Pagi ini kumulai perjalanan dengan menelepon seseorang, tentang rencana-rencana yang kami laksanakan bersama. Sementara itu matahari sudah mulai meninggi, naik seujung tombak. Aku berjalan sambil menelepon, sungguh korban teknologi. Saat berhenti – menelepon – sinar matahari semakin hangat. Pagi yang dingin menguap.
Hari yang cerah akan dimulai lagi. Matahari tak jumpa awan halangi sinarnya, maka terang benderanglah nanti siang, seperti kemarin. Yah, seperti kemarin. Ini Tubagus Ismail dan jalanan masih sepi. Angkot biru sekali lewat lalu mobil-mobil pribadi dan deru motor. Hari Minggu yang sepi.
Oh, yah, rasanya aku tak menemui nenek itu. Yang biasa berdiri di pinggir jalan dengan tatapan tajamnya. Penuh energi dan gairah hidup. Terakhir kali aku melihatnya sedang menyapu, beberapa hari yang lalu. Kali ini, aku malah melihat seorang tunawisma, tidur dengan sisi tubuh kirinya. Di sampingnya ada perapian sisa-sisa pembakaran sampah. Pagi ini sangat dingin jadi aku mengerti kenapa dia tidur di samping perapian itu, mungkin dari semalam, mungkin. Di samping tunawisma itu, berdiri lelaki berumur, berusaha membangunkannya. Aku tersenyum padanya, lalu ia bilang, tunawisma ini harus pindah, bisa terbakar ia. Aku hanya lewat dan memandang mereka sekilas, baju dekil dan kotor tunawisma itu, berapa lama dia tak mandi?
Akhirnya sampai pasar, Pasar Simpang. Tumpah ruah pedagang di mulai dari mulut jalan Tubagus Ismail. Dimulai dari pedagang sayuran dan buah, lalu bumbu dan berujung pada penjaja sarapan pagi: ketupat, martabak, gorengan dan tak lupa surabi. Jangan lupa pedagang tahu dan tempe, yang kedelainya masih kita impor. Lalu angkot biru yang ngetem, berhenti sampai mobil penuh.
Hari ini hari Minggu, harinya koran pagi. Menikmati sajian sastra koran dan suasana liburan diberbagai belahan berita. Tak lupa komik strip yang cuma nongol tiap hari minggu. Loper koran langgananku tiap hari minggu tepat ada di persimpangan Tubagus Ismail dan Jalan Dago. Setelah membeli koran, aku berjalan di jalan raya. Terlalu lama bila harus berjalan di trotoar. Selain pedagang, harus bersesakan dengan para pembeli. Lama.
Pagi ini sungguh cerah. Di mana-mana kutemui wajah cerah, bahkan di tempat pembuangan sampah. Para pemulung mengais-ngais rezeki di tumpukan sampah, sedang petugas kebersihan berusaha memasukan semua sampah ke truk sampah, yang tentu saja berwarna kuning.
Dan inilah, selepas tempat pembuangan sampah, selalu ada permainan menarik, permainan lampu merah. Ada perempatan. Pertama aku akan menyebrang jalan Dipati Ukur ke arah jalan Dago kemudian menyebrang jalan Dago. Aturannya sederhana, menyebrang saat lampu merah menyala di jalan yang akan disebrangi. Dan hari ini hari keberuntunganku. Aku menyebrang jalan Dipati Ukur ketika lampu merah ke arah Dipati Ukur masih menyala merah dan menyebrang jalan Dago tepat ketika lampunya berubah hijau. Benar-benar kebetulan yang menyenangkan. Semuanya berjalan dengan begitu tepat, sesuai keinginan.
Selapas di seberang jalan Dago, lewati trotoar dan tiang-tiang pohon Damar. Seorang suami istri, yang sudah kakek nenek, bercakap dalam diam. Mereka berdua terduduk di trotoar. Saling memandang. Ah pasangan yang setia. Yang Kakek duduk sambil merokok sedang yang Nenek mencoba membetulkan kain yang tersebat dipunggungnya, mungkin berisi beberapa keping baju. Mereka tampaknya tunawisma. Tunawisma? Tidak, mereka punya rumah. Rumahnya lebih luas dari rumah kita. Terhampar begitu saja, tanpa atap dan tembok.
Lalu aku berbelok, ke Jalan Dayang Sumbi. Jalanan teduh. Di kiri kanan Mahoni berdiri angkuh, daunnya rindang, tutupi jalan dari sinar berlebihan. Jalannya cukup lebar dengan trotoar yang setengah hancur, berkalang debu dan tanah. Suasana damai rindang mahoni dicederai mobil yang seenaknya parkir di pinggir jalan, semrawut. Mobil-mobil itu memarkir diri dari ujung jalan Dayang Sumbi ke arah Taman Sari sampai jalan Taman Sari. Kulewati semua.
Menyelinap lewat pintu samping, masuklah aku ke kampus. Pintunya cuma dibuka sedikit, jadi harus memiringkan badan agar bisa lewat.
(masih bersambung…)
July 14, 2009 at 8:15 am
Kang Tatang datang bersilaturahmi
apa kabar sahabat?
kangtatang