April 2009


Langit menghitam, matahari lama tenggelam. Bintang-bintang tak juga bermunculan, sedang rembulan malu sembunyi di hitam awan. Sepi saja, segala suara hilang bersama desir angin yang lamban. Keheningan tak pernah abadi, memang, hanya sebuah ruang kosong yang akan selalu terisi.

Malam menghitam, lalu bunyi sunyi. Hanya dingin dan desau angin. Rerumputan menghitam, kehilangan cahaya. Pepohonan jadi seonggok dinding bayang hitam batangnya saling menyatu sama hitam. Lalu semua hilang, tertelan gelap yang menyeruak.

Yang kurasa hanya aku, sedang lainnya hilang ditelan gelap. Mata tak lagi berguna, telinga hanya sunyi. Jadilah aku sendiri, berkawan dengan sejati diri.

Lalu malam jadi ramai. Suara hati berkicauan. Membumbung tinggi di benak, penuhi maksud dengan kehendak. Suara gempita tentang risau-galau mericau-mengacau. Sedang harap, berbisik pelan tentang masa depan. Segala rasa bergumul, merusak gelap dengan citra diri. Semua gambar dipasang, gambar yang lama mengendap di dasar pikiran. Lalu dimulailah, parade rasa yang usang terpendam. Gambar-gambar berkilatan saling bergantian. Memutar segala isi pikiran. Lalu gelap.

Aku terlelap.

Jadilah aku karang hitam di

putih buih ombakmu yang menghempasku ke

biru lautan lalu gelombang datang bawa tepian dan

jadilah aku butiran pasir di pantai putihmu terhampar luas melebur satu!

Air terpancar memburu ruang melintas cepat menumbuk

karang tembus dan semayam lalu diam dalam rapat berduaan jadi darah

segumpal lalu daging segumpal lalu rusuk tulang belulang dibungkus daging

dan

jadilah!

Sempurna bentukmu dalam wujud sebaik lalu

hembusan datang bawa ruh Tuhan yang bersemayam di

kalbu jiwamu yang kemudian detak jantungmu darah jadi darah dan

mengalirlah!

Rahim membungkus rapat lewat

plasenta kau kunyah makanan ibumu sementara kakimu

bergoyang pelan dan tubuh berputar bergerak menghentak di dinding dan

senyumlah!

Sempurnalah bentuk manusiamu lalu

kau bergerak dengan hebat dan otot-otot rahim serupa

pegas mulur negang dorongmu keluar dan derap nafas ibu kembang kempis

dan

lahirlah!

Tangismu adalah tawa yang lalu

kau cari ASImu dan meneguk sepuasnya hingga

dahaga lepas yang kau diam dalam tenang di bawah pelukan ibu dan

tidurlah!

Oh akulah yang

ingin menjadikan diri

pengemis di pintu kasihMu

Belajarlah dari bumi yang walau

oleh manusia dipaksa memuntah segala isinya tapi tetap memberi dan

eratlah dia memegang udara yang terus kita hirup

menyesakan paru lalu darinya lah hujan datang dan benih-benih tumbuh

iringi tumbuhnya dirimu.

Petanglah yang membuatmu datang merengkuh senja dalam

raupan cahaya sementara

igaumu di mimpi semalam berupa nyata dan terimalah

hidup yang kau jalani serupa

aliran angin sepoi lambat-lambat

tapi sunguh memberi kesejukan yang

mungkin hanya dirimu yang dapat dan

akan selalu begitu maka

kejarlah mimpi itu sampai

akhir yang kau berlalu dengannya.

Dan adalah diam dirimu semesta yang padam melintas

gelap bintang berderap

pelan hapus

diri!

Diri

hapus pelan

di derap bintang gelap

melintas padam dan semesta yang dirimu adalah diam!