiwamu dijiwaku
Aku mau darahmu dalam darahku
Aku mau semangatmu tak mati di diriku
Pahlawan,
merdeka sudah aku
merdeka sudah negeriku
Tapi, menangislah
karena kau pantas
August 15, 2008
Danarto? Siapa?
Ada yang bilang, jika Pramoedya adalah mata kanan Indonesia maka Danarto adalah mata kirinya. Keduanya sama produktifnya, Pramoedya dengan novel-novelnya lalu Danarto dengan cerpen-cerpennya. Jika karya Pramoedya kental dengan nuansa ke-Indonesian dan Nasionalismenya, maka karya Danarto kental dengan tradisi Jawa dan kesufiannya (yang agak menjurus-jurus ke wihdatul wujud).
Kukira cukup perkenalan dengan Danartonya. Sekarang aku akan cerita tentang aku (yang tentu saja tak akan bergitu menarik):
Pagi itu, selepas istirahat pagi sekolah, seperti biasa aku berkunjung ke perpustakaan sekolah. Perpustakaan kami memang sederhana, tapi, cukup menyimpan harta yang berharga. Contohnya saja ada Kitab Cerpen, Drama, Novel, Puisi dan Esai Indonesia yang diterbitkan Horison. Sebuah Kitab Sakti tentang Masterpice para sastrawan Indonesia dari zaman Syeikh Abdul Kadir Munsyi sampai Dewi “Dee” Lestari. Lalu ada buku Kimia Dasar untuk Universitas dan Kimia Organik yang memusingkan aku dengan begitu banyak rumus yang nantinya berguna ketika aku menemuinya dengan agak serius di kuliahku.
August 15, 2008
Seperti langkah bidadari, pelan dan penuh pesona, dia datang.
Membawa senyum perengkuh jiwa.
Pelayang hati ke langit tak bertepi.
Aku larut dalam kemesraan rindu padanya.
Coba kutangkap derap langkahnya menuju.