December 2008


Hujan deras yang mengguyur jalanan mulai mereda. Awan hitam memutih, biar sedikit cahaya melenggak. Kabut diam, beberapa centi di atas permukaan jalan. Menggenang, mengaburkan pandang. Sayup gerimis pengganti hujan menetes air di jalanan – rintik-rintik cepat melesat, menembus angin.

Jalanan lengang, hanya kabut dan diam. Waktu melambat, memberi jeda di setiap pergantiannya. Damar kokoh berdiri, sepi dalam julang tingginya. Batu bata putih yang menutup jalan, membisu. Hanya rintik gerimis yang bernyanyi.

Sebuah payung berjalan, menahan gerimis tak tertanggung, menembus kabut kelabu. Di bawah payung gadis kecil senyum manis. Berjalan sepanjang jalan penuh riang. Kedua tangan bergenggaman gagang yang bersender mesra ke bahu kecil. Sedang nyanyian riang terbisik di mungil bibirnya.

Sebuah payung berputar menolak air di tepi yang terloncat jauh. Di bawahnya, gadis kecil riang bernyanyi dalam gumam berjalan kecil-kecil sambil mengayun kaki bergantian.

Anak kecil berlari kecil,

Menadah hujan lewat wajah.

Langit ia tatap,

Menantang turun hujan semakin lebat.

Inilah aku,

Si anak kecil,

Yang dengan lantang menantang:

“Hujan, datang lagi besok sore!”

Hujan lagi.

Gerimis berubah hujan dari tadinya awan.

Tak tahu, apa hujan berarti sedih, tak tahu.

Hitam awan serupa mendung di wajah,

sedang air tumpahnya yang jadi hujan, serupa air yang turun berlelehan lewat mata,

dan sempurnalah hujan serupa sedih.