Tersebutlah seorang pemuda A yang sangat rajin shalat. Jangankan shalat wajib yang lima waktu, hampir setiap shalat sunah dia kerjakan secara rutin. Bangun malam hari untuk tahajud sudah jadi kebiasaan. Lalu dhuha disela kuliah selalu disempatkan. Selain rajin shalat, dia juga rajin puasa. Puasa sunat Nabi Dawud, sehari puasa sehari tidak. Lalu, setiap sebulan sekali, tiga kali khatam Quran.
Tapi, anehnya setiap ada rapat X dia selalu telat. Dan yang lebih aneh, alasannya cenderung terlalu dibuat-buat, masa setiap kali rapat motornya mogok? Dan, ah, perkataannya itu terkadang menyakitkan. Memang sih orangnya kritis, tapi kadang mengkritik orang pada waktu dan keadaan yang sangat tidak tepat. Masa orang yang baru saja ‘tewas’ dibantai ujian dimarahi habis-habisan cuma karena telat bayar uang kas sejam, katanya tak disiplinlah, tak punya rasa tanggung jawablah dan bla..bla..bla….
Tak heran apabila banyak orang yang tidak menyukainya. Apa ada yang salah dengan ibadahnya?
Lalu ada pula pemuda B. Ibadahnya biasa saja. Shalat wajibnya memang lancar tapi, shalat sunatnya banyak bolongnya. Shalat tahajud hanya saat mau sahur untuk puasa saja. Jadi kalau bukan di bulan Ramadhan hanya shalat tahajud dua kali sepekan, hari Senin dan Kamis. Di waktu dhuha dia lebih senang ke Perpustakaan untuk baca buku dibandingkan ke Masjid untuk dhuha. Bacaan Qurannya biasa khatam setelah dua bulan.
Tapi, anehnya banyak orang yang menyukainya. Selain murah senyum dia seorang yang jujur. Perkataannya bisa dipercaya. Bila berjanji selalu ditepati. Bila berkata lemah lembut dan selalu berusaha untuk bertindak secara bijaksana. Jadi, bagaimana orang-orang tidak menyukainya?
Wah, ada apa ini? Bagaimana seorang rajin ibadah bisa ‘dikalahkan’ oleh seorang yang ibadahnya biasa-biasa saja? Baiklah akan sedikit saya kemukakan beberapa fakta lain tentang kedua pemuda ini.
Pemuda B ibadahnya memang sedikit, tapi semuanya dikerjakan dengan tenang. Terlihat kekhusyuan dirinya saat menjalankan ibadah-ibadahnya yang sedikit itu. Sedang pemuda A, bila diperhatikan lagi, dia memang shalat dhuha setiap pagi, tapi dia mengerjakannya secara flash. Mengejar rakaat-rakaat dhuha agar selalu genap duabelas rakaat dalam tempo sesingkat-singkatnya. Dia memang mengkhatam Quran tiga kali setiap bulan, tapi setiap membaca Quran, dia hampir tak pernah dapat meresapi ayat-ayat yang dibacanya. Mana sempat meresapi, orang lagi kejar setoran!
Dalam setiap puasa sunatnya, dia sering memarahi orang karena kesal, saya kan lagi puasa kok diledek! Kalau marah kan nanti batal puasanya. Padahal, temannya cuma bercanda untuk menyenangkan hatinya yang sedang berpuasa. Lalu, setelah adzan maghrib berkumandang, dimulailah pembantaian sepiring penuh nasi, lapar sekali karena kelupaan sahur gara-gara kebanyakan tahajud, katanya.
Sudah mulai terlihatkah perbedaan kedua orang itu?
Yah, yang satu ibadahnya memang sedikit tetapi dikerjakan dengan khusyu. Yang lainnya, ibadahnya banyak tapi dikerjakan dengan tergesa-gesa. Dan ternyata ibadah pemuda B yang sedikit tetapi khusyu lebih berefek pada perilaku kesehariannya dibandingkan pada pemuda A.
Akumulasi rakaat-rakaat shalat pemuda A yang lebih banyak dibandingkan pemuda B ternyata tak mampu mencegahnya untuk berbuat keji dan mungkar. Lapar dan haus yang menerpa pemuda A ketika berpuasa tak lagi mampu menjadi benteng bagi imannya. Lantunan ayat-ayat Alquran yang dibaca cepat pemuda A tak mampu lagi melunakkan hatinya.
Dan betapa meyedihkannya kita yang menjadikan ibadah itu sebagai sebuah ritual semata. Sebagai sebuah kegiatan rutin yang wajib adanya. Dan mengerjakannya dengan jiwa-jiwa yang seolah ingin lepas dari kewajiban. Mengerjakan ibadah-ibadah dengan tergesa-gesa.
Kadang ada juga orang yang memandang ibadah sebagai suatu wahana mendapatkan pahala semata. Maka berlomba-lombalah orang-orang dengan rakaat-rakaat shalat yang banyak, dengan bilangan-bilangan hari puasa yang dijalaninya, dengan lembar-lembar Alquran yang dibacanya. Dalam pandangan mereka semakin banyak ibadah yang dijalankan maka semakin banyak pula pahala yang akan didapat.
Hal ini memang benar adanya. Tetapi, bukanlah ibadah yang banyak hitungannya yang diharapkan, tapi, ibadah yang khusyu. Ibadah yang didasari keyakinan bahwa kita akan menemui Tuhan kita dan akan kembali kepada-Nya lah yang diharapkan oleh-Nya. Karena dengan ibadah khusyulah kita mendapat manfaat dari ibadah yang kita lakukan itu. Tak hanya manfaat untuk hari akhirat nanti tapi juga manfaat didunia yang kita hidupi kini.
Ibadah yang khusyu akan memberi bekas pada jiwa kita. Memberikan kita ketenangan dan ketahanan untuk tak berbuat keji dan mungkar.