Cerita-cerita Danarto adalah parodi. Dalam parodinya, yang diejek terutama sastra itu sendiri. Cerita Danarto ini telah mengejek genrenya sendiri.
Sapardi Djoko Damono
Apa yang pertama kali tergambar dalam benak saya ketika mendengar kata Danarto? Malaikat Jibril! Loh kok?
Danarto boleh dibilang seorang maestro pembaruan dalam cara menulis cerpen. Bila Chairil Anwar mendobrak tradisi dan menerjang sebagai binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang, Danarto tampil apik menampilkan epik dengan warna dan penghayatan baru. Di tangannya, Hamlet pun bisa hadir di Tawangmangu dan perang Bratayuda menjadi begitu melankolis.
Goenawan Mohamad menamakan gaya penulisan Danarto sebagai “realisme magis”. Magis? Yah ceritanya mengandung sihir, seperti ujar A. Teuuw, “Danarto memiliki imajinasi yang sangat hidup dan mampu membangkitkan dunia yang sepenuhnya fantasmagorial. Cerita-ceritanya ajaib, menggambarkan khayalan dan melebih-lebihkan tapi pada saat yang sama menyajikan bakat pengungkapan puitis atas keindahan.”
Di tangan Danarto realitas kehidupan yang tampak dijalin dan dipilin dengan halus dengan realitas yang tak tampak, sehingga hadirlah sebuah realisme baru, yang membuat imajinasinya bebas bergerak. Batas antara realita dan kegaiban disibak lalu ditampilkannya dengan wujud visual yang mampu diraba dan dirasakan.
Lihat saja di cerpen pertamanya di kumpulan cerpen Adam Ma’rifat, Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat. Malaikat Jibril yang cuma maujud untuk Nabi-Nabi, tiba-tiba muncul melayang terbang di atas sekolah SD, mematukkan layang-layang wahyunya ke kepala seorang anak untuk membuka pikiran sang anak sehingga mampu menjawab soal-soal di kelasnya.
Atau di cerpen Magatruh, persahabatan tiga orang makhluk – manusia, kadal dan batang pisang – tiba-tiba saja menjadi begitu intim setelah bertemu dengan zat asam yang tak tampak. Zat asam kemudian menjadi tampak setelah tiga sahabat ini cuma makan zat asam selama tujuh hari, namun dampaknya adalah keluarlah ruh manusia dari jasadnya.
Sedang di cerpen “ngung ngung cak cak” (sebut saja begitu, judul aslinya berupa balok nada dengan titik-titik nada dan lirik 7 kata ngung di atas dan 7 kata cak di bawah) diceritakan sebuah alat bernama SMPVTU (marilah sebut saja sebagai pesawat pengurai) yang mampu menguraikan suara dan bunyi-bunyian menjadi gambar visual. Alat ini diujicobakan pertama kali saat digelar suatu upacara yang diiringi tarian kecak. Setelah upacara selesai, tiba-tiba timbullah gambar baru yang aneh dan menakjubkan, sebuah film yang keesokankannya nampang di koran sebagai berita utama. Setelah film itu selesai, tiba-tiba saja orang-orang yang ikut menonton membuat kur baru dan melingkari alat SMPVTU sambil ber cak..cak…cak….
Sedang di Lahirnya Sebuah Kota Suci Danarto cerita tentang Kotagede yang tiba-tiba jadi kota ziarah yang dikunjungi orang dari berbagai negeri. Sebabnya adalah adanya sebuah lonceng kuno yang menggantung di atas rumah seorang tukang jam yang “memiliki kekuatan daya menjangkau waktu yang bukan main.” Lonceng kuno yang mampu menyihir orang yang memandangnya, membawanya ke daerah lain, yang asing.
Pada cerpennya Bedoyo Robot Membelot Danarto bercerita tentang tujuh belas penari bedoyo yang ngeloyor terbang selepas menari. Ibu penari syok dan lalu beberapa pingsan, setelah sadar, mereka lalu lupa segala hal tentang penari itu. Para penari itu seolah jadi tak pernah ada.
Sedang pada cerpen Adam Ma’rifat maka akan ditemui jalan kesufian Danarto yang mengusung Wahdatul Wujud. Adam Ma’rifat adalah pengejewantahan Tuhan yang tampil dalam bentuk dan ragam dari hakikat-Nya Yang Esa. Adam Ma’rifat bisa jadi bungkusan di atas bis, jadi pohon mangga yang terus berbuah bahkan jadi antrian beras.
November 2, 2009 at 2:32 pm
nz bnr2 g ngerti m crpen’y danarto…
huhu,,