Beberapa saat lalu teman sekontrakkanku bertanya, kenapa aku tak mengabari dia langsung ketika Bapakku meninggal. Saat itu kujawab, karena aku sibuk mengurusi segala prosesi pra dan pasca pemakaman.
Tapi, sesungguhnya, bukan karena itu saja. Memang benar aku sibuk. Tapi, ada alasan lain yang belum kukatakan. Pertama aku bingung, bagaimana harus aku sampaikan berita ini. Ah, aku tak pandai menyampaikan berita duka. Maka kukabari saja satu orang, yang darinya akan tersebar luaslah berita ini.
Yang kedua, ini berkaitan dengan prinsipku: I am share happiness but not share pain. Yah, aku hanya berbagi kebahagian, bukan rasa sakit. Aku tak ingin membuat orang lain sedih. Melihat wajah orang yang sedih selalu meninggalkan rasa trauma bagiku. Membuatku sakit. Karenanya, aku selalu tersenyum ketika berjumpa kawan. Tak peduli suasana hati, tak peduli ada badai di hati.
Jika sedih atau sakit hati ini, maka kubagi itu denganNya. Mengeluh atas kelemahan diri dan ketidakmampuan menahan sakit di hati. Jika harus menangis, aku ingin menangis dihadapanNya, dan tak (lagi) mau menangis dihadapan manusia.
Bukankah teman itu tempat berbagi? Bagiku, teman itu tempat berbagi kebahagian. Yang sedih, yang menyakitkan, hanya kusimpan untukku, untuk kuadukan ke Tuhanku. Hanya Allah yang memberiku rasa tenang, hanya Allah teman berbagi terbaikku. Jadi, maaf, teman. Bila aku hanya bisa berbagi kebahagian denganmu.
July 3, 2009 at 3:46 am
mantap surantap
July 12, 2009 at 4:48 am
jd teringat curhatan seorang teman yg bilang bahwa sebenarnya dia sangat ingin membantu sahabatnya ketika sahabatnya punya masalah, tp dia gtaw harus mulai dari mana krn blum ad keterbukaan. karena baginya, sahabat itu adalah tempat berbagi bahagia dan juga kesedihan…that’s what a friend are for (for him/her…)