Danarto? Siapa?
Ada yang bilang, jika Pramoedya adalah mata kanan Indonesia maka Danarto adalah mata kirinya. Keduanya sama produktifnya, Pramoedya dengan novel-novelnya lalu Danarto dengan cerpen-cerpennya. Jika karya Pramoedya kental dengan nuansa ke-Indonesian dan Nasionalismenya, maka karya Danarto kental dengan tradisi Jawa dan kesufiannya (yang agak menjurus-jurus ke wihdatul wujud).
Kukira cukup perkenalan dengan Danartonya. Sekarang aku akan cerita tentang aku (yang tentu saja tak akan bergitu menarik):
Pagi itu, selepas istirahat pagi sekolah, seperti biasa aku berkunjung ke perpustakaan sekolah. Perpustakaan kami memang sederhana, tapi, cukup menyimpan harta yang berharga. Contohnya saja ada Kitab Cerpen, Drama, Novel, Puisi dan Esai Indonesia yang diterbitkan Horison. Sebuah Kitab Sakti tentang Masterpice para sastrawan Indonesia dari zaman Syeikh Abdul Kadir Munsyi sampai Dewi “Dee” Lestari. Lalu ada buku Kimia Dasar untuk Universitas dan Kimia Organik yang memusingkan aku dengan begitu banyak rumus yang nantinya berguna ketika aku menemuinya dengan agak serius di kuliahku.
Saat itu, seperti biasa aku menyelusuri lorong-lorong di antara rak-rak buku. Mengintip judul-judul buku dengan kilasan cepat sambil memperkerjakan otakku untuk mencerna : mana yang menarik hati. Ketika itu, akupun sedang gandrung-gandrungnya dengan buku sastra dan buku sufistik: yang satu memberiku kepuasan imajinasi lainnya memberiku ketenangan batin. Maka ketika mataku tertuju pada satu judul, ah aku sudah lupa judulnya apa. Pokoknya tentang sastra sufistik Danarto (Mungkin bukunya Mbak Sri Rahayu Prihatmi: Fantasi dalam kedua kumpulan cerpen Danarto: dialog antara dunia nyata dan tidak nyata, tak tahu aku, tapi, kalau aku main ke sekolah, kan kukonfirmasi).
Awalnya aku bingung, buku tentang apa ini? Dan alih-alih membaca bahasan cerpennya, aku lebih tertarik pada cuplikan-cuplikan cerpennya. Menarik sekali dan sungguh luar-biasa. Imajinasi yang tak terhenti, begitu bebas dan menghentak. Lalu, selagi bermain-main dengan teks, teksnya sendiri menyerbu dengan ajaran-ajaran sufistik yang terselebung. Ah, aku jatuh cinta, cinta pertama untuk Danarto. Aku berlari dari Godlob ke Adam Makrifat dan tersesat di Abracadabra (yang sayangnya cuma cuplikan dan bahasa bahasan yang agak rumit)!
Sejak saat itu, aku berburu karya Danarto. Tak puas dengan cuplikannya, aku mencari-cari cerpennya. Akhirnya kutemukan dalam majalah Horison yang dilanggani Perpustakaan sekolahku: “Mereka toh Tak Dapat Menjaring Malaikat” (Cerpen ini dimuat juga dalam kumpulan cerpen: “Adam Makrifat”). Bercerita tentang Jibril yang tetap menyampaikan “wahyu” pada manusia. Suatu hari Jibril pergi ke SD yang atapnya bocor-bocor lalu memberikan “wahyu” pada murid-murid yang sedang ujian. Ceritanya menarik dan sangat tak terduga.
Setelah kuliah di Bandung, aku tak henti mengejar karya-karyanya. Hasilnya nihil. Sulit sekali mendapatkannya. Sekali waktu ketika berjalan menikmati Dago Festival, mataku tertumbuk pada satu buku: “Abracadabra”. Itu jelas buku Danarto, tapi, dalam bahasa Inggris. Aku urung membelinya, karena seperti kata Umberto Eco: buku terjemahan sebenarnya adalah sebuah buku baru yang dibuat oleh penerjemahnya.
Penantian panjangku berakhir ketika berkunjung ke rumah seorang sahabat ketika aku menemukan “Setangkup Melati di Sayap Jibril” di rak bukunya. Aku lalu langsung membajaknya. Aku mendapatkan dua buku lainnya di Pameran Buku di Paris van Java: Godlob dan Adam Makrifat. Sedang satu buku lainnya, Asmaraloka kutemukan di BBC.
Sisanya, masih kuburu. Dan mungkin tak bisa kudapatkan dengan segera.
October 25, 2009 at 10:35 am
duuh..nz lg prlu bgd m buku’y danarto yg adam makrifat..
blh iktn pnjem g?cz dh nyari ksana-sni udh g da bku’y..
hiks..mpe cape sndri..
maaf…tp kl msh brdomisili d bdg..blh iktn pnjem g?
nz bnr2 btuh bgd m bku itu…
mksh sblm’y y..
kl bs tlg contact saya: 085726506763
trima kasih sblm’y..
tlg d reply k email saya y..or no contact saya..