mulanya padang pasir hitam gersang menantang,
matanya melotot menahan gelak pada tiap langkah kami yang tak pernah surut sampai datang belalang kuning menawarkan punggung dan mengaduk-aduk kami dalam galau,
setiap belokan adalah risau, sedang tanjakannya membuat mata membulat tajam, detak jantung adalah sesuatu yang kami jaga agar tak jatuh di jalanan dan ditelan pasir yang tertawa.
belalang kuning berhenti dipuncak tertinggi dakiannya menurunkan kami di hutan kecil tropis bersungai kecil bergemericik alir airnya yang kami basuh muka dan mencicipi segar rasanya,
hutan adalah daun yang hijaunya pohon coklatnya akar lunaknya tanah dan batuan yang menyembul di sela rerumputan dan air menetes dari gerimis dan berujung pada sebuah tanjakan,
tak ada apa setelah tanjakan selain tanjakan, batu-batu kerikil tanah keras terjal lalu mendaki semakin tinggi semakin terjal hampir memanjat dari pinus satu ke pinus lain yang timbul malu-malu di tengah gersang batu dan terik panas yang bergantian dengan gerimis menyapa,
gerimis semakin mesra ketika puncak semakin nestapa dan langkah kaki semakin berat lalu ransel merangsek punggung terasa ngilu dan mata sembab keringat dan bau badan tertiup angin yang begitu lembab lewat dai kanan ke kiri seperti kaki yang berlewatan di atas batu jadi tumpu terus menanjak sampai ngelunjak dan dada sesak,
diam-diamlah sebentar tarik nafas dan seduh air dalam kumuran mulut beberapa batang coklat dan marie nikmat lalu seduhan oksigen dingin di segar udara dan diam otot yang nyeri mereda itulah diam,
langit begitu kelabu ketika besarnya batu menunggu setiap sepatu menapakkan tapaknya dan bilang: selamat, satu puncak!
bukan lembah atau puncak lainnya hanya dataran dan pepohonan lalu angin kencang berhembus tak terkira,
dan malam adalah kelam penuh tegang dan angin meregang menghantam dalam tiap hembusan,
dan pagi adalah roboh dan dingin menantang ke puncak matahari datang,
dan dhuha adalah kami,
dan siang adalah mereka yang datang membawa air dan menunjuk jalan pulang,
dan truk adalah batu yang menusuk bokong-bokongmu,
dan pulang adalah lelah yang menunggumu dalam kenang haru yang akan terngiang selalu,
dan guntur adalah kita dalam romantisme abadi memori otak kelabu yang diam-diam memendam rindu,
kapan lagi kau akan datang?
January 23, 2011 at 6:53 am
wahhh,, ga nyangka ka oki putiis pisan.. eh ups puitis maksudna. hahah
ijin share ya.. :>
January 26, 2011 at 3:33 am
hehehe…
mangga neng Novah…
January 23, 2011 at 6:59 am
[...] disini. Enjoy LikeBe the first to like this [...]