Khuluk


Beberapa saat lalu teman sekontrakkanku bertanya, kenapa aku tak mengabari dia langsung ketika Bapakku meninggal. Saat itu kujawab, karena aku sibuk mengurusi segala prosesi pra dan pasca pemakaman.

Tapi, sesungguhnya, bukan karena itu saja. Memang benar aku sibuk. Tapi, ada alasan lain yang belum kukatakan. Pertama aku bingung, bagaimana harus aku sampaikan berita ini. Ah, aku tak pandai menyampaikan berita duka. Maka kukabari saja satu orang, yang darinya akan tersebar luaslah berita ini.

Yang kedua, ini berkaitan dengan prinsipku: I am share happiness but not share pain. Yah, aku hanya berbagi kebahagian, bukan rasa sakit. Aku tak ingin membuat orang lain sedih. Melihat wajah orang yang sedih selalu meninggalkan rasa trauma bagiku. Membuatku sakit. Karenanya, aku selalu tersenyum ketika berjumpa kawan. Tak peduli suasana hati, tak peduli ada badai di hati.

Jika sedih atau sakit hati ini, maka kubagi itu denganNya. Mengeluh atas kelemahan diri dan ketidakmampuan menahan sakit di hati. Jika harus menangis, aku ingin menangis dihadapanNya, dan tak (lagi) mau menangis dihadapan manusia.

Bukankah teman itu tempat berbagi? Bagiku, teman itu tempat berbagi kebahagian. Yang sedih, yang menyakitkan, hanya kusimpan untukku, untuk kuadukan ke Tuhanku. Hanya Allah yang memberiku rasa tenang, hanya Allah teman berbagi terbaikku. Jadi, maaf, teman. Bila aku hanya bisa berbagi kebahagian denganmu.

Suatu hari, ketika saya sedang membuka facebook tiba-tiba seorang teman menyapa saya. Saya menjawab sapanya. Sebelum bercerita lebih jauh, baiklah saya akan menceritakan sedikit tentang teman saya ini. Dia adalah teman SMA saya. Dulu tak sekedar teman. Saya suka dia dan saya nyatakan hal ini. Bahayanya, ternyata dia sudah lama memendam cintanya pada saya. Gayung bersambut. Tapi, kita tak boleh berpacaran saya bilang. Lalu saya katakan padanya tunggulah sampai kita siap dan semakin dewasa. Tapi karena berbagai masalah diantara kami, dia marah dan menghilang. Setelah setahun saya kuliah, barulah kami saling berkomunikasi kembali, tapi, hanya sebatas teman.

Baiklah, kembali ke saling sapa di facebook, dia masih sama, begitu posesif dan penyemburu. Kecuali setelah dia mengatakan bahwa dia sudah menikah bulan Mei yang lalu. Saya bilang alhamdulillah, semoga barokah. Sayangnya, lanjut dia, dia tak bahagia dengan pernikahannya. Dia tak mencintai suaminya. Dia menikah atas tuntutan keluarga memenuhi kewajiban bakti pada orang tua.

Saya bilang, rasa cinta kan bisa ditumbuhkan. Dia bilang tak bisa. Dia hendak meminta cerai lanjutnya, saya kaget. Dia hendak pergi jauh saja biar bisa melupakan semuanya. Saya bilang apakah hal ini sudah dia bicarakan dengan suaminya. Dia tidak menjawab. Komunikasi antara suami istri sangat penting saya lanjutkan kata-kata saya. Tapi dia tetap dengan keyakinannya untuk bercerai. Saya tegaskan lagi agar dia sebisa mungkin jangan bercerai. Lalu komunikasi kami terhenti disini.

Lalu, saya jadi membayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya berada pada posisi dia: menikah dengan orang yang tidak saya cintai? Apa saya tidak akan bahagia juga? Mungkin iya. Tapi, mungkin juga tidak. Setiap orang mempunyai parameter berbahagia yang berbeda. Bagi saya bahagia sederhana saja: berkecukupan secara lahir dan batin. Berkecukupan secara lahir lebih mudah dicari, tapi, berkecukupan secara batinlah yang kadang membuat banyak orang tak berbahagia.

Maka bila nanti istri saya mampu memberikan kecukupan batin ini, maka saya akan cukup bahagia. Soal cinta atau tidak cinta bisa saya kesampingkan terlebih dahulu. Cinta adalah urusan hati. Saat hati kita condong pada Allah, maka Allah pun akan menganugerahkan rasa cinta pada orang yang menyintaiNya.

Aku suka ketinggian. Karena dari ketinggian aku bisa melihat lebih banyak hal, hamparan yang lebih luas dan lebih jauh. Sebuah kepuasan.

Waktu kecil aku adalah pemanjat pohon ulung. Dari jambu sampai kelapa. Ujung dahan jamblang jadi saksi ketika aku bergelayutan mencapai tepi ranting yang penuh dengan gerembolan buah jamblang. Tetangga yang lewat jalan depan rumah, jadi saksi ketika aku bersandar nyaman di dahan pohon kecapi, mengulum buahnya sambil membaca buku sejarahku.

Ketika pohon-pohon itu tumbang – manusia semakin banyak, aku mulai naik pesawat (yang ini tak bisa dianggap serius). Mencapai ketinggian ribuan kilo, berjumpa awan-awan putih bergumpal-gumpal. Daratan serupa ladang hijau di depan halaman. Sementara lautan, sebiru langit.

Ketika tak lagi ada pesawat yang mau membawaku pergi, aku mulai mendaki daratan tertinggi: gunung. Mendaki berkilo-kilo hanya sekedar untuk menikmati sensasi ketinggian. Rasa capek selama mendaki terobati dengan kepuasan menatap langit lebih dekat.

Ah…, aku benar-benar suka ketinggian. Serasa lebih dekat dengan Tuhan. Kuharap ada kesempatan aku menikmati “buraq” menembus langit sampai lapis ke tujuh!

Tak lagi seperti, karena semua telah berlalu.

Apakah tak ingin atau tak perlu ingin?

Semuanya mungkin tak mudah, tapi , tak berarti menyerah. Kamuflase di depan mata tak selalu menyulitkan. Tapi, diri yang berkamuflase selalu tampak biasa.

Kadang terjebak bias. Tak bisa menentukkan pilihan. Pada diri yang mana akan berserah?

Selalu ada tempat kembali di salah satu ruang di hati. Hanya saja aku belum melihat jalan menuju ke sana. Hanya ada jalan untuk pergi!

Pagi ini tak ada jejak yang dapat kucium, semuanya hilang dengan cepat, mengantarku untuk menunduk malu, ah, diri ini masih hina.

Apakah bulan tak berpesan pada mentari tentang kejadian malam tadi? Ketika dengan sengaja, aku berdosa. Semoga tidak.

Malam tadi memang dingin dan aku hanya memanasi diriku dengan sedikit ingin, harapan kosong. Bukankah harapan bisa merentas asa, walau kosong sekalipun, kataku malam tadi pada diri. Tapi, apa gunanya, mengharap pada selainMu. Tidak, aku berharap padaMu untuk selainMu. Heh……

Berharap, panas mentari pagi ini membakar semua harapan kosong itu. Biarkan aku terbakar dalam mandi cahayaMu, bila memang aku bisa mendapatkan (cahayaMu).

What is this?

Bla…bla..bla…..

Ketika Flu mengganggu aku hanya mencoba tersenyum dan mendengar nasehatmu: ucaplah Alhamdulillah. Kepala bisa menjadi berat, sementara hidung tak lagi menghirup udara dengan 20 % oksigennya dengan cara biasa, sungguh menderita. Tapi, aku akan selalu turuti nasehatmu, tersenyum dan berucap Alhamdulillah.

 Ketika flu, seluruh sendi diterjang rasa sakit. Gigi-gigi menjadi linu. Kening panas. Tubuh demam kadang meriang. Mata mengantuk dan panas. Kedinginan. Kehausan. Dan cepat lapar. Saat seperti ini aku banyak makan. Minum berlebih dan meninggikan bantalku saat tidur. Dan tentu saja banyak istirahat dan menuruti nasehatmu: tersenyum dan berucap Alhamdulillah.

 Ketika kau flu, aku selalu mengganggu. Dengan ledekan menggodaku, berbicara dengan menutup hidung. Ketika kau flu, aku senang sekali melihat hidungmu yang memerah dan matamu yang berair.  Kacamatamu tak bisa menyembunyikan betapa matamu berkata: aku sungguh menderita. Dan dari mulutmu hanya terucap: alhamdulillah.

 Ketika kau mengucapkan kata ini – waktu itu, waktu kau flu – aku biasanya langsung diam dan berkata dalam hati, aku tak pernah salah telah jatuh cinta padamu. Aku tersenyum padamu dengan senyum terindah dan kau membalasnya dengan senyum yang lebih indah. Lalu mengerenyitkan keningmu, “ kenapa tersenyum seperti itu?”

 Ingin kujawab, karena aku sungguh mencintaimu tapi yang terjadi aku hanya tersenyum manis. Dan akhirnya kau tertawa, Okky lucu. Dan akupun tertawa. Kita tertawa dan aku bahagia.

 Diantara kita selalu terjadi saat-saat menyenangkan seperti itu. Saat dimana kita begitu dekat, begitu lekat. Saat hati kita begitu saling mengerti dan tak perlu lagi kata untuk saling mengungkap rasa. Saat kita, aku, paling bahagia.

 Apalah lagi yang menghalangi kita untuk selalu bersama. Waktu dan jarak tak lagi mampu memisahkan kita. Tapi, tidak dengan ketetapanNya. Kita telah jauh dalam jarak, tapi itu tak jadi masalah. Waktu memisahkan kita dalam jangka yang sangat jauh, tapi tak pernah jadi masalah. Tapi, tiba-tiba kau berhenti dan aku tak mengerti, kenapa? TakdirNya katamu.

 Takdir yang mana? Takdir yang kapan? Takdir apa?

 Bukan hal mudah bagiku untuk melupakanmu, tetapi, bila kau menemukan seorang sejati yang lebih baik, katakanlah. Aku akan mengalah dan mencintaimu tanpamu. Aku bisa, sangat bisa. Aku diciptakan dengan perasaan seperti ini, selalu siap untuk kecewa. Jangan pernah pedulikan deritamu tapi uruslah kebahagianmu. Bila kau ingin lupakan aku, lupakanlah.

 Biarlah aku disini mengemis cinta dari Tuhan kita.

 Dan kau, uruslah bahagiamu sendiri.

 Kenapa kita begitu cepat berbeda?

 Karena kita tak pernah sama!

 

Ketika flu menyerangku, aku sungguh mengingatmu. Dalam perasaan yang sungguh haru. Ingin aku menangis, bukan untukmu, untukku. Karena dengan bodoh telah mencintaimu dan menderita karenanya.

Ketika sekarang aku flu aku sungguh mengingatmu. Dalam perasaan bahagia ketika kau sebarkan berita, sungguh dirimu menderita karena cinta. Cintamu padaku yang tak kau temukan pada lelaki sejati manapun.

Cintaku unik. Cintamu spesifik.

Ketika pergantian hari menjadi hal yang biasa, tak ada lagikah rasa diantara kita. Aku sungguh telah mencintaimu dengan sepenuh hati. Menunggumu di tempat biasa dan kau tak pernah datang. Menjagamu ketika kau sendiri dalam kegalauan hidup. Bukankah telah kuberikan seluruh hidupku untukmu? Lalu kenapa kau masih tak peduli?

Apa tak lagi ada rasa dihatimu untukku, untuk sekedar peduli. Kau menjauh dan tak lagi memberiku kehangatan. Bukankah dulu kita selalu bersama. Menatap pergantian hari dengan penuh kehangatan. Kau peluk aku dalam kasihmu dan kita saling bercumbu dalam kemesraan cinta. Kita adalah satu yang tak terpisahkan. Atau kau (sudah) lupa?

Apakah sekedar lupa telah membuat kita berjarak?

Dulu, kita telah begitu dekat. Tak ada lagi yang bisa bedakan aku dan kamu. Kita benar-benar melekat.

Sudahlah. Lebih baik kita berpisah.

Memang bisa?

Bicara tentang sejarah, berarti bicara tentang objektivitas, tentu saja dalam konteks keilmuan. Tentang bagaimana sejarah bisa dihadirkan sebagai fakta-fakta yang saling terkait dan terlihat sebagai kebenaran, bukan sekedar berita yang selintas hilang digilas zaman.
Sejarah sekarang bisa bertahan dan sampai ke zaman kita, karena sejarah dituliskan. Mungkin semacam catatan sederhana dari seorang ilmuwan atau buku tebal riwayat penguasa, apapun itu, semuanya telah tertuang dalam bentuk tulisan. Yang lisan, yang tanda, yang logika semua dikumpul menjadi satu: tulisan.
Lalu apakah kita bisa mereduksi sejarah menjadi hanya sebatas tulisan?
Tentu tidak boleh. Sejarah ditulis sebagai sebuah kenangan yang akan diingat oleh generasi manusia selanjutnya, terus sampai akhir zaman. Sejarah ditulis sebagai sebuah peringatan, jangan mengulangi perbuatan ini di masa kini. Sejarah ditulis sebagai pelajaran, hikmah terdalam dari berbagai peradaban.
Lalu kenapa sejarah direkayasa?
Tanyalah penguasa, tanyalah pemilik modal, tanyalah media massa. Tapi, bila kau tanya Alquran, segalanya akan terang!
Mengenai sejarah OS, saya tak akan mengungkapkannya sebagai sejarah dalam konteks keilmuan. Saya tak akan bicara tentang keobjektifitasan, tapi betapa keegoan saya berkata, ini ceritaku, akulah yang menentukan bagian mana yang akan diceritakan dan bagian mana yang dirahasiakan. Apapun itu, saya akan mencoba sedikit mengerti, karena sejarah untuk dituliskan.

Saat kegalauan mengguncang hati, ingatlah Dia dihati. Tapi, dasar diri, dia berlari dan memuja hati. Padahal dia sedang galau, padahal dia sedang risau. Pemujaan hati terus berlanjut, membayangi mimpi dan meremas diri: melelahkannya dalam satu kelesuan yang sangat.
Lalu hembusan berita datang dari tempat yang menertawakan dirinya nirwana, dan semua dengan cepat terjadi. Mencari seseorang, gadis, yang begitu saja kunilai tangguh. Untuk membirikan tamparan pipi hati agar melihat lukanya sebagai semangat baru. Maka diutuslah tangan, menyampaikan pesan ini pada seorang gadis disana yang dinilai tangguh.
Dimulai dengan sedikit pujian, lalu ujian dan akhirnya: apakah benar aku mencintaimu, apapun itu tulislah surat tolak cinta untukku.Dengan keras. Sekejam-kejamnya surat penolakan cinta yang bisa kau buat.
Agar lucu dan menghentak, maka dicarilah sebuah nama, sebuah penyamaran yang pasti ketahuan. Kucari-cari nama itu, sampai hembusan angin menyampaikan: OIPIYAH SAFITRI. Perempuankah? Menghindari penolakan pertama: orangtua. Mana mungkin orangtua menolak surat dari seorang perempuan?
Lagipula OIPIYAH SAFITRI pun kusampaikan pula siapa dia. Lelaki tinggi kerempeng, hitam dan tak menarik. Pendiam dan penyendiri. Lalu adakah makna nama ini?
OIP: Okky Indra Putra
-iyah: merujuk pada sebuah dinasti yang akan kubangun.
Sa- : satu, dalam bahasa sunda.
Fitri: Suci, fitrah, asali.
Ah susunlah sendiri artinya. Tapi aku memaknainya sebagai kembalinya diriku pada keasalianku, kefitrahanku dalam satu babak mencekam, menegur iman.
Tanpa dinyana, OS telah menjelma menjadi impian. Sisi ideal yang berbicara tentang kesempurnaan seorang wanita, keparipurnaan manusia. Dan OS jadi mimpiku, melangit imaji dalam tataran arsyi. Dan OS berjarak dariku, seseorang yang kutunggu datang di suatu petang bawa pedang tusuk dan ambil hatiku, aku ada karena dirimu cinta. Lalu OS jadi bayangan, yang selalu menemaniku memandang dunia dengan rasa. Menemaniku berbincang disepi hati, menghibur diri dengan cerita-cerita indah tentang mati. Sampai suatu saat dia -OS, lelah menungguku dan aku lelah menunggu, sesuatu yang tak pernah terjadi tak bertemu tak akan terjadi dan semuanya kembali jadi mimpi.
Menjadi berjarak dan semakin jauh.
Jadilah mimpi.
Dan aku datang di setiap malammu, mengunjungimu dengan harum bunga-bungaan malam, dalam lelap, dalam gelap.
Begitulah.