August 2008


Aku ingin pergi
kealam yang hanya untukku
Aku ingin pergi
ke tempat aku sendiri
Aku ingin pergi
ke jauh disana bersama sepi
Biar ku sendiri
agar aku renungkan : kisah sejati seorang lelaki
agar ku ciptakan : rasa diri aku sejati
Akan kunikmati semua sendiriku
sampai aku sadar: kubutuh teman
Teman apa!!?
Temanku adalah sepi
tak peduli dengan apa yang kusebut sahabat
Sahabatku adalah mati
tak peduli dengan alam yang harus ku lalui
Semuanya akan kembali
diriku pada pergi
atau pergiku untuk kembali

Rasa
aku telah pergi
Hati
aku lelah pada jalan yang menurun
Kepala
pada sakitku kau menusuk
Darah
pada memarku kau memerah,menyakit, meluka wajah pada perihnya rasa
Jalan
tak habis kutiti, jauh pada dekatmu, lelah pada jarak,
aku henti langkah, aku letih kaki, melemas pada segala rasa.
Luka
itu rasa, hati, kepala, darah, aku terus jalan.

bukan gelap hanya saja tak lagi perlu semua ini
aku telah mendapat matahariku
dan tak perlu lagi ke lain cahaya
karena hariku tak pernah malam
aku akan terus tersenyum
menatap hari dengan bangga
dan katakan inilah diriku
seperti layaknya.

Dilangit yang sedikit rendah, awan hitam mulai mengepung. Si Cumolo-nimbus1 rupanya. Matahari sudah tidak terlihat lagi. Kegelapan menutupi setiap penjuru. Sungguh, bila kau ikut melihat, mungkin perasaan kita sama: malam. Setiap makhluk mulai berlarian kembali ke sarang. Tak terkecuali manusia. Mereka menutup pintu dan jendela rumah masing-masing, lalu mulai menyalakan api, entah itu dari perapian yang bercerobong asap seperti di Eropa atau Amerika atau hanya sekedar hau2 untuk siduru3 bagi orang Sunda. Tapi, lihat kawan, ada sekelompok anak menunggu dipohon jambu. Sedang apa mereka dan menunggu apa? Bila kau tanya, jawab mereka: “Menunggu hujan!”, singkat saja jawabannya. Menunggu hujan? Tunggu, kau bawa payung kan saat bertanya. Sebab kurasa ada yang menyenandungkan lirik ini:

“Hujan rintik-rintik…..turun rintik-rintik……di halaman..di jalan..hujan rintik-rintik.. ambilkan payung untuk berlindung…hujan turun.. hujan rintik-rintik.” 4

Hemm, untunglah kau mengerti arti peribahasa sedia payung sebelum hujan kawan, kalau tidak kau akan basah kuyup seperti anak-anak yang berlarian itu. Lho, bukannya mereka sedang berlindung di bawah pohon jambu ini? Tidak kawan, mereka tadi sedang melakukan ritual: merayakan hujan. Berkumpul bersama di bawah pohon disaat hari mendung berharap hujan turun sambil bermain kecil-kecilan. Setelah hujan, mereka akan berlarian, berhamburan, tak karuan dan tanpa alas kaki. Semua rumah tetangga dilewati lalu berhenti di kocoran air di sudut atap rumah, menikmati air mancur dari tempat tinggi. Lihatlah kawan, air itu mengalir ke wajah mereka yang penuh senyuman. Lihat muka mereka kawan, berseri, sungguh penuh kebahagian anak kecil.

(more…)

Siang itu aku datang, membuka kunci kombinasi, lalu medorong pintu sampai buka. Seperti biasa, aku menaruh tas, menyalakan komputer dan menikmati hijau rumput yang menghampar di depan-bawahku. Tepat dibelakang monitor komputer, jendela-jendela kaca terpajang, 8 buah: memberi ruangan sinar hangat matahari yang membakar semangat. Dari kaca-kaca ini aku bisa menembuskan pandanganku ke depan-bawah atau ke depan-lurus.

Itu pandangan indah siang itu, sebelum aku menengok ke kanan, melihat dua onggok kantong plastik berisi tumpukan buku-buku. Yang satu masih utuh, yang satu lagi terkoyak di salah satu sisinya. Ah benar-benar tercabik-cabik. Robekan terjadi di satu sisi dan sisa-sisa robekannya berceceran di lantai.

Tak perlu berpikir pelik, aku langsung menuduh tikus sebagai pelakunya. Setelah beberapa aku memanggil, tikus-tikus itu datang. Bulunya hitam kusam dengan ekor panjang dan telinga kecil yang melebar. Di depan moncongnya dia menyunggingkan senyum, penuh rasa bersalah. Kutanya mereka satu-satu, interogasi!

Pertanyaan: Tadi pagi Anda ada di mana?

Tikus I : Tadi pagi aku tak ke mana-mana. Aku sedikit flu, punggungku terasa sakit. Jadi aku hanya tiduran di rumah (mukanya benar- benar memelas dan berkali-kali dia bersin dan menyebarkan lendir di sekitar karpet, uh, menjijikan!).

Tikus II : Jadi kamu menuduhku sebagai pelaku kejahatan ini? Mana bisa begitu? Kamu tak punya bukti kan? Jangan kira karena aku tikus jadi bisa di tuduh seenaknya! (Dia benar-benar penuh emosi!)

lembut pasir dipadang sahara
kilau air berfatamorganaan
keras debu terbang sahara
buih pusar debu berterbangan

haus kafilah bertelekan unta
habis air dibekal sudah
roti dua dibagi
habis bekal dalam kesasar

kemana jejak kafilah biasa lewat telah hilang dimangsa badai
dalam tersesat dalam lapar dalam haus dalam ngeri dalam harap…..
putus asa telah datang……………
pasrahlah berikutnya bila iman masih ada
bila percaya Tuhan itu ada
maka berdoalah….berserah kafilah pada Penguasa Gurun

gelaplah penglihatan mereka dalam dunia tak berkesadaran
mati tidak hidup iya

saat terang ribuan makanan terhidang
airmata lewat pipi lalu jatuh pada tegukan susu terakhir
gurun sahara telah memanggil Penguasa
untuk akhir jalan ini

syukur untuk karuniaMu Allah

Bila saja aku bisa pergi, apa kau akan mencariku?

Begitulah tanyamu padaku. Aku tak pernah menjawabnya. Dan kau begitu saja pergi meninggalkanku.

Jika waktu tak lagi memberi kesempatan, ah, aku akan mempercayai kebetulan bisa terjadi di dunia ini. Ketika menengok ke belakang, aku melihat bayanganmu pergi. Saat itu setidaknya aku bisa mengejarmu, walau kau tak pernah ada: hanya sebuah bayangan.

Tapi, sayangnya – seperti yang kau tahu – aku tak pernah percaya dengan kebetulan. Setiap kejadian tercipta dengan tujuan dan tak ada satupun kebetulan. Bahkan, segala hal yang terjadi secara spontan memiliki alasan logis yang tersembunyi.

Lalu, apakah aku tak lagi bisa menemuimu? Kau menghilang begitu saja. Semua tanda kehadiranmu di semua tempat yang telah kita lalui bersama, lenyap! Kau benar-benar hilang, bahkan semua nomor yang kau punya tak lagi berguna! Teman-temanmu hanya menggeleng tanpa selera saat kutanya dimanakah dirimu.

Bila saja kau bilang: pergi, aku tak akan pernah membiarkan itu terjadi! Aku tak menjawab karena kehadiranmu adalah sebuah keharusan bagiku. Dan kau tak bisa pergi begitu saja dariku!

burung itu terbang rendah lalu jatuh mati kena tembak!
beberapa ekor lainnya hanya melongo melihat kawannya jatuh dalam sekali tembak lalu terbang tinggi tinggalkan mayatnya.
persahabatan antar burung selesai dalam satu detik kematian.

Aksara, setelah Persib-PSIS 0-0

sedikit….
waktu cepat berlalu
kejarlah bila perlu

kencang….
waktu tak berhenti
jangan lama menanti

ayolah……
waktu itu pedang
kenapa tak taklukan duniamu dengan pedang

Aku bodoh…..aku bodoh….. aku bodoh….. aku bodoh….. aku bodoh….. aku bodoh…..

Ah, berapa kali kuucapkan pun tak berguna. Karena aku memang merasa tak bodoh. Hanya orang yang bodoh yang merasa dirinya bodoh. Aku tak merasa pintar, tapi, cukup pintar untuk merasa diriku tak bodoh.

Kadang, banyak disalahpahami antara tidak tahu dengan bodoh. Bodoh itu hanya umpatan untuk orang yang kalah lalu menyerah sedang tidak tahu adalah sesuatu yang lain. Tidak tahu bisa mengundang rasa ingin tahu dan pencarian kebenarannya. Atau tidak tahu adalah sikap orang bodoh yang menyerah pada kemalasan mereka.

Sayangnya kata bodoh kadang begitu menyihir dan membuat enggan rasa keingintahuan untuk sekedar hinggap di lobus pikiran. Kata bodoh dijadikan alasan dari ketidakmauan berpikir. Ketidaksudian mengkerutkan kening dan bertanya kenapa.

Bebaskan dirimu dari rasa malas maka kau terbebas dari kebodohan. Biarkan akalmu mencari kebenaran dan cahaya akan menerangi hatimu. Setiap ilmu yang kau ajarkan menambah pengetahuanmu dan menerangi pikiranmu. Ilmu pengetahuan memberikan petunjuk bagimu dan amal perbuatan membawamu pada cita-citamu.

~~~~

« Previous PageNext Page »