June 2009


Suatu hari, ketika saya sedang membuka facebook tiba-tiba seorang teman menyapa saya. Saya menjawab sapanya. Sebelum bercerita lebih jauh, baiklah saya akan menceritakan sedikit tentang teman saya ini. Dia adalah teman SMA saya. Dulu tak sekedar teman. Saya suka dia dan saya nyatakan hal ini. Bahayanya, ternyata dia sudah lama memendam cintanya pada saya. Gayung bersambut. Tapi, kita tak boleh berpacaran saya bilang. Lalu saya katakan padanya tunggulah sampai kita siap dan semakin dewasa. Tapi karena berbagai masalah diantara kami, dia marah dan menghilang. Setelah setahun saya kuliah, barulah kami saling berkomunikasi kembali, tapi, hanya sebatas teman.

Baiklah, kembali ke saling sapa di facebook, dia masih sama, begitu posesif dan penyemburu. Kecuali setelah dia mengatakan bahwa dia sudah menikah bulan Mei yang lalu. Saya bilang alhamdulillah, semoga barokah. Sayangnya, lanjut dia, dia tak bahagia dengan pernikahannya. Dia tak mencintai suaminya. Dia menikah atas tuntutan keluarga memenuhi kewajiban bakti pada orang tua.

Saya bilang, rasa cinta kan bisa ditumbuhkan. Dia bilang tak bisa. Dia hendak meminta cerai lanjutnya, saya kaget. Dia hendak pergi jauh saja biar bisa melupakan semuanya. Saya bilang apakah hal ini sudah dia bicarakan dengan suaminya. Dia tidak menjawab. Komunikasi antara suami istri sangat penting saya lanjutkan kata-kata saya. Tapi dia tetap dengan keyakinannya untuk bercerai. Saya tegaskan lagi agar dia sebisa mungkin jangan bercerai. Lalu komunikasi kami terhenti disini.

Lalu, saya jadi membayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya berada pada posisi dia: menikah dengan orang yang tidak saya cintai? Apa saya tidak akan bahagia juga? Mungkin iya. Tapi, mungkin juga tidak. Setiap orang mempunyai parameter berbahagia yang berbeda. Bagi saya bahagia sederhana saja: berkecukupan secara lahir dan batin. Berkecukupan secara lahir lebih mudah dicari, tapi, berkecukupan secara batinlah yang kadang membuat banyak orang tak berbahagia.

Maka bila nanti istri saya mampu memberikan kecukupan batin ini, maka saya akan cukup bahagia. Soal cinta atau tidak cinta bisa saya kesampingkan terlebih dahulu. Cinta adalah urusan hati. Saat hati kita condong pada Allah, maka Allah pun akan menganugerahkan rasa cinta pada orang yang menyintaiNya.

Ketika ditanya seorang perempuan apakah aku mencintainya, segera saja timbul kebingungan dalam diriku. Apakah semua perasaan yang aku miliki pada perempuan itu adalah cinta? Lalu semuanya jadi rumit ketika ada perempuan lain yang bertanya hal yang sama. Lalu apa boleh aku mencintai mereka semua yang mencintai diriku? Walaupun pada akhirnya, aku hanya boleh memilih satu saja?

Sebuah jawaban mengejutkan tiba-tiba muncul, cintailah semua yang Allah cintai! Maka aku pun mencintai semua yang dapat dicintai, semuanya, secara setara. Mencintai jilbab-jilbab, mencintai pohon, matahari, angin, hujan, segala, setara. Maka mukaku akan berseri ketika melihat mereka, ah, aku cinta kalian, dan seperti setiap pecinta, selalu merasa bahagia ketika jumpa yang dicintanya.

Tapi, selalu saja ada yang lebih. Seperti aku lebih mencintai gerimis dibanding terik mentari, lebih mencintai pohon dibanding semak, lebih mencintai satu wanita dibanding lainnya. Dan hal ini sangat mengganggu. Jatuh cinta pada satu wanita membuat setengah akalku hilang. Hatiku bergolak, asmara, begitulah kata orang. Maka aku akan membunuhnya. Membuat semua cintaku kembali setara.

Tapi, aku tahu, Allah tak mencintai makhluk-Nya secara setara, tapi secara adil. Maka Allah memuliakan Rasulullah Muhammad dibanding Rasul-Rasul lainnya. Allah memuliakan orang mukmin atas orang-orang kafir. Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Maka aku pun mulai belajar mencintai makhluk-Nya secara berkeadilan.

Setelah merasakan semua cinta itu maka dapatlah aku melihat dengan lebih jelas. Dengan cinta seperti apa aku mencintai apa. Aku akan mencintai pohon seperti benih, bersembunyi di balik tanah lalu muncul malu-malu, menggeliat kemudian tumbuh tegak dengan sebuah senyuman. Aku akan mencintai matahari seperti api, hanya membakar apa yang bisa dibakar. Aku akan mencintai wanita seperti rahim, yang selalu terluka sampai benih tersemai didalamnya.

 Lalu tentang cinta manusia sendiri aku melihat ada beberapa jenis. Ada cinta garisah, cinta yang secara naluriah sudah ada sejak kita dilahirkan. Seperti cinta bayi pada ibu dan sebaliknya. Lalu cinta kedunian, cinta yang sangat dipengaruhi hawa nafsyu. Contohnya adalah ketika kita mencintai seseorang karena fisik (cantik, tampan, tinggi, putih, pirang, bermata biru, dll) dan tampilan luarnya (sifatnya baik, ramah, tegas, puitis, romantis, tegas, berwibawa, dll). Lalu ada cinta sanubari, cinta yang tak lagi dipengaruhi nafsyu, tapi, benar-benar lahir dari hati yang tulus, sanubari kita. Cinta keduniaan akan berubah menjadi cinta sanubari ketika kita mencintai seseorang bukan karena fisik dan tampilan luarnya, tapi, lebih karena misalnya tingkat keshalehan dan kemampuannya menentramkan jiwa kita (bukan malah membuat kita gelisah).

Lalu yang selanjutnya, cinta yang menurutku adalah cinta yang tertinggi, mahabbatullah. Cinta kepada Allah. Cinta yang terus-menerus harus dilatih sampai pada kepuasan tertinggi, fana. Semuanya tak ada, hanya Allah yang hadir dalam hati. Setelah ini tercapai, maka kita akan memandang dunia secara berbeda. Segalanya tak perlu kecuali yang Allah perintahkan. Semua nafsyu tak perlu, kecuali yang sekedar dibutuhkan. Lalu, menjelmalah cinta itu menjadi rahmatan lil alamin.

Adalah malam dan rembulan yang mengkristal yang buatku tak jemu menunggu bila beku hatiku kuharap kau tahu cintaku padamu tak terganti seperti hari-hari yang berlari mengejar mati lalu nanti saat jumpa lagi maukah janji satu kali yang lain tak pernah jua mengerti apa yang buatku pergi hanya begitulah siang mengejar mentari yang menari cahaya dalam birumu yang mendung sedih murung dan angin mengarak hijau melintas cepat melesat petir dari duka ke tua usia lalu tenggelamlah senja di ufuk timur kau terbit lalu berlarilah kejar mimpi yang tak pernah sampai kau gapai dan biar aku menunggu saja adalah malam dan rembulan yang mengkristal. (more…)

Kaulah permata yang sinar jernih matamu membuat silau mataku dan

aku jatuh hati pada merah bibir dan cahaya pancaran wajah jadi

rausyan menimpakan nur ke hatiku lalu damai dan tertambatlah aku melabuh

ke hatimu dan

inta hanya tersenyum indah maka

nyanyikanlah lagu damai di hati: inta aku cinta.