January 2009


Ketika pertama kali belajar Islam, saya hanya tahu Islam itu satu. Lima rukun islam dan enam rukun iman plus duapuluh sifat wajibnya Al Asy’ari. Islam satu mazhab, Syafi’i. Kemudian di SMA mulailah saya berkenalan dengan mazhab-mazhab lain dalam buku “Fiqih Lima Mazhab”. Lalu berkenalan pula dengan istilah Islam tradisional dan Islam Modern. Untungnya, guru agama SMA saya seorang bijak, dia bilang mazhab ini benar dan yang lainnya pun benar. Yang modern dan yang tradisional selama berpijak pada Al Quran dan As Sunah adalah benar.

Lalu, setelah itu mulailah saya berkenalan dengan Syiah. Di SMA saya tak terlalu puas dengan penjelasan guru, yang melibatkan Abdullah bin Saba, seorang Yahudi, sebagai arsitek dibalik berdirinya Syiah. Setelah kuliah, saya pun mulai membaca literatur-literatur klasik tentang sejarah dan asal-usul Syiah, dari Saqifah buku yang condong pada Syiah sampai buku-buku tentang Khulafaur Rasyidin yang dikarang ’sejarawan’ Sunni dan buku karangan orientalis (yang cukup netral). Saya pun berkenalan dengan pemikiran ulama-ulama Syiah, dari Ali Syariati, Baqr Al Shadr, Mulla Shadra, Murtadha Muthathari sampai Al Khomeini.

(more…)

Ketidakpastian itu menakutkan. Lihat saja bagaimana ketidakpastian kondisi di Timur Tengah begitu menakutkan bagi para spekulan, sehingga harga minyak bumi membumbung tinggi. Atau pobia terhadap gelap, tak ada kepastian dalam gelap, semuanya serba tak terlihat dan karenanya jadi menakutkan.

Ketidakpastian juga mencemaskan. Membuat jantung berdetak kencang. Seperti seorang suami yang menunggu kelahiran bayinya. Apa lahir selamat anak dan selamat ibunya, apa laki atau perempuan, apa cacat atau normal,  dan apa-apa yang mencemaskan lain-lainnya.

Ketidakpastian pun menghasilkan tantangan. Tantangan untuk berani mengambil keputusan. Masa depan memang tak pasti, tapi, toh tetap harus dijalani. Dan tantangan harus diambil, mau tak mau.

Caryn Mirriam-Goldberg dalam bukunya Write Where You Are: How to Use Writting to Make Sense of Your Life ( yang diterjemahkan oleh Kaifa dengan judul: Daripada Bete, Nulis Aja! : Panduan Nulis Asyik Di Mana Saja, Kapan Saja, Jadi Penulis Beken pun Bisa!) mengatakan, bahwa baginya ada dua belas alasan kenapa dia menulis:

1. Menulis membantumu menemukan siapa dirimu.

Saat meletakan pena di atas kertas dan menuangkan pikiran, kamu mulai menemukan apa yang kamu ketahui tentang dirimu sendiri, juga tentang dunia. Kamu dapat menelaah apa yang kamu suka dan benci, apa yang menyakitkanmu, apa kebutuhanmu, apa yang dapat kamu berikan, dan apa yang kamu inginkan dalam hidupmu. Ini membantumu memahami diri dan keberadaanmu di dunia dengan lebih baik. (more…)

Di setiap kata yang tertulis terkandung sebuah makna.

Makna yang kemudian dilahirkan terus tumbuh seiring dengan tumbuhnya

alam pikiran manusia.

Lalu setiap arti menjadi begitu personal.

Setiap orang punya tafsiran. Setiap orang bebas memahami sejauh pikiran.

Lalu kata menjelma makna.

dan setiap kata menjadi dewasa,

menjadi makna bagi tiap baca.

Apakah Tuhan di langit atau di bumi?

tanyamu padaku, kujawab tak tahu!

Dia yang mencipta langit dan bumi enam masa lalu bersemayam di atas Arsy.

Arsy yang entah di bumi atau di langit atau keduanya atau di mana.

Tapi tak perlu kau cari, temui saja Dia di hatimu.

Apakah Tuhan di Arsy?

tanyamu padaku, kujawab ku tak tahu!

Yang pasti dia punya Arsy serupa singgasana yang ditopang ribuan malaikat.

Tapi tak perlu kau bayangkan, ini bukan hakmu.

Apakah Tuhan di sini atau di sana atau di mana-mana?

ah tanyamu semakin sulit!

Sebentar kutanya pada Tuhan……

Atau kau mau tanya sendiri karena Tuhan turun di 1/3 malam untuk

kabulkan setiap doa hambaNya.

Hanya sepi dan bisu dalam kata,

Tetapi, badai di hati.

Dan begitulah senja ini, malam datang begitu cepat. Tak menyisakan jingga di ufuk. Dalam sekejap hari jadi gelap. Malam datang membawa senyap, sedang senja menjerit karena tertusuk malam. Namun siapa mendengar, ditengah gelap menakutkan ini, yang ada hanya sepi.

Oh senja yang indah, apa dia mati, belum kuucapkan terimakasih, untuk temani kupergi. Aku yang sepi dan senja yang ramai pasangan serasi. Aku beri senja cahaya untuk menghias wajahnya, kadang jingga atau merah kadang kelabu lalu merah muda, ah betapa cantik dia. Selalu kami bertemu, di setiap sore, saat aku tergenlincir semakin ke barat, lalu menenggelamkan diri di horizon. Ketika aku tenggelam dia hilang diganti malam.

(more…)