Petang datang lalu cahaya terang. Kau rembulan yang purnama di hati. Terang sebagai bola besar di langit timur.

Aku di sini, di atas motor melaju kencang, memandangmu mesra. Sungguh indah cahayamu, kuning kemerahan temaram. Andai aku bawa tas, ingin kubilang, hentikan motor sebentar, kuambil kau dari langit, kumasukan ke tas, dan berbisik pelan: “Kau akan kujaga agar terus purnama.”

Berkelok-kelok jalan yang kulewati, lalu kulihat kau berpindah-pindah dari tenggara ke timur laut, tapi, tetap, selalu berada di depanku. Kupandang wajahmu dan damai hatiku. Biar itu bukan cahayamu kau tetap ayu, ah, sungguh syahdu.