Ketika pertama kali belajar Islam, saya hanya tahu Islam itu satu. Lima rukun islam dan enam rukun iman plus duapuluh sifat wajibnya Al Asy’ari. Islam satu mazhab, Syafi’i. Kemudian di SMA mulailah saya berkenalan dengan mazhab-mazhab lain dalam buku “Fiqih Lima Mazhab”. Lalu berkenalan pula dengan istilah Islam tradisional dan Islam Modern. Untungnya, guru agama SMA saya seorang bijak, dia bilang mazhab ini benar dan yang lainnya pun benar. Yang modern dan yang tradisional selama berpijak pada Al Quran dan As Sunah adalah benar.

Lalu, setelah itu mulailah saya berkenalan dengan Syiah. Di SMA saya tak terlalu puas dengan penjelasan guru, yang melibatkan Abdullah bin Saba, seorang Yahudi, sebagai arsitek dibalik berdirinya Syiah. Setelah kuliah, saya pun mulai membaca literatur-literatur klasik tentang sejarah dan asal-usul Syiah, dari Saqifah buku yang condong pada Syiah sampai buku-buku tentang Khulafaur Rasyidin yang dikarang ’sejarawan’ Sunni dan buku karangan orientalis (yang cukup netral). Saya pun berkenalan dengan pemikiran ulama-ulama Syiah, dari Ali Syariati, Baqr Al Shadr, Mulla Shadra, Murtadha Muthathari sampai Al Khomeini.

Saya merasa pemikiran para ulama ini begitu cemerlang dan toleran. Tidak memaksakan pemikirannya, tapi, menggoda akal kita untuk menerima atau menolaknya. Saat menanggapi hujatan orang-orang Sunni, para ulama Syiah ini menjawab dengan logika yang mumpuni (kecuali soal imamiyah, mereka sangat terkenal rasional namun tetap membumi).

Lalu, saya jadi berpikir, kenapa Syiah dan Sunni tak bersatu bahkan dibeberapa belahan dunia saling bermusuhan (seperti di Irak, di mana Sunni dan Syiah saling membunuh)? Bahkan, Syiah, sebagai minoritas sejak masa Muawiyah hingga kini terus ditekan dan cenderung ‘dimusuhi’ Sunni. Syiah dianggap sesat, karena mempunyai ajaran yang ‘berbeda’ dengan Sunni.

Saya merindukan Islam yang satu. Tak peduli mazhab atau golongan apa, Syiah atau Sunni, hingga ketika ditanya siapa Anda, saya menjawab dengan tegas, saya Muslim! Bukan Sunni atau Syiah, bukan Syafei atau Maliki.

Lalu berjumpalah saya dengan buku ulama panutan saya, M. Quraish Shihab, “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran.”

Walaupun masih belum memuaskan, buku ini mampu memberikan jawaban atas kegelisahan saya tentang Islam yang tak kunjung bersatu. Buku ini disajikan dengan sistematis, uraian-uraiannya dilakukan secara bertahap dan penuh kehati-hatian. Didahului dengan pendahuluan yang memikat, tentang penekanan-penekanan yang diberikan penulis agar buku ini dapat dipahami dengan lebih baik.

Lalu dilanjutkan dengan pembahasan penulis tentang niscayanya perbedaan dan keharusan mewujudkan persatuan. Perbedaan, menurutnya, bahkan sudah terjadi di masa Rasulullah masih hidup. Namun, perbedaan ini tidak menjadi masalah yang meruncing karena selalu bisa diselesaikan dengan baik oleh Rasulullah. Setelah masa Rasulullah, tepatnya pada masa kekhalifahan Usman bin Affan perbedaan ini menjadi cikal bakal perpecahan Islam, sampai sekarang.

Untuk meletakkan dasar bagi upaya menjembatani Syiah dan Sunni, Quraish Shihab memberikan definisi yang baik tentang Sunni dan Syiah, lalu menguraikan golongan-golongan Syiah yang ada sekarang. Di buku ini, ajaran dan pemikiran Syiah di tahbiskan pada dua golongan Syiah terbesar saat ini, Syiah Zaidiyah dan Syiah Imamiyah. Setelah dasarnya kuat, dimulailah uraian-uraian mengenai perbandingan ajaran dan pemikiran Syiah dengan Sunni. Perbandingan ini dimulai dari tauhid, imamah, Al Quran, sampai pada soal-soal furu’ (cabang/rincian ajaran agama).

Lalu buku ini diakhiri dengan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh ulama dari kedua belah pihak untuk menggandengkan Syiah dan Sunni. Kemudian buku ini ditutup dengan kutipan dari Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi – seorang ulama Sunni terkemuka dari Suriah – dalam Mahrazan al-Imam Ali, tentang pujian dan pernyataan kecintaan serta kekagumannya terhadap Imam Ali.

Buku ini disajikan secara berimbang, pendapat ulama Sunni disandingkan dengan pendapat lainnya dari ulama Syiah. Sehingga pembaca dapat membandingkan dengan baik perbedaan pendapat kedua kubu dan menerima perbedaan ini. Misalnya saja tentang rukun Islam, Syiah tidak memasukkan syahadat pada rukun Islam dan menetapkan jihad sebagai bagian dari rukun Islam. Tentang perbedaan ini ulama Syiah menyatakan bahwa “karena (Syiah) pada dasarnya menyatakan adanya persamaan antara Iman dan Islam, maka kepercayaan tentang Rukun Islam pertama dalam versi Sunnah, dimasukkan dalam kategori keyakinan akan Keesaan Tuhan bersama keyakinan akan kenabian.”(Hal. 92).

Namun, tentu saja masih banyak PR yang tak terselesaikan tentang perbedaan Sunni-Syiah dalam buku ini. Seperti tentang Imamah, ulama Sunni masih menaruh banyak keberatan tentang konsep ini, kalau tak mau dibilang menolak keras. Dalam menyikapi masalah ini, penulis berujar: “Bisakah pemikir-pemikir Sunnah dan Syiah duduk bersama bepikir untuk menemukan jalan keluar sehingga kutub yang berbeda itu, dapat bertemu dan bekerjasama menghadapi musuh bersama?”  (Hal. 126).

Bagi seorang yang memimpikan persatuan Islam, buku ini tentu saja memberikan inspirasi tentang betapa besarnya kemungkinan mimpi ini terwujud. Bagi yang mempunyai fanatisme yang berlebihan terhadap golongannya, buku ini mungkin bisa jadi sebuah renungan, untuk mulai menerima perbedaan.

Akhirnya, sedikit mencontek ungkapan Karl Marx dalam Manifesto-nya, mari teriakkan:

“Umat Muslim sedunia, bersatulah!”