Langit tertelan gelap,

Samudera pekat awan menggumpal hitam

Senyum merekah dari merah gincu

“Buatkan aku perahu di satu malam!”

Hati menjerit di senang yang melilit

Tebas sepohon kurupa perahu

Golok tajam dan waktu adalah perang

Digerogotinya malam hingga tinggal berapa bagian

Di timur sana kemilau ayam jagi berkokok!

Gendang berhenti  dendang karena usai perang

Siapa dapat kalahkan waktu Sangkuriang tentu!

Rupa perahu sempurna bentuk

Taruh saja depan mata!

Merah gincu Dewi Sumbing,

Senyum silau fajar kemilau,

Ditendang perah ke mukaku.

Perahu jadi gunung dan aku batu di dalamnya.

“Sangkuriang anak durhaka!”