Hidupku, hidupmu, hidup kita, untuk apakah?
Ketika lajuku terhenti, menunggu dan berharap.
Atau ketika aku bergerak tak henti, memburu dan membara.
Apakah semua itu untuk hidupku?
Atau sekedar menunjukkan, aku hidup, benar-benar hidup. Menjalani semua, karena toh untuk itulah kehidupan ada. Apakah hidup seperti itu selalu berarti bagiku?
Entahlah. Aku hanya tak suka hidup. Lebih suka kehidupan. Yang bisa kujaga dan menjaga. Hidup, walau anugerah, tak selalu dapat membahagiakan. Itu semua, hanya bergantung, kemana aku mengarahkan – hidupku.
Aku ingin hidup yang singkat saja, tapi, berarti. Aku tak ingin, misalnya, menjadi tua dan kaya. Bila masih ada waktu, aku hanya ingin memberi. Sehingga, saat aku mati, tak lagi ada yang bisa kuberikan, selain jiwaku. Aku tak ingin memiliki. Karena perasaan memiliki bisa mengotori hati. Karenanya, semua yang Tuhan beri, ingin kutitipkan padaNya. Bila aku membutuhkannya, akan kupinta, jika Dia “membutuhkannya” tak akan kuambil. Jika terlanjur memiliki, ada baiknya, kucari Tuhan, untuk kutitipi, semuanya.
Aku ingin hidup sebentar saja. Terlalu lama di ladang, bisa membuatku lupa pulang. Rumahku, bukan di dunia ini, tapi, di sana, di tempat yang jauh dari pandangan, tapi, dekat di hati. Karenanya, aku selalu rindu, untuk pulang. Tentu saja, agar sampai di rumah yang diinginkan, hasil ladangku harus cukup untuk ongkosnya. Bukan itu saja, perlu juga aku kendaraan yang tepat, agar tak sesat. Dan untuk semua itu, aku hanya perlu satu Tuhan. Tuhan yang punya ladang yang kugarap, yang walau sekering apapun tanahnya, tetap bisa menumbuhkan. Lalu, aku ingin, walau ladangku hanya disiram embun pagi, menghasilkan buah yang lebat dan berarti, agar kalian semua, bisa kubagi.
Ah, kurasa, untuk segala inilah aku hidup.
Hidupmu, untuk apakah?