July 2009


Pagi ini kumulai perjalanan dengan menelepon seseorang, tentang rencana-rencana yang kami laksanakan bersama. Sementara itu matahari sudah mulai meninggi, naik seujung tombak. Aku berjalan sambil menelepon, sungguh korban teknologi. Saat berhenti – menelepon – sinar matahari semakin hangat. Pagi yang dingin menguap.

Hari yang cerah akan dimulai lagi. Matahari tak jumpa awan halangi sinarnya, maka terang benderanglah nanti siang, seperti kemarin. Yah, seperti kemarin. Ini Tubagus Ismail dan jalanan masih sepi. Angkot biru sekali lewat lalu mobil-mobil pribadi dan deru motor. Hari Minggu yang sepi. (more…)

Lupakan saja,

Mimpi adalah bayangan yang selalu datang dengan cepat di malam-malam

sendirian.

Diriku saja,

Setiap rasa selalu menjadi biasa ketika kata jadi bisa.

Maumukah?

Lalu segala kesiaan  ini menguap bersama udara pengap yang terus

menghimpit sesak dadaku.

Akuilah,

Aku hilang tenggelam, karam dilautmu.

hilanglah,

dalam karam terbenam sampai dasar

hatiku.

Petang datang lalu cahaya terang. Kau rembulan yang purnama di hati. Terang sebagai bola besar di langit timur.

Aku di sini, di atas motor melaju kencang, memandangmu mesra. Sungguh indah cahayamu, kuning kemerahan temaram. Andai aku bawa tas, ingin kubilang, hentikan motor sebentar, kuambil kau dari langit, kumasukan ke tas, dan berbisik pelan: “Kau akan kujaga agar terus purnama.”

Berkelok-kelok jalan yang kulewati, lalu kulihat kau berpindah-pindah dari tenggara ke timur laut, tapi, tetap, selalu berada di depanku. Kupandang wajahmu dan damai hatiku. Biar itu bukan cahayamu kau tetap ayu, ah, sungguh syahdu.

Beberapa saat lalu teman sekontrakkanku bertanya, kenapa aku tak mengabari dia langsung ketika Bapakku meninggal. Saat itu kujawab, karena aku sibuk mengurusi segala prosesi pra dan pasca pemakaman.

Tapi, sesungguhnya, bukan karena itu saja. Memang benar aku sibuk. Tapi, ada alasan lain yang belum kukatakan. Pertama aku bingung, bagaimana harus aku sampaikan berita ini. Ah, aku tak pandai menyampaikan berita duka. Maka kukabari saja satu orang, yang darinya akan tersebar luaslah berita ini.

Yang kedua, ini berkaitan dengan prinsipku: I am share happiness but not share pain. Yah, aku hanya berbagi kebahagian, bukan rasa sakit. Aku tak ingin membuat orang lain sedih. Melihat wajah orang yang sedih selalu meninggalkan rasa trauma bagiku. Membuatku sakit. Karenanya, aku selalu tersenyum ketika berjumpa kawan. Tak peduli suasana hati, tak peduli ada badai di hati.

Jika sedih atau sakit hati ini, maka kubagi itu denganNya. Mengeluh atas kelemahan diri dan ketidakmampuan menahan sakit di hati. Jika harus menangis, aku ingin menangis dihadapanNya, dan tak (lagi) mau menangis dihadapan manusia.

Bukankah teman itu tempat berbagi? Bagiku, teman itu tempat berbagi kebahagian. Yang sedih, yang menyakitkan, hanya kusimpan untukku, untuk kuadukan ke Tuhanku. Hanya Allah yang memberiku rasa tenang, hanya Allah teman berbagi terbaikku. Jadi, maaf, teman. Bila aku hanya bisa berbagi kebahagian denganmu.

begitulah…

cahaya berjalan jauh tak berhenti sampai terserap jadi energi dan memancar kembali, walau redup tapi masih menerangi.