October 2009


Hidupku, hidupmu, hidup kita, untuk apakah?

Ketika lajuku terhenti, menunggu dan berharap.

Atau ketika aku bergerak tak henti, memburu dan membara.

Apakah semua itu untuk hidupku?

Atau sekedar menunjukkan, aku hidup, benar-benar hidup. Menjalani semua, karena toh untuk itulah kehidupan ada. Apakah hidup seperti itu selalu berarti bagiku?

Entahlah. Aku hanya tak suka hidup. Lebih suka kehidupan. Yang bisa kujaga dan menjaga. Hidup, walau anugerah, tak selalu dapat membahagiakan. Itu semua, hanya bergantung, kemana aku mengarahkan – hidupku.

Aku ingin hidup yang singkat saja, tapi, berarti. Aku tak ingin, misalnya, menjadi tua dan kaya. Bila masih ada waktu, aku hanya ingin memberi. Sehingga, saat aku mati, tak lagi ada yang bisa kuberikan, selain jiwaku. Aku tak ingin memiliki. Karena perasaan memiliki bisa mengotori hati. Karenanya, semua yang Tuhan beri, ingin kutitipkan padaNya. Bila aku membutuhkannya, akan kupinta, jika Dia “membutuhkannya” tak akan kuambil. Jika terlanjur memiliki, ada baiknya, kucari Tuhan, untuk kutitipi, semuanya.

Aku ingin hidup sebentar saja. Terlalu lama di ladang, bisa membuatku lupa pulang. Rumahku, bukan di dunia ini, tapi, di sana, di tempat yang jauh dari pandangan, tapi, dekat di hati. Karenanya, aku selalu rindu, untuk pulang. Tentu saja, agar sampai di rumah yang diinginkan, hasil ladangku harus cukup untuk ongkosnya. Bukan itu saja, perlu juga aku kendaraan yang tepat, agar tak sesat. Dan untuk semua itu, aku hanya perlu satu Tuhan. Tuhan yang punya ladang yang kugarap, yang walau sekering apapun tanahnya, tetap bisa menumbuhkan. Lalu, aku ingin, walau ladangku hanya disiram embun pagi, menghasilkan buah yang lebat dan berarti, agar kalian semua, bisa kubagi.

Ah, kurasa, untuk segala inilah aku hidup.

Hidupmu, untuk apakah?

Aku kadang bertanya, waktu milik siapa?

Jika milikku, kenapa ia tak bisa kugunakan sekehendakku?

Misalnya saja, ketika bosan dengan hidup, aku pakai sebanyak-banyaknya, agar ia cepat berlalu. Dan ketika bahagia datang, kuulur sedikit-sedikit agar tiap detik kunikmati.

Nyatanya, dia datang dan nyelonong pergi sekehendaknya, dan tiba-tiba saja, aku ada di saat ini dan meninggalkan saat-saat itu.

Ah, mungkin waktu tuh milik matahari, yang membuat siang dan malam. Lalu kenapa dia sering datang telat? Mana mungkin pemilik waktu tidak disiplin, hari ini terbit pukul enam bulan depan enam lewat lima, mana mungkin?

Atau waktu tuh bukan milik siapa-siapa? Dia makhluk yang diciptakan tanpa pemilik – tentu saja Pencipta adalah pemilik segala, tapi bukan yang seperti ini yang kumaksudkan?

Waktu, setiap kali berjalan berkeliling berputar. Membagi-bagi rata masa. Dia juga yang menentukan, setelah lewat ukurannya tertentu, beberapa hal berubah. Dari siang ke malam dan sebaliknya. Dari biji ke kecambah, dari kecambah ke pohon kecil yang kemudian batangnya membesar dan tumbuhlah tinggi disiram mentari, semua diberi kadar masa olehnya.

Kadang dia mempercepat, kadang memperlambat. Dia hanya memberikan ukuran, kalau ukurannya sudah lewat, maka terjadilah kejadian. Kejadian yang sudah lewat, karena ukurannya sudah pas, tak lagi bisa diubah. Lalu, kita menyebutnya sejarah, sesuatu yang berlalu.

Waktu juga yang memberikan ukuran agar kehidupan berjalan teratur. Tidur di malam hari dan bekerja di siang hari. Beristirahat di hari Sabtu dan Minggu, bekerja dihari-hari lain. Turun salju di musim dingin dan siraman mentari di musim panas. Penghujan yang basah dan kemarau yang kering. Semua sudah diaturnya, datang secara bergantian, begitu teratur.

Jika waktu itu bukan milik siapa-siapa, tak perlu lah kita saling berebut waktu, karena toh, dia akan selalu membaginya secara adil. Semua, ada waktunya.