Langit menghitam, matahari lama tenggelam. Bintang-bintang tak juga bermunculan, sedang rembulan malu sembunyi di hitam awan. Sepi saja, segala suara hilang bersama desir angin yang lamban. Keheningan tak pernah abadi, memang, hanya sebuah ruang kosong yang akan selalu terisi.
Malam menghitam, lalu bunyi sunyi. Hanya dingin dan desau angin. Rerumputan menghitam, kehilangan cahaya. Pepohonan jadi seonggok dinding bayang hitam batangnya saling menyatu sama hitam. Lalu semua hilang, tertelan gelap yang menyeruak.
Yang kurasa hanya aku, sedang lainnya hilang ditelan gelap. Mata tak lagi berguna, telinga hanya sunyi. Jadilah aku sendiri, berkawan dengan sejati diri.
Lalu malam jadi ramai. Suara hati berkicauan. Membumbung tinggi di benak, penuhi maksud dengan kehendak. Suara gempita tentang risau-galau mericau-mengacau. Sedang harap, berbisik pelan tentang masa depan. Segala rasa bergumul, merusak gelap dengan citra diri. Semua gambar dipasang, gambar yang lama mengendap di dasar pikiran. Lalu dimulailah, parade rasa yang usang terpendam. Gambar-gambar berkilatan saling bergantian. Memutar segala isi pikiran. Lalu gelap.
Aku terlelap.
Jadilah aku karang hitam di
putih buih ombakmu yang menghempasku ke
biru lautan lalu gelombang datang bawa tepian dan
jadilah aku butiran pasir di pantai putihmu terhampar luas melebur satu!
Air terpancar memburu ruang melintas cepat menumbuk
karang tembus dan semayam lalu diam dalam rapat berduaan jadi darah
segumpal lalu daging segumpal lalu rusuk tulang belulang dibungkus daging
dan
jadilah!
Sempurna bentukmu dalam wujud sebaik lalu
hembusan datang bawa ruh Tuhan yang bersemayam di
kalbu jiwamu yang kemudian detak jantungmu darah jadi darah dan
mengalirlah!
Rahim membungkus rapat lewat
plasenta kau kunyah makanan ibumu sementara kakimu
bergoyang pelan dan tubuh berputar bergerak menghentak di dinding dan
senyumlah!
Sempurnalah bentuk manusiamu lalu
kau bergerak dengan hebat dan otot-otot rahim serupa
pegas mulur negang dorongmu keluar dan derap nafas ibu kembang kempis
dan
lahirlah!
Tangismu adalah tawa yang lalu
kau cari ASImu dan meneguk sepuasnya hingga
dahaga lepas yang kau diam dalam tenang di bawah pelukan ibu dan
tidurlah!
Oh akulah yang
ingin menjadikan diri
pengemis di pintu kasihMu
Belajarlah dari bumi yang walau
oleh manusia dipaksa memuntah segala isinya tapi tetap memberi dan
eratlah dia memegang udara yang terus kita hirup
menyesakan paru lalu darinya lah hujan datang dan benih-benih tumbuh
iringi tumbuhnya dirimu.
Petanglah yang membuatmu datang merengkuh senja dalam
raupan cahaya sementara
igaumu di mimpi semalam berupa nyata dan terimalah
hidup yang kau jalani serupa
aliran angin sepoi lambat-lambat
tapi sunguh memberi kesejukan yang
mungkin hanya dirimu yang dapat dan
akan selalu begitu maka
kejarlah mimpi itu sampai
akhir yang kau berlalu dengannya.
Dan adalah diam dirimu semesta yang padam melintas
gelap bintang berderap
pelan hapus
diri!
Diri
hapus pelan
di derap bintang gelap
melintas padam dan semesta yang dirimu adalah diam!