Siang itu aku datang, membuka kunci kombinasi, lalu medorong pintu sampai buka. Seperti biasa, aku menaruh tas, menyalakan komputer dan menikmati hijau rumput yang menghampar di depan-bawahku. Tepat dibelakang monitor komputer, jendela-jendela kaca terpajang, 8 buah: memberi ruangan sinar hangat matahari yang membakar semangat. Dari kaca-kaca ini aku bisa menembuskan pandanganku ke depan-bawah atau ke depan-lurus.
Itu pandangan indah siang itu, sebelum aku menengok ke kanan, melihat dua onggok kantong plastik berisi tumpukan buku-buku. Yang satu masih utuh, yang satu lagi terkoyak di salah satu sisinya. Ah benar-benar tercabik-cabik. Robekan terjadi di satu sisi dan sisa-sisa robekannya berceceran di lantai.
Tak perlu berpikir pelik, aku langsung menuduh tikus sebagai pelakunya. Setelah beberapa aku memanggil, tikus-tikus itu datang. Bulunya hitam kusam dengan ekor panjang dan telinga kecil yang melebar. Di depan moncongnya dia menyunggingkan senyum, penuh rasa bersalah. Kutanya mereka satu-satu, interogasi!
Pertanyaan: Tadi pagi Anda ada di mana?
Tikus I : Tadi pagi aku tak ke mana-mana. Aku sedikit flu, punggungku terasa sakit. Jadi aku hanya tiduran di rumah (mukanya benar- benar memelas dan berkali-kali dia bersin dan menyebarkan lendir di sekitar karpet, uh, menjijikan!).
Tikus II : Jadi kamu menuduhku sebagai pelaku kejahatan ini? Mana bisa begitu? Kamu tak punya bukti kan? Jangan kira karena aku tikus jadi bisa di tuduh seenaknya! (Dia benar-benar penuh emosi!)