Aku kadang bertanya, waktu milik siapa?

Jika milikku, kenapa ia tak bisa kugunakan sekehendakku?

Misalnya saja, ketika bosan dengan hidup, aku pakai sebanyak-banyaknya, agar ia cepat berlalu. Dan ketika bahagia datang, kuulur sedikit-sedikit agar tiap detik kunikmati.

Nyatanya, dia datang dan nyelonong pergi sekehendaknya, dan tiba-tiba saja, aku ada di saat ini dan meninggalkan saat-saat itu.

Ah, mungkin waktu tuh milik matahari, yang membuat siang dan malam. Lalu kenapa dia sering datang telat? Mana mungkin pemilik waktu tidak disiplin, hari ini terbit pukul enam bulan depan enam lewat lima, mana mungkin?

Atau waktu tuh bukan milik siapa-siapa? Dia makhluk yang diciptakan tanpa pemilik – tentu saja Pencipta adalah pemilik segala, tapi bukan yang seperti ini yang kumaksudkan?

Waktu, setiap kali berjalan berkeliling berputar. Membagi-bagi rata masa. Dia juga yang menentukan, setelah lewat ukurannya tertentu, beberapa hal berubah. Dari siang ke malam dan sebaliknya. Dari biji ke kecambah, dari kecambah ke pohon kecil yang kemudian batangnya membesar dan tumbuhlah tinggi disiram mentari, semua diberi kadar masa olehnya.

Kadang dia mempercepat, kadang memperlambat. Dia hanya memberikan ukuran, kalau ukurannya sudah lewat, maka terjadilah kejadian. Kejadian yang sudah lewat, karena ukurannya sudah pas, tak lagi bisa diubah. Lalu, kita menyebutnya sejarah, sesuatu yang berlalu.

Waktu juga yang memberikan ukuran agar kehidupan berjalan teratur. Tidur di malam hari dan bekerja di siang hari. Beristirahat di hari Sabtu dan Minggu, bekerja dihari-hari lain. Turun salju di musim dingin dan siraman mentari di musim panas. Penghujan yang basah dan kemarau yang kering. Semua sudah diaturnya, datang secara bergantian, begitu teratur.

Jika waktu itu bukan milik siapa-siapa, tak perlu lah kita saling berebut waktu, karena toh, dia akan selalu membaginya secara adil. Semua, ada waktunya.