Sepi. Merah tanah terbang jadi debu. Angin mendesir, lewat begitu saja, tak ada sapa. Ini siang matahari begitu terik, panasnya membakar kulit. Sedikit-sedikit kulitku terkelupas termakan panas. Di mana-mana ada retakan, yang hitam dan kasar.
Pandanglah aku, yang renta ini, tak lagi pokok batang menjulang. Tak lagi pucuk mencapai tinggi. Tepat beberapa meter dari muka tanah, kau lihat itu, patahan besar pokok batangku terkena golok dan gergaji. Sungguh bising ketika gergaji itu pelan-pelan masuk ke batangku. Gigi-giginya yang runcing bolak-balik menusuk semakin dalam. Setiap gesekan mengeluarkan deritan dan getahku serupa darah mengalir deras.
Entah apa dosaku. Pagi itu seperti biasa kumulai dengan menyapa burung. Menyaring beberapa karbondioksida dan menenggak air. Seperti pagi biasa saja: memerangkap beberapa tetes embun di lengkung tengah daunku lalu memainkannya jadi tetesan air yang kadang menimpa kepalamu yang sedang main-main di bawahku, membina pucuk-pucuk baru yang terus tumbuh di ujung ranting, atau sekedar meniup-niup angin yang lewat begitu saja. Entah apa dosaku.
Matahari sebentar meninggi menunggu pagi. Lalu entah siapa datang bawa gergaji. Kau lihat, Jamblang di sampingku, telah dipanjat dan diranggas segala dahannya. Tak lagi ada ranting dan daun-daun rontok menghempas tanah. Suara hempasannya begitu memilukan. Serupa rintihan orang kesakitan yang lirih. Sedang gedebum patah dahannya yang menimpa tanah serupa hentaman meriam kena sasaran. Begitu memilukan.
Kelapa yang di ujung sana, yang berjejer rapi, kini telah berjejer rapi jadi potongan-potongan silinder, bergeletakan di tanah. Daunnya yang memanjang berurai karut-marut. Buahnya bergelimpangan, beberapa menggelinding menjauh. Sedang Jambu yang meranggas di sebelah utara itu telah rapi terikat siap dibakar di tungku-tungku penanak nasi mereka.
Lalu gedebum! Batang pokok Jamblang tumbang. Dan tibalah giliranku. Kaki kanannya menjejak di pangkal pokok batangku, sedang kedua tangan kekarnya mencengkram kuat batangku yang sejajar dadanya, dia lalu membungkukkan badan mendekat dada ke batang. Lalu sekali tarikan tangan, badannya menghempas naik, kaki kirinya menjejak jadi pijak lalu kaki kanan naik ganti jadi pijak lalu kaki kiri naik lalu cengkraman tangan naik dan kaki kiri jadi pijak lalu kaki kanan naik ganti jadi pijak….. begitulah seterusnya. Dan tiba-tiba saja dia telah sampai di dahan tinggi, mulai mengeluarkan golok dari sarung yang terikat di tali pinggangnya dan meranggas dahan-dahan yang bisa dijangkaunya. Satu-satu dahanku putus terpotong tajam tebasan golok. Sakit, sungguh sakit. Hendak aku menjerit bila bermulut. Tapi, aku diam, hanya gedebum batangku berhempasan.
Habislah sudah segala ranting segala dahan tinggal batang telanjang. Lalu mulailah dia mengurai tambang yang melingkar di bahunya. Mengikat kuat ujung dahan tertinggiku beberapa senti saja dari puncaknya dengan ujung tambang, sedang ujung tambang lain ia lempar ke bawah. Lalu bergegas ia turun.
Di bawah telah siap gergaji besar. Matanya mengilap baru kena asah. Gergaji itu hanya lempengan panjang besi saja, satu sisinya bergerigi segitiga runcing, sedang sisi lainnya rata saja. Di kedua ujung gergaji ini dipasang pegangan kayu berbentuk gagang silinder, panjangnya lebih panjang dari lebar gergaji, agar kedua orang itu leluasa menggengam gergaji.
Mereka berdua duduk berhadapan, masing-masing tangan pada pegangan gergaji. Lalu gerigi gergaji diarahkan ke batangku, betapa ngeri. Ketika ujung gerigi itu menyentuh kulitku seluruh tubuhku terasa ngilu. Dan mulailah goresan pertama, orang pertama mendorong gergaji lalu sedikit membungkuk, orang kedua menarik gergaji sampai tubuhnya terdorong ke belakang. Saat orang pertama menarik gergaji maka orang kedua akan mendorongnya, begitulah bergantian sampai batang teriris tiga perempat bagian. Mereka berhenti, menjauh dari batangku.
Lalu orang yang memanjat tadi, dibantu kedua penggergaji, menarik kuat tambang yang ujungnya telah kuat mengikat ujung dahan tertinggiku. Aku goyah. Hentakan tarikan mereka membuatku goyang, hilang keseimbangan, lalu gedebum!
Getahku serupa darah terus mengalir, menggenang sekitar batang, jadi lautan darah putih. Mereka tertawa puas. Akulah batang terakhir di lapang ini yang jatuh.
Keadaan lapang jadi sungguh kacau. Dimana-mana organ berserakan. Dari bermacam bentuk daun, berbagai ukuran ranting sampai berbagai batang bercampur-campur.
Lapang ini tadinya sungguh indah, setidaknya menurut perkiraanku sebagai Karet. Di lapang ini akulah yang tertinggi jadi bisa memandang lebih jauh, lebih luas. Jambu tak seberapa tinggi, tentu saja agar dia bisa menawarkan buahnya untuk kesenangan anak-anak. Sedang Jamblang, buahnya kecil-kecil tapi sungguh manis, tentu dia tak boleh lebih tinggi dariku. Sedang Kelapa tak masuk hitungan, karena dia jauh berada di tepi lapang, lagi pula, janurnya perlu untuk perayaan, jadi janganlah terlalu tinggi.
Sebagai Karet aku mendapat tempat terhormat di lapang ini setiap musim kemarau. Saat Jjamblang kehabisan buahnya dan Jambu pentil buahnya, aku menawarkan buah dan batangku. Loh, untuk apa? Untuk teman bermain mereka. Bagaimana bisa? Yah, begitulah.
Setiap kemarau kukeluarkan buahku. Buah ini bukan hanya unik bentuknya – dilihat dari bawah seperti bintang tumpul berbidang tiga atau empat, sedang kalau dilihat dari samping, seperti gelendong yang menggembung di bagian tengah, serupa tiga bukit yang melengkung yang dibatasi oleh lembah-lembah curam – tapi komposisi kulit buahnya pun unik. Di dalam kulitnya yang empuk ada semacam cangkang keras, mungkin kitin. Fungsinya bukan sekedar melindungi buahku, tapi juga sebagai pelontar. Setelah buahku cukup tua, cangkang ini yang tadinya basah dan lunak jadi mengering dan keras. Semakin kering, semakin jauh buahku akan terlontar. Pengurangan air yang drastis membuat cangkang ini tertekan kuat dan saling mendorong sampai akhirnya pecah dan terlontarlah bijiku. Dalam satu buah, biasanya berisi tiga atau empat biji karet, bahkan kadang lima atau enam. ”Trrrkk…trrrkk…..trtak!!”, begitulah bunyi pecah cangkangnya, sungguh merdu.
Lalu apa gunanya biji karet? Bagi anak-anak ini sungguh sebuah hiburan. Bijinya dijadikan bahan aduan, biji karet siapa yang lebih kuat. Kedua biji karet ditumpuk, muka ketemu muka, lalu ditimpa kepalan tangan. Yang kulitnya lebih rapuh itulah yang hancur duluan, kalahlah. Begitulah, satu-satu diadu sampai habis lalu mereka akan menunggu lontaran bijiku berikutnya. Yang menyenangkan adalah, mereka tak bisa menduga kemana biji akan kulontarkan walaupun telah mendengar suara pecahnya cangkang. Begitu biji terlihat di udara atau terlihat menghantam tanah, mereka bergegas berebutan biji itu. Agar tak ribut karena berebut, biasanya langsung saja kulontarkan biji berikutnya. Ah, sungguh semarak suasana.
Sedang bagi orang tua mereka, isi bijiku yang lunak bisa jadi santapan lezat. Mereka menamai santapan itu dage. Isi bijiku dibelah dua lalu dibersihkan getah dan bakal daunnya. Setelah itu direndam selama beberapa hari sampai racun-racunnya keluar melarut di air rendaman. Setelah dibasuh dengan air bersih, isi bijiku ini telah menjadi dage dan aman dikonsumsi. Biasanya dipepes, serupa tahu. Gurih sekali.
Lalu tentang batangku, inilah. Mereka membuat luka. Ada yang sengaja membawa pisau dapur dan mengiris batangku. Ada juga nekat menghantamkan batu bata sampai koyak kulitku. Keluarlah getah. Semakin banyak, semakin senang mereka. Dari luka-luka itu getahku mengalir menganak sungai kadang mereka sengaja membuat lubang di tanah, sungai getahku bermuara di danau getah. Apa perlu mereka dengan getah? Apa mereka hendak jadi penyadap getah karet yang mengumpulkan getah untuk karet?
Lihatlah! Mata mereka berbinar memandang sungai getahku. Lalu mereka celupkan jari ke getah. Jari yang penuh getah segar ini dioleskan ke telapak tangan, terus, terus, sampai tebal seluruh telapak tangan penuh getah basah. Bila belum puas, mereka oleskan juga ke punggung tangan, jari-jari sampai kuku, bahkan lengan mereka sampai siku. Semuanya penuh getah. Setelah puas, kau lihat wajah mereka dengan sabar menunggu. Kadang meniup-niup getah di tangan mereka, sampai kering. Setelah kering, dimulai dari bagian manapun yang mereka suka getah kering ini dikelupas perlahan dengan cara khusus: dari ujung permulaan pengelupasan, dilakukan penggelindingan sampai terbentuk bola karet. Bola karet lalu menggelinding serupa bola salju semakin besar dengan semakin banyak kelupasan. Getah karet yang terkelupas berwarna bening dan saat diangkat jadi serupa mengelupas kulit. Lalu berlombalah mereka, bola siapa yang lebih besar? Sungai getah siapa yang paling deras dan danau getah siapa yang paling melimpah?
Mereka bisa asyik seharian bermain sungai karet dan mendapat bola karet sebesar bola golf. Mereka tertawa, saling menempelkan getah ke pipi, hidung atau tangan anak lain. Ada cekikikan bahagia. Mereka ketawa!
Getahku serupa darah terus mengalir, menggenang sekitar luka di batang, jadi danau darah putih. Mereka tertawa puas. Akulah satu-satunya Karet di lapang ini.
May 15, 2009 at 1:47 am
mantap nih tulisannya