Suatu hari, ketika saya sedang membuka facebook tiba-tiba seorang teman menyapa saya. Saya menjawab sapanya. Sebelum bercerita lebih jauh, baiklah saya akan menceritakan sedikit tentang teman saya ini. Dia adalah teman SMA saya. Dulu tak sekedar teman. Saya suka dia dan saya nyatakan hal ini. Bahayanya, ternyata dia sudah lama memendam cintanya pada saya. Gayung bersambut. Tapi, kita tak boleh berpacaran saya bilang. Lalu saya katakan padanya tunggulah sampai kita siap dan semakin dewasa. Tapi karena berbagai masalah diantara kami, dia marah dan menghilang. Setelah setahun saya kuliah, barulah kami saling berkomunikasi kembali, tapi, hanya sebatas teman.
Baiklah, kembali ke saling sapa di facebook, dia masih sama, begitu posesif dan penyemburu. Kecuali setelah dia mengatakan bahwa dia sudah menikah bulan Mei yang lalu. Saya bilang alhamdulillah, semoga barokah. Sayangnya, lanjut dia, dia tak bahagia dengan pernikahannya. Dia tak mencintai suaminya. Dia menikah atas tuntutan keluarga memenuhi kewajiban bakti pada orang tua.
Saya bilang, rasa cinta kan bisa ditumbuhkan. Dia bilang tak bisa. Dia hendak meminta cerai lanjutnya, saya kaget. Dia hendak pergi jauh saja biar bisa melupakan semuanya. Saya bilang apakah hal ini sudah dia bicarakan dengan suaminya. Dia tidak menjawab. Komunikasi antara suami istri sangat penting saya lanjutkan kata-kata saya. Tapi dia tetap dengan keyakinannya untuk bercerai. Saya tegaskan lagi agar dia sebisa mungkin jangan bercerai. Lalu komunikasi kami terhenti disini.
Lalu, saya jadi membayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya berada pada posisi dia: menikah dengan orang yang tidak saya cintai? Apa saya tidak akan bahagia juga? Mungkin iya. Tapi, mungkin juga tidak. Setiap orang mempunyai parameter berbahagia yang berbeda. Bagi saya bahagia sederhana saja: berkecukupan secara lahir dan batin. Berkecukupan secara lahir lebih mudah dicari, tapi, berkecukupan secara batinlah yang kadang membuat banyak orang tak berbahagia.
Maka bila nanti istri saya mampu memberikan kecukupan batin ini, maka saya akan cukup bahagia. Soal cinta atau tidak cinta bisa saya kesampingkan terlebih dahulu. Cinta adalah urusan hati. Saat hati kita condong pada Allah, maka Allah pun akan menganugerahkan rasa cinta pada orang yang menyintaiNya.