Melampas Madah


Apakah arti pertemuan?

Saling melihat wajah bertukar sapa bertukar rasa.

Lalu saling menyelipkan bahagia di hati masing-masing.

Apakah arti perpisahan?

Saling menatap wajah bertukar sapa bertukar rasa untuk lama tak bertemu.

Lalu saling menyelipkan rindu di hati masing-masing.

Ibu,

Hatimu adalah bumi,

Yang menumbuhkanku dari benih usang, jadi tunas bermekaran.

Ibu,

Matamu adalah awan,

Yang menyimpan air dan menumpahkannya ketika kering hatiku.

Ibu,

Kabarmu adalah sunyi,

Yang derainya deritamu menungguku, untuk pergi!

Ibu,

Waktumu adalah fajar,

Yang terbit sebentar untuk membangunkanku dari malam.

Pagi ini kumulai perjalanan dengan menelepon seseorang, tentang rencana-rencana yang kami laksanakan bersama. Sementara itu matahari sudah mulai meninggi, naik seujung tombak. Aku berjalan sambil menelepon, sungguh korban teknologi. Saat berhenti – menelepon – sinar matahari semakin hangat. Pagi yang dingin menguap.

Hari yang cerah akan dimulai lagi. Matahari tak jumpa awan halangi sinarnya, maka terang benderanglah nanti siang, seperti kemarin. Yah, seperti kemarin. Ini Tubagus Ismail dan jalanan masih sepi. Angkot biru sekali lewat lalu mobil-mobil pribadi dan deru motor. Hari Minggu yang sepi. (more…)

Petang datang lalu cahaya terang. Kau rembulan yang purnama di hati. Terang sebagai bola besar di langit timur.

Aku di sini, di atas motor melaju kencang, memandangmu mesra. Sungguh indah cahayamu, kuning kemerahan temaram. Andai aku bawa tas, ingin kubilang, hentikan motor sebentar, kuambil kau dari langit, kumasukan ke tas, dan berbisik pelan: “Kau akan kujaga agar terus purnama.”

Berkelok-kelok jalan yang kulewati, lalu kulihat kau berpindah-pindah dari tenggara ke timur laut, tapi, tetap, selalu berada di depanku. Kupandang wajahmu dan damai hatiku. Biar itu bukan cahayamu kau tetap ayu, ah, sungguh syahdu.

Ketika ditanya seorang perempuan apakah aku mencintainya, segera saja timbul kebingungan dalam diriku. Apakah semua perasaan yang aku miliki pada perempuan itu adalah cinta? Lalu semuanya jadi rumit ketika ada perempuan lain yang bertanya hal yang sama. Lalu apa boleh aku mencintai mereka semua yang mencintai diriku? Walaupun pada akhirnya, aku hanya boleh memilih satu saja?

Sebuah jawaban mengejutkan tiba-tiba muncul, cintailah semua yang Allah cintai! Maka aku pun mencintai semua yang dapat dicintai, semuanya, secara setara. Mencintai jilbab-jilbab, mencintai pohon, matahari, angin, hujan, segala, setara. Maka mukaku akan berseri ketika melihat mereka, ah, aku cinta kalian, dan seperti setiap pecinta, selalu merasa bahagia ketika jumpa yang dicintanya.

Tapi, selalu saja ada yang lebih. Seperti aku lebih mencintai gerimis dibanding terik mentari, lebih mencintai pohon dibanding semak, lebih mencintai satu wanita dibanding lainnya. Dan hal ini sangat mengganggu. Jatuh cinta pada satu wanita membuat setengah akalku hilang. Hatiku bergolak, asmara, begitulah kata orang. Maka aku akan membunuhnya. Membuat semua cintaku kembali setara.

Tapi, aku tahu, Allah tak mencintai makhluk-Nya secara setara, tapi secara adil. Maka Allah memuliakan Rasulullah Muhammad dibanding Rasul-Rasul lainnya. Allah memuliakan orang mukmin atas orang-orang kafir. Allah meninggikan kedudukan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Maka aku pun mulai belajar mencintai makhluk-Nya secara berkeadilan.

Setelah merasakan semua cinta itu maka dapatlah aku melihat dengan lebih jelas. Dengan cinta seperti apa aku mencintai apa. Aku akan mencintai pohon seperti benih, bersembunyi di balik tanah lalu muncul malu-malu, menggeliat kemudian tumbuh tegak dengan sebuah senyuman. Aku akan mencintai matahari seperti api, hanya membakar apa yang bisa dibakar. Aku akan mencintai wanita seperti rahim, yang selalu terluka sampai benih tersemai didalamnya.

 Lalu tentang cinta manusia sendiri aku melihat ada beberapa jenis. Ada cinta garisah, cinta yang secara naluriah sudah ada sejak kita dilahirkan. Seperti cinta bayi pada ibu dan sebaliknya. Lalu cinta kedunian, cinta yang sangat dipengaruhi hawa nafsyu. Contohnya adalah ketika kita mencintai seseorang karena fisik (cantik, tampan, tinggi, putih, pirang, bermata biru, dll) dan tampilan luarnya (sifatnya baik, ramah, tegas, puitis, romantis, tegas, berwibawa, dll). Lalu ada cinta sanubari, cinta yang tak lagi dipengaruhi nafsyu, tapi, benar-benar lahir dari hati yang tulus, sanubari kita. Cinta keduniaan akan berubah menjadi cinta sanubari ketika kita mencintai seseorang bukan karena fisik dan tampilan luarnya, tapi, lebih karena misalnya tingkat keshalehan dan kemampuannya menentramkan jiwa kita (bukan malah membuat kita gelisah).

Lalu yang selanjutnya, cinta yang menurutku adalah cinta yang tertinggi, mahabbatullah. Cinta kepada Allah. Cinta yang terus-menerus harus dilatih sampai pada kepuasan tertinggi, fana. Semuanya tak ada, hanya Allah yang hadir dalam hati. Setelah ini tercapai, maka kita akan memandang dunia secara berbeda. Segalanya tak perlu kecuali yang Allah perintahkan. Semua nafsyu tak perlu, kecuali yang sekedar dibutuhkan. Lalu, menjelmalah cinta itu menjadi rahmatan lil alamin.

begitulah

Langit menghitam, matahari lama tenggelam. Bintang-bintang tak juga bermunculan, sedang rembulan malu sembunyi di hitam awan. Sepi saja, segala suara hilang bersama desir angin yang lamban. Keheningan tak pernah abadi, memang, hanya sebuah ruang kosong yang akan selalu terisi.

Malam menghitam, lalu bunyi sunyi. Hanya dingin dan desau angin. Rerumputan menghitam, kehilangan cahaya. Pepohonan jadi seonggok dinding bayang hitam batangnya saling menyatu sama hitam. Lalu semua hilang, tertelan gelap yang menyeruak.

Yang kurasa hanya aku, sedang lainnya hilang ditelan gelap. Mata tak lagi berguna, telinga hanya sunyi. Jadilah aku sendiri, berkawan dengan sejati diri.

Lalu malam jadi ramai. Suara hati berkicauan. Membumbung tinggi di benak, penuhi maksud dengan kehendak. Suara gempita tentang risau-galau mericau-mengacau. Sedang harap, berbisik pelan tentang masa depan. Segala rasa bergumul, merusak gelap dengan citra diri. Semua gambar dipasang, gambar yang lama mengendap di dasar pikiran. Lalu dimulailah, parade rasa yang usang terpendam. Gambar-gambar berkilatan saling bergantian. Memutar segala isi pikiran. Lalu gelap.

Aku terlelap.

Oh akulah yang

ingin menjadikan diri

pengemis di pintu kasihMu

Belajarlah dari bumi yang walau

oleh manusia dipaksa memuntah segala isinya tapi tetap memberi dan

eratlah dia memegang udara yang terus kita hirup

menyesakan paru lalu darinya lah hujan datang dan benih-benih tumbuh

iringi tumbuhnya dirimu.

Dan adalah diam dirimu semesta yang padam melintas

gelap bintang berderap

pelan hapus

diri!

Diri

hapus pelan

di derap bintang gelap

melintas padam dan semesta yang dirimu adalah diam!

Next Page »