Tuesday, August 12th, 2008


bukan gelap hanya saja tak lagi perlu semua ini
aku telah mendapat matahariku
dan tak perlu lagi ke lain cahaya
karena hariku tak pernah malam
aku akan terus tersenyum
menatap hari dengan bangga
dan katakan inilah diriku
seperti layaknya.

Dilangit yang sedikit rendah, awan hitam mulai mengepung. Si Cumolo-nimbus1 rupanya. Matahari sudah tidak terlihat lagi. Kegelapan menutupi setiap penjuru. Sungguh, bila kau ikut melihat, mungkin perasaan kita sama: malam. Setiap makhluk mulai berlarian kembali ke sarang. Tak terkecuali manusia. Mereka menutup pintu dan jendela rumah masing-masing, lalu mulai menyalakan api, entah itu dari perapian yang bercerobong asap seperti di Eropa atau Amerika atau hanya sekedar hau2 untuk siduru3 bagi orang Sunda. Tapi, lihat kawan, ada sekelompok anak menunggu dipohon jambu. Sedang apa mereka dan menunggu apa? Bila kau tanya, jawab mereka: “Menunggu hujan!”, singkat saja jawabannya. Menunggu hujan? Tunggu, kau bawa payung kan saat bertanya. Sebab kurasa ada yang menyenandungkan lirik ini:

“Hujan rintik-rintik…..turun rintik-rintik……di halaman..di jalan..hujan rintik-rintik.. ambilkan payung untuk berlindung…hujan turun.. hujan rintik-rintik.” 4

Hemm, untunglah kau mengerti arti peribahasa sedia payung sebelum hujan kawan, kalau tidak kau akan basah kuyup seperti anak-anak yang berlarian itu. Lho, bukannya mereka sedang berlindung di bawah pohon jambu ini? Tidak kawan, mereka tadi sedang melakukan ritual: merayakan hujan. Berkumpul bersama di bawah pohon disaat hari mendung berharap hujan turun sambil bermain kecil-kecilan. Setelah hujan, mereka akan berlarian, berhamburan, tak karuan dan tanpa alas kaki. Semua rumah tetangga dilewati lalu berhenti di kocoran air di sudut atap rumah, menikmati air mancur dari tempat tinggi. Lihatlah kawan, air itu mengalir ke wajah mereka yang penuh senyuman. Lihat muka mereka kawan, berseri, sungguh penuh kebahagian anak kecil.

(more…)