“Jadi, siapa pembantunya?”
“Tentu saja yang lebih gemuk!”
“Ah, mana mungkin? Tentu saja yang lebih kurus!“
“Eka? Tidak, tidak, Ulfah! Ulfahlah pembantunya“
“Eka, dia kurus. Itu tanda dia banyak kerja.”
”Ulfah, dia gemuk. Karena banyak kerja, banyak makannya.”
Keduanya diam sejenak. Yang satu memegang hidung dan memoles-molesnya. Satu lagi menggoyang-goyang kacamatanya.
”Baiklah, begini! Ketika aku bertamu ke rumah itu, aku disambut Eka, sang pembantu…..”
”Tidak, tidak, ketika aku datang, Eka juga menyambutku, tapi, dia majikannya, karena tak lama setelah aku duduk, dia panggil Ulfah, pembantunya.”
”Hmm, baiklah, kalau begitu, kenapa tak kalian ceritakan saja, masing-masing. Kita lihat siapa yang lebih benar ceritanya.”
Orang ketiga menengahi. Melerai dan menyolusi.
”Baiklah, aku dulu. Begini ceritanya: (more…)