March 2009


Hangat mentari pagi ini cairkan merah jambu otakku.

Pagi ini kukarang sebuah puisi,
Yang detaknya jantungmu yang merah darahmu di lautan rasa tak bermuara
Kupingin tulis dirimu menjadi kepingan sepi puisiku tapi,
Dirimu agung tanpa sepi yang puisi.
Aku nyerah.

Pagi ini kubuat puisi,
Membingkai wajahmu yang terang cahaya silau jadi kemilau
Inginku menangkap sepimu jadi puisi
Dirimu puisi tak pernah sepi
Aku pasrah

Pagi ini kukarang puisi
Merangkai hatimu dengan darah cintaku
Berharap tengokmu pada puisi sepiku
Hatimu sepi untuk puisiku
Aku kalah.

Pagi ini kujadi puisi,
Yang jiwanya jiwamu yang jantung detakmu di getaran hati tak berperi
Kuingin jadi puisimu
Dirimu mati tanpa detak puisi
Akulah.

Aku ingin beli puisi yang sedikit riang
Yang lebar senyum ketawa tertahan
Hidup toh tak terlalu serius
Hanya gurau sebelum mati

Aku membeli puisi di pasar seni
Puisinya cinta tuk kekasih hati
Merayu dayu memikat hati
Siapa tahu hati terbeli

Aku ingin beli puisi yang indah
Yang menggubah alam jadi madah
Sungai laut hujan senja merah
dicetak untai kata begitu indah

Aku tak beli puisi duka
Hatiku bisa tersayat luka
Lalu memar mata
Sebab air mata derita

Segelak bergolak di panci asmara

Melegak api malam di kompor birahi bakar segala rasa membumbung asap memekat awan lalu kau jadi segala hujan yang turun basahi hatiku dengan air cintamu

Oh… nestapa!

Betapa derita siklus membuana di langit di awan di bintang di malam berkeliling hutan seribu luka dan kau asmara buah pohon cinta, jatuh!

Cerita-cerita Danarto adalah parodi. Dalam parodinya, yang diejek terutama sastra itu sendiri. Cerita Danarto ini telah mengejek genrenya sendiri.

Sapardi Djoko Damono

Apa yang pertama kali tergambar dalam benak saya ketika mendengar kata Danarto? Malaikat Jibril! Loh kok?

Danarto boleh dibilang seorang maestro pembaruan dalam cara menulis cerpen. Bila Chairil Anwar mendobrak tradisi dan menerjang sebagai binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang, Danarto tampil apik menampilkan epik dengan warna dan penghayatan baru. Di tangannya, Hamlet pun bisa hadir di Tawangmangu dan perang Bratayuda menjadi begitu melankolis.

Goenawan Mohamad menamakan gaya penulisan Danarto sebagai “realisme magis”. Magis? Yah ceritanya mengandung sihir, seperti ujar A. Teuuw, “Danarto memiliki imajinasi yang sangat hidup dan mampu membangkitkan dunia yang sepenuhnya fantasmagorial. Cerita-ceritanya ajaib, menggambarkan khayalan dan melebih-lebihkan tapi pada saat yang sama menyajikan bakat pengungkapan puitis atas keindahan.”

(more…)