Friday, August 15th, 2008


Danarto? Siapa?

Ada yang bilang, jika Pramoedya adalah mata kanan Indonesia maka Danarto adalah mata kirinya. Keduanya sama produktifnya, Pramoedya dengan novel-novelnya lalu Danarto dengan cerpen-cerpennya. Jika karya Pramoedya kental dengan nuansa ke-Indonesian dan Nasionalismenya, maka karya Danarto kental dengan tradisi Jawa dan kesufiannya (yang agak menjurus-jurus ke wihdatul wujud).

Kukira cukup perkenalan dengan Danartonya. Sekarang aku akan cerita tentang aku (yang tentu saja tak akan bergitu menarik):

Pagi itu, selepas istirahat pagi sekolah, seperti biasa aku berkunjung ke perpustakaan sekolah. Perpustakaan kami memang sederhana, tapi, cukup menyimpan harta yang berharga. Contohnya saja ada Kitab Cerpen, Drama, Novel, Puisi dan Esai Indonesia yang diterbitkan Horison. Sebuah Kitab Sakti tentang Masterpice para sastrawan Indonesia dari zaman Syeikh Abdul Kadir Munsyi sampai Dewi “Dee” Lestari. Lalu ada buku Kimia Dasar untuk Universitas dan Kimia Organik yang memusingkan aku dengan begitu banyak rumus yang nantinya berguna ketika aku menemuinya dengan agak serius di kuliahku.

(more…)

Seperti langkah bidadari, pelan dan penuh pesona, dia datang.
Membawa senyum perengkuh jiwa.
Pelayang hati ke langit tak bertepi.
Aku larut dalam kemesraan rindu padanya.
Coba kutangkap derap langkahnya menuju.