Dalam luapan waktu, aku berjumpa denganmu,
memandangmu jemu, sementara wajahmu lesu.
tentu saja kau lelah dan hendak menyerah,
tapi menyerah berarti mati bagimu.
Kamu,
hanya ingin hidup sehari lagi,
besok mati tak apalah walau dalam hatimu bertanya kenapa?
tapi toh, hidupmu hanya untuk hari ini, karena tak pernah mau menduga besok apa ada mentari terbit untukmu.
Perutmu,
yang berbunyian terus itu, tentu tak lagi tahan tak terisi sejak kemarin malam,
tapi, tak apalah kau pikir, toh adikmu kemarin bisa makan nasi.
Simfonimu,
tak apalah tak didengar,
tapi, aku.
Ah, aku tahu lagu yang kau bawa, itu lagu gembira, tapi, dirimu tidak.
murung wajahmu, menghayati sepanjang lagu.
aku ingin gembira, karena begitulah lagunya bicara, tapi tidak, karena wajahmu tidak.
aku turun dan mengajakmu bicara,
kau tentu mau makan, marilah kita.
Setiap suap nasi satu cerita,
sekolahmu, sepatumu, kelasmu, semua tiada,
hanya adik-adik dengan mulut menganga menanti diisi,
orang tua, ah, mereka hanya beban katamu,
karena tak ada kerja untuk umur mereka.
Dunia memang kejam katamu,
seperti merajam setiap hari pada setiap sayatan luka: lapar, dahaga, hina……
Dunia tak kejam kataku,
tapi, inilah hidup.
kita tak lagi bisa menentukan arti kebenaran,
karena semuanya telah direnggut kekuasaan.
Kau tak mengerti kau bilang,
begitulah,
hidup tak selalu untuk dimengerti,
jalani hari demi hari,
sampai habis berhenti,
Tapi,
tak seharusnya selalu begitu,
bukan?
dirimu lahap makan sampai habis lauk terakhir,
kau bilang terimakasih,
aku memuji Tuhan dan dirimu ikut.
Dirimu menyanyi dan aku menari,
menari pada hidup yang kujalani,
menyanyi untuk hidup sunyimu.