Langit menghitam, matahari lama tenggelam. Bintang-bintang tak juga bermunculan, sedang rembulan malu sembunyi di hitam awan. Sepi saja, segala suara hilang bersama desir angin yang lamban. Keheningan tak pernah abadi, memang, hanya sebuah ruang kosong yang akan selalu terisi.

Malam menghitam, lalu bunyi sunyi. Hanya dingin dan desau angin. Rerumputan menghitam, kehilangan cahaya. Pepohonan jadi seonggok dinding bayang hitam batangnya saling menyatu sama hitam. Lalu semua hilang, tertelan gelap yang menyeruak.

Yang kurasa hanya aku, sedang lainnya hilang ditelan gelap. Mata tak lagi berguna, telinga hanya sunyi. Jadilah aku sendiri, berkawan dengan sejati diri.

Lalu malam jadi ramai. Suara hati berkicauan. Membumbung tinggi di benak, penuhi maksud dengan kehendak. Suara gempita tentang risau-galau mericau-mengacau. Sedang harap, berbisik pelan tentang masa depan. Segala rasa bergumul, merusak gelap dengan citra diri. Semua gambar dipasang, gambar yang lama mengendap di dasar pikiran. Lalu dimulailah, parade rasa yang usang terpendam. Gambar-gambar berkilatan saling bergantian. Memutar segala isi pikiran. Lalu gelap.

Aku terlelap.